Kakus

mirror... mirror on the wall
mirror… mirror on the wall

GEDEBUK! GEDEBUK!

“Minggir! Minggir!”

“Kejar dia!”

“Awas!”

GUBRAK!

“Hey! Daganganku!”

SYIUT!

“Cepat!”

CKLEK! KRIEEEET…

BRAK!

“Ke mana dia tadi?”

“Sial!”

“Goblok kalian!”

Hosh… hosh… hosh.

Nafas lelaki itu memburu. Badannya menegang, menempel pada pintu kayu yang dipunggunginya. Dadanya bergemuruh seperti gerombolan mustang yang sedang lomba maraton. Bukan “deg…deg…” lagi bunyinya. Sambil mengatur nafas, telinganya terpicing.

“Cepat cari! Dia pasti bersembunyi di sekitar sini!”

Berat dan garang. Laki-laki itu mencoba mengingat-ingat. Diantara tiga orang yang mengejarnya tadi, suara itu pasti milik laki-laki yang berkepala botak. Tanpa mengeluarkan suara saja Si Botak itu memang sudah terlihat garang. Tak salah lagi, itu pasti suaranya.

Nafasnya sudah mulai teratur, tapi tubuhnya tetap saja menegang. Di luar suasana masih gaduh. Beberapa pedagang terdengar menggerutu. Bunyi gedebrak-gedebruk kecil menandakan orang-orang itu masih mencarinya diantara kios-kios pedagang. Mereka pasti masih ada di sekitar sini.

Duh! Lelaki itu mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa tadi dia harus bersembunyi? Kenapa tidak berlari saja sekencang-kencangya. Kalau preman-preman itu masih terus mencarinya di sekitar sini, cepat atau lambat dia pasti ditemukan.

Lagipula, kenapa juga dia memilih tempat ini untuk bersembunyi? Sebuah kakus! Kakus pasar pula! Kenapa tidak di gudang penyimpanan, atau kios yang belum buka. Ah! Kau terlalu pilih-pilih! Memangnya orang yang sedang dikejar-kejar anak buah Bang Baron masih sempat pilih-pilih tempat bersembunyi? Sudah bisa bersembunyi dari mereka saja sudah bersyukur! Lelaki itu mencibir dirinya sendiri.

***

Tes… tes…

Suara air yang menetes teratur dari keran karatan di sampingnya membuatnya sedikit tenang. Otot-otot badannya mengendur, membuat badannya melorot dan terduduk. Kemeja kotak-kotaknya yang kumal menyentuh lantai kakus yang basah.

Pesing. Gelap. Hanya selingsir cahaya yang masuk dari lubang kecil di dinding kakus. Cahaya yang dipenuhi titik-titik debu. Suara riuh rendah di luar, entah kenapa menjauh dari telinganya.

Debu-debu kecil yang berterbangan dalam sinar yang memantul di dinding. Terlihat kontras dengan dinding kecoklatan yang sudah mengelupas dan menjamur di sana-sini. Tiba-tiba saja membuatnya ingat pada gubuk kecilnya di kampung. Yang dinding-dindingnya dari anyaman bambu. Yang berlubang-lubang kecil di tempat lembaran bambu itu bersilangan. Yang membuat cahaya bisa menerobos masuk ke rumahnya, meskipun hanya berupa titik-titik.

Bintik-bintik kecil cahaya yang biasanya jatuh di pipi keriput emak. Ah, emaknya. Sedang apa beliau sekarang? Masihkah terbungkuk-bungkuk saat berjalan. Masihkah sering terbatuk-batuk. Lama, tak lagi ia tanyakan kabar beliau.

Lalu bagaimana kabar perempuannya? Asih, yang penuh welas asih. Perempuan penyabar yang rela melepasnya merantau ke ibukota dan membesarkan putra mereka sendirian. Wajahnya pasti masih seayu dulu. Wajah bening dan cerah, yang selalu bisa menentramkan hatinya. Cantik yang tidak dibuat-buat.

“Sudah bisa apa anak kita sekarang, Asih?” hati lelaki itu berbisik, pilu.

Kalau Asih yang membesarkannya, anak itu sekarang pasti sudah pintar mengaji. Pasti sudah rajin dia melakukan sholat. Karena perempuannya yang lembut itu, bisa jadi sangat keras ketika mendidik anaknya agama. Jagoan kecilnya pasti sering terkena sabetan rotan kalau lalai melaksanakan kewajiban lima waktunya. Hati lelaki itu tiba-tiba seperti tertusuk sembilu.

