Kau, Kami, Perjalanan Kita #1

Ketika kau melihat kami, mungkin kau adalah salah satu makhluk Tuhan yang memiliki keistimewaan. Kau bisa menemui kami-kami yang lain di mana saja. Tapi kami yang ini, hanya bisa kau temukan di stasiun kereta, atau di aliran besi rel kereta api yang tidak ada habisnya. Di persimpangan jalan yang memiliki palang pintu penjaga, tempat gerbong-gerbong kereta yang gagah melintas. Membuat kendaraan yang lain harus berhenti sejenak, mengalah. Di ‘pemukiman nekat’ yang sok akrab pada jalur kereta, tanpa peduli bahaya yang bisa datang kapan saja. Karena kami yang ini adalah kami yang mengawalmu dalam perjalanan.

Dengan memahami Bahasa Indonesia tingkat dasar, kau pasti sudah tahu bahwa kami adalah jamak. Kami tidak sendiri, meski seringkali kami tidak bersama, berpencar ke segala arah. Kau mungkin saja sering berpapasan dengan kami, hanya saja kau mungkin tidak menyadari. Tapi kami mungkin mengetahui wajahmu, dan mengingat setiap kali kau kembali ke jalur kereta api. Jalur perjalananmu, jalur tugas kami, jalur milik kita.

Tidak usah menebak siapa kami. Kami tidak punya nama. Juga tidak perlu nama. Kami memiliki tanggung jawab tanpa akhir, dan itu sudah cukup. Oh ya, kami juga punya cerita, banyak cerita. Salah satunya adalah tentang mereka.

***

“Ayoo… ayoo… cepat!!!” seru seorang anak laki-laki berpakaian lusuh pada temannya, sambil mengulurkan tangan. Temannya yang bertubuh kecil dengan sigap meraih lengannya, dan langsung naik ke atas gerbong. Bukan, bukan ke dalamnya, tapi ke ‘atas’nya. Yap, bagian atap gerbong.

Kami sudah sering melihat hal-hal seperti ini terjadi, dan seringkali tidak bisa berbuat apa-apa. Tugas kami hanya mengawal, bukan membantu, atau menyelamatkan, kecuali kami diperintahkan untuk itu. Jadi, ketika dua orang anak dekil itu berada di atap lokomotif, kami hanya duduk di sebelah mereka. Setelah mendapatkan tempat duduk yang lumayan aman di atap lokomotif, mereka berdua mulai bercakap-cakap.

“Untung masih bisa naik,” kata anak gundul yang hampir tertinggal kereta tadi.

“Kamu sih, nggak cepet-cepet.” Anak yang kurus dan keriting menjawab.

“Iya, maaf Kak. Tapi kenapa kita nggak naik di dalam aja sih?” tanya anak gundul lagi, yang ternyata adik dari anak kurus dan keriting itu. Si anak keriting menggeleng-geleng putus asa.

“Kan uangnya udah kita beliin obat buat bapak,” jawabnya sambil mengacungkan sebuah kresek putih. Anak gundul itu mengangguk-angguk.

“Yaaah, berarti udah nggak ada uang lagi buat nonton bola?”

“Hush! Apaan sih! Bapak sakit, kamu malah mikirin bola!” Anak keriting menghardik. “Tapi denger-denger di gerbong ini ada supporter bola yang mau nonton. Nanti kita ikut mereka aja, nerobos masuk ke stadion, hehehe…” jawab anak keriting sambil tertawa, menunjukkan giginya yang kuning. Si Gundul mengangguk-angguk, terlihat senang.

Sampai situ pembicaraan keduanya, ketika kami kemudian melihat sinyal berwarna merah di tepian rel kereta api. Di antara rumah-rumah nekat yang berdekatan dengan jalur kereta. Sinyal merah yang sangat besar. Sinyal kemarahan.

Ketika lokomotif melewati daerah itu, terdengar bunyi gemuruh suara manusia. Dari dalam kereta, supporter bola berkaos merah berteriak-teriak, menyanyi, mengibarkan bendera kebanggaan mereka. Sementara itu sinyal merah semakin kuat.

