Untuk Ibu

“nak, sudah berapa perempuan yang terluka
tertusuk puisimu?” tanya ibu
kucium tangan ibu lalu kujawab:
“bukankah juga puisi yang selama ini
menampung air mata ibu. bukan ayah,
aku, atau siapa-siapa?”

“ibu menyayangimu, nak”
“maaf ibu, aku tak sebaik puisi menjagamu”

– pria iseng sendiri –
(26 Agustus 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s