Ah… apa yang akan dilakukan Asih kalau tahu apa yang dikerjakannya di ibukota. Pekerjaannya yang sebenarnya. Bukan kuli angkut kapal seperti yang dikatakannya pada istrinya itu. Pekerjaannya yang sebenarnya lebih melelahkan dari sekedar kuli angkut pasar. Karena dia harus selalu berlari.

***

Suara gedebuk-gedebuk gaduh kembali menyapa pendengarannya. Mereka sudah kembali. Jantung laki-laki itu mulai berpacu lagi. Kali ini dia merapat ke lubang kecil di dinding kakus, mencoba mengintip keluar.

Tak banyak yang bisa dilihatnya. Tapi beberapa pria berjaket kulit berwarna hitam yang berkelebat di depannya barusan sudah cukup membuatnya ketakutan lagi. Itu benar-benar mereka. Kali ini lebih banyak. Mati. Kali ini dia benar-benar akan mati kalau tertangkap.

“Duh, Gusti Allah….”

Lelaki itu mengaduh, tapi segera menutup mulutnya. Bukankah tak boleh menyebut nama Tuhan di dalam kamar mandi? Apalagi di dalam kakus pasar! Kerongkongannya tercekat.

“Kalau menyebut nama-Mu saja tak boleh, lalu bagaimana aku bisa berdoa supaya diselamatkan, Gusti?” batinnya getir.

Salahnya sendiri, memilih kakus sebagai tempat bersembunyi. Salahnya sendiri baru mau berdoa sekarang. Salahnya sendiri! Lelaki itu kembali merutuki dirinya. Ah, tapi mungkin saja ini memang sudah digariskan oleh Tuhannya. Bahwa dia memang harus mampus di dalam kakus.

Lelaki itu melihat tempat yang mungkin saja akan jadi tempat terakhir yang dilihatnya di dunia. Kakus, dengan porselennya yang kekuningan. Mengerak. Ada pembersih yang tergeletak di pojokannya. Ujungnya penuh benda-benda kuning yang sudah mengering. Hasil sisa produksi manusia. Airnya yang sedikit banger. Seperti air hujan dalam selokan depan kontrakannya yang tak pernah mengalir.

Dan coba lihat gayung merah yang warnanya sudah jadi kehijauan dipenuhi lumut. Langit-langit yang berubah fungsi jadi pemukiman laba-laba. Belum lagi sisa-sisa ludah di sekitar lubang kakus yang tak disiram oleh pengguna kakus sebelumnya. Laki-laki itu semakin nelangsa.

Apakah dia sehina itu, hingga Tuhan menakdirkannya untuk mati di tempat sekotor ini? Apa dosanya sudah sebegitu besar, hingga di saat-saat terakhirnya… sebelum nanti anak buah Bang Baron menangkapnya, dia bahkan tak sempat memohon ampun dan memohon pertolongan?

Bukannya tak sempat tapi tak boleh! Bagaimana caranya kalau tempat ini saja tak memperbolehkannya menyebut nama Tuhan? Bagaimana bisa memohon ampun tanpa menyebut nama Tuhannya? Bagaimana bisa dia merayu untuk memohon pertolongan tanpa memuji nama besar Tuhannya?

Ini sudah kiamat namanya. Laki-laki itu merasa sudah mati dan masuk neraka bahkan sebelum anak buah Bang Baron menangkap dan memotong-motong tubuhnya menjadi lima puluh bagian.

Padahal sebelumnya dia sudah akan berhenti dari pekerjaan haramnya itu. Bukan cuma sekedar niat, dia sudah mengatakannya pada Bang Baron. Itulah alasan dia dikejar-kejar oleh lelaki botak dan kawan-kawannya tadi. Karena bosnya tak ingin melepaskannya begitu saja. Karena dia sudah kadung nyemplung terlalu dalam.

Memang benar. Kalau sampai lelaki itu membuka mulutnya, semua kejahatan Bang Baron akan terbongkar. Bahkan tanpa gepokan daun ganja dan kardusan narkoba, polisi pasti langsung bisa meringkusnya. Karena lelaki itu sendiri adalah bukti hidup yang cukup. Karena dia, dengan tangannya sendiri, adalah kurir pengantar barang-barang haram milik Bang Baron ke pelanggan-pelanggannya.

