Anak Bebek Terbang

Flying duck
Flying duck

Aku tak pernah tahu bahwa seekor bebek bisa terbang. Tidak sampai kakek menceritakannya padaku beberapa hari yang lalu. Sebuah dongeng tentang telur induk bebek yang menetas satu-satu. Tentang anak bebek bungsu yang terkucilkan. Anak bebek yang tak akan berubah jadi angsa.

Dalam cerita itu, induk bebek sedang bersuka cita karena telur-telurnya akan menetas. Tak sabaran, induk bebek mulai mondar-mandir. Pergi ke danau untuk mencari cacing, kemudian kembali lagi. Pergi ke danau lagi, dan kembali lagi ke sarangnya. Khawatir anak-anak bebeknya akan menetas ketika dia tak di sana.

Tapi untunglah, bayi-bayi bebek itu menetas di waktu yang tepat. Ketika melongokkan kepala ke luar telur, induk mereka ada di sana. Dengan semangat yang melonjak-lonjak, induk bebek menghitung anaknya.

Satu, dua, tiga… empat telur sudah menetas! Semuanya sehat dan serupa, meski yang terakhir tampaknya bertubuh lebih kecil dibanding saudara-saudaranya. Tak masalah, pikir induk bebek. Untuk yang satu itu, dia akan memberikan makanan ekstra, agar dia cepat besar seperti yang lainnya.

Sayangnya, meski si bungsu diberikan makanan dua atau tiga kali lebih banyak dibandingkan anak bebek lain, dia tetap saja kurus. Tubuh anak bebek bungsu ini sepertinya memang sudah dicetak untuk tetap kurus dan ramping. Tak ada yang bisa dilakukan hingga induk bebek akhirnya menyerah.

Aku tertawa ketika kakek menceritakan bagian ini. Selain karena ekspresi kakek yang lucu, aku juga merasa tersindir. Dia antara ketiga saudaraku, aku bertubuh paling kecil. Semua makanan yang kumasukkan dalam perut seolah tak berbekas. Entah, lemakku menempel di bagian mana. Mungkin juga langsung kukeluarkan bersama semua kotoran ke lubang kakus.

Aku tahu, kau pasti berpikir aku ini kena cacingan. Yang benar saja, Kawan… aku sudah minum obat cacing setiap tiga bulan sekali, rutin. Hasilnya? Nihil. Tampaknya, sama seperti anak bebek bungsu itu, tubuhku ditakdirkan kurus selamanya.

***

Apa kabar si anak bebek? Aku menanyakannya pada kakek, saat nyeri yang hebat kembali menyerang. Membuatku terjaga semalaman. Dengan senyumnya yang lucu, kakek menceritakan kelanjutan kisah si anak bebek bungsu.

Tahukah kau, sekarang si bebek bungsu sudah tumbuh besar. Tidak sebesar saudara-saudaranya, karena dia memang kurus kerempeng. Dan sayangnya, dia juga tak begitu bahagia.

Kenapa tak bahagia? Tanyaku pada kakek.

Karena tubuhnya yang berbeda membuatnya dijauhi oleh semua bebek, termasuk saudaranya. Masalahnya, tubuh bebek bungsu itu tak hanya kurus, bentuknya juga berbeda dari bebek-bebek di sekitarnya.

Kakek bilang, leher bebek bungsu lebih pendek. Sayapnya pun lebih tipis dan runcing. Tak hanya itu, paruh dan kakinya juga sewarna. Tak ada bebek yang seperti itu di sana. Leher mereka panjang-panjang, sayapnya tebal dan lebar. Ketika melihat si bebek bungsu, semua pasti berpikir: Bebek ini punya kelainan!

Aku melihat tubuhku sendiri. Lalu sederetan foto-foto yang kukenal. Dulunya.

Berbeda. Apakah semua orang yang terlahir berbeda pasti tidak bahagia? Seperti si bebek bungsu. Apakah aku juga akan seperti itu? Ada baiknya, besok kutanyakan pada kakekku.

***

Kakek meninggal pagi ini. Padahal dia belum menyelesaikan ceritanya tentang si bebek bungsu kemarin malam. Padahal dia belum mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang berkumpul di kepala. Yang menunggu dijawab, atau diusir dengan semena-mena.

Di tengah suasana duka, aku dibiarkan menyendiri di atap. Kakekku meninggal. Tapi yang ada di pikiranku adalah seekor anak bebek yang belum bisa terbang.

Ibuku datang, membawa sebuah buku tipis. Untukmu, katanya. Dari kakek. Seketika aku dibuat sumringah oleh gambar di sampulnya. Seekor bebek berleher pendek yang sedang terbang. Tak sabaran, kubuka lembaran buku itu satu persatu. Sementara ibuku beranjak pergi.

Aku sampai pada bagian ketika anak bebek duduk sendiri di tepi danau. Melihat saudaranya dan bebek-bebek lain bermain air. Dia tak ikut. Karena jika dia bergabung, gerombolan bebek itu akan semburat. Berpura-pura urusan mereka sudah selesai. Padahal sebenarnya mereka hanya menghindar, tak ingin bebek yang berbeda itu mendekat.

Semua orang di dekatku adalah bebek-bebek itu. Ketika aku datang dan ikut berkumpul dengan mereka, mereka pasti menghentikan pembicaraan. Meski tak benar-benar terlihat, tapi aku tahu mata mereka selalu menatap setiap inci badanku. Terutama bagian kaki. Tak ada yang terlewat.

Setelah itu mereka akan bicara dengan canggung. Mengganti topik pembicaraan. Memasang senyum yang dengan mudah mereka palsukan. Sepalsu paha dan tumitku. Mereka berbicara, seolah-olah aku diterima. Padahal nyatanya, selamanya aku pasti berada di luar lingkaran mereka.

Anak bebek malang. Kalau saja bisa kuelus kepalanya yang kurus, agar dia tenang.

Tapi tunggu. Ini belum berakhir. Saat anak bebek melihat saudara-saudaranya dengan tatapan kalut, badai besar datang. Semua anak bebek lari terbirit-birit. Mengayuh sayap-sayap mereka, di udara dan air. Mencoba menghindari rintik-rintik besar air hujan yang berkejaran dengan petir.

Anak bebek bungsu ikut panik. Saat saudaranya mendekat, dia ikut mengayuh sayapnya. Mengayuh dan terus mengayuh. Sayapnya dikepakkan, melahap udara. Kakinya mendorong, menjejak-jejak tanah. Dingin. Dia merasakan hembusan angin segar di bilah-bilah sayapnya.

Tak disadarinya, semua bebek berhenti dan melongo menatapnya. Hingga dia melihat ke bawah, dan tahu dia sudah tak lagi menginjak tanah. Si anak bebek bungsu terbang.

Dadaku ikut berdesir. Desiran yang tak kunjung hilang, hingga matahari melenggang pulang. Aku tak bisa tidur lagi. Rasa sakit yang biasa kurasakan setiap malam datang lagi. Tapi kali ini di punggung, bukan di kaki. Gatal dan nyeri, seperti ketika akan tumbuh gigi.

***

Mereka bilang aku mati. Bahkan ketika kematian kakek bahkan belum genap sehari. Ibuku tersedu. Ah, kenapa juga dia percaya omongan busuk orang-orang bertopeng itu. Bukankah kemarin malam sudah kutinggalkan surat yang menjelaskan kepergianku?

Sekarang aku sudah bebas Bu, begitu tulisku. Sekarang kau tak perlu lagi mendorong kursi rodaku. Tak usah lagi terpojok dan membisu ketika orang-orang mulai menusukkan tatapan aneh padamu.

Ketakutan di kepalamu itu, sekarang bisa kaubuang jauh. Anggapan bahwa kau membawa kutukan karena melahirkan anak sepertiku. Sekarang bisa kau hilangkan pikiran bodoh itu. Mulai sekarang tersenyumlah, Bu. Tegakkan kepalamu. Berbahagialah. Kau layak melanjutkan hidupmu.

Hmmm… tapi entah kenapa air mata ibu masih mengucur. Mungkin karena dia tak bisa mengerti tulisanku. Tak bisa membaca coretan kaki bebek itu. Ah, kalau saja dia bisa melihat. Aku sedang tertawa sekarang.

Aku sudah sembuh, karena sayapku sudah tumbuh.