Lalu tiba-tiba muncul sekelompok besar orang. Dari lipatan rumah-rumah nekat, dari setiap sudut rumah. Ditangan mereka terdapat sedikitnya dua batu sekepalan tangan. Yang lain malah membawa parang dan kayu besar. Sekali lagi terdengar gemuruh yang luar biasa. Kali ini terdengar dari kumpulan orang-orang yang terlihat beringas di dekat jalur kereta. Mencaci, menghujat.

Sinyal berwarna kehitaman muncul, sangat besar, bahkan mengalahkan besarnya sinyal merah. Sinyal kehitaman yang memenuhi seluruh gerbong. Sinyal kematian. Kami mulai mengitari gerbong. Tidak ada perintah tambahan apapun. Berarti tugas kami tetap, hanya mengawal.

Tak lama kemudian, seperti dikomando, kumpulan orang beringas tadi menghujani gerbong dengan batu. Kalau saja kereta tidak berjalan dengan cepat, mereka mungkin sudah merayap mendekati kereta untuk menghajar orang-orang itu dari jarak dekat. Sebenarnya tidak begitu bermasalah bagi orang yang berada di dalam gerbong. Beberapa dari mereka terkena lemparan, beberapa bisa berlindung. Beberapa dari mereka luka ringan, beberapa pingsan, dan beberapa tidak tergores sedikit pun.

Setelah melewati daerah itu, semuanya kembali tenang. Sinyal merah tertinggal di rentetan rumah nekat di belakang. Dan sinyal hitam berangsur-angsur menghilang. Kecuali satu, sinyal hitam yang sangat pekat dari atap lokomotif.

Di atas sini, Si Keriting menangis tersedu. Kami tidak menyadarinya, karena sinyal hitam menyelimuti seluruh gerbong. Ternyata Si Gundul. Dia terlihat memejamkan mata, tapi kami yakin dia tidak tidur. Kepalanya bocor, cairan kental berwarna merah mengalir deras dari pelipisnya, mengalir terus sampai bahu, dan menetes ke paha Si Keriting yang memangku kepalanya.

Sementara air mata Si Keriting terus membanjir. Menetes di atas kepala adiknya yang penuh darah. Membuat aliran darah itu mengalir semakin deras, bercampur dengan air matanya. Satu tangannya memegangi kepala Si Gundul, sementara yang lainnya masih memegangi kresek berisi obat. Kepalanya penuh. Kami bisa melihat kilasan-kilasan memory dalam otaknya.

Pagi ketika dia memaksa Si Gundul untuk ikut bersamanya. Memaksanya padahal Si Gundul harus sekolah pagi itu. Menyudutkannya dengan dalih tidak saying pada bapak, padahal dia hanya takut pergi sendiri. Memaksa Si Gundul untuk naik di atap kereta. Si Keriting ingat di sakunya masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan. Seharusnya tadi dia membiarkan Si Gundul naik di dalam. Seharusnya tidak apa-apa merelakan mereka tidak makan malam, daripada Si Gundul celaka.

Seluruh pikirannya yang sia-sia. Si Keriting terus menangis di atap gerbong yang sepi. Hanya mereka berdua, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Atap gerbong yang lengang, tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan. Tangis Si Keriting semakin menjadi-jadi.

Kami melihat mereka, saling menggeleng satu sama lain. Tidak ada perintah untuk membantu. Kami hanya bisa mengawal mereka. Menuju stasiun berikutnya ke rumah bagi Si Keriting. Si Gundul yang lain melayang ke luar. Melihat dengan muka sedih ke arah kami. Untuk Si Gundul kami akan memberikan pengawalan khusus. Mengantarnya ke pemberhentian selanjutnya, menuju keabadian.

***

Yah, kadang aliran rel itu bisa membawamu ke tujuan, tapi di lain waktu, setapak besi dan batu itu juga bisa mengantarmu pada bencana. Apapun itu, kami akan selalu ada di sana, menemanimu. Menuju cinta atau bencana, kau sendiri yang putuskan.

— Silananda —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s