Tapi sungguh, laki-laki itu tak akan membuka mulutnya sedikit pun jika memang tak diperbolehkan. Dia hanya ingin hidup dengan tenang. Hanya ingin dadanya lega setiap kali mengirim wesel untuk emak dan Asihnya di kampung. Tak dibayangi rasa takut dan perasaan bersalah, setiap kali memikirkan apa yang akan terjadi kalau keluarganya tahu. Kalau perempuannya yang lembut itu tahu. Tak dibayangi kekhawatiran, ketika membayangkan akan jadi apa jagoan kecilnya kelak, kalau dibesarkannya dengan uang haram.

Ah, dia memang sudah luput. Sudah salah. Mungkin sudah terlalu lama. Mati dalam kakus mungkin sebuah isyarat bahwa dia sudah terlambat untuk kembali. Sudah tak mungkin bertobat lagi.

“Benarkah? Sudah terlambatkah, Tuhanku?” batinnya merintih. “Tapi, ya sudahlah. Memang, apalagi yang bisa dilakukan pendosa pada keputusan Tuhannya Yang Maha Adil.”

BRAK! BRAK!

Dia mendengar suara-suara pintu kamar mandi dibuka paksa. Mereka ada di sini. Mereka akan segera menemukannya!

Keringat dingin lelaki itu mengalir turun ke pelipisnya.

“BUKA!”

Suara gahar itu terdengar lagi. Kali ini dengan gedoran keras di pintu kakus tempatnya bersembunyi. Laki-laki itu semakin ingin menangis. Tapi ditelannya lagi air mata sebelum keluar dari kerongkongannya menuju mata.

Tak apa. Dia sudah pasrah pada kehendak Tuhannya. Jika memang hidupnya harus berakhir di kakus ini. Tak apa. Paling tidak, itu berarti dia tak akan melakukan perbuatan dosa lagi. Tapi jika saja Tuhan mau memberinya kesempatan kedua.

Kesempatan. Sekali saja.

Dengan gemetar dibukanya pintu kakus. Di hadapannya sudah berdiri pria berkepala plontos dengan muka bengis. Seperti yang ada dalam bayangannya.

“Ampun Bang! Ampun!” Lelaki tadi mengiba sambil menutupi wajahnya.

“Ah! Ampun! Ampun!” bentak Si Botak, mencengkeram tangan lelaki itu. “Sini! Biar kulihat mukamu sebelum kuhabisi kau!” Tambahnya, mendongakkan kepala lelaki itu dengan paksa.

Si Botak tertegun sebentar.

Lelaki tadi ikut terdiam.

“Siapa kau ini, heh?” Si Botak itu terlihat heran. Tapi sejurus kemudian mukanya merah. Dengan geram dia menyentakkan tubuh lelaki itu ke tembok kakus. Lalu mengajak gerombolannya pergi.

Lelaki itu masih bergeming. Apa yang terjadi? Tadi itu benar-benar Si Botak, anak buah Bang Baron yang akan menangkapnya. Mana mungkin Si Botak itu tak mengenali wajahnya.

Dengan cepat dia mendekat ke cermin kecil yang menggantung di tembok luar kakus. Cermin buram itu memantulkan wajahnya. Walaupun tidak begitu jelas, tapi itu benar-benar wajahnya sendiri. Lalu kenapa mereka tak menangkapnya? Dalam keheranan dia mendengar desir hantinya sendiri berbisik.

“Kesempatan terakhir….”

Lelaki itu tergugu. Tatapannya terpaku pada kakus kotor di hadapannya. Kakus kotor yang sudah membersihkannya.

Dengan langkah lebar dan cepat, dia segera berjalan keluar pasar. Menuju terminal bus. Pulang. Menuju emak, istri, dan putra kecilnya. Menuju petak-petak tomat dan cabai merah yang akan digarapnya. Seperti dulu, dan kali ini untuk seumur hidupnya.

Lelaki itu terus berlari. Membiarkan tangisnya membanjir melewati tenggorokan.

***

April 27, 2013 from March ’12
#Tuhan ada, melihat, mendengar… beyond places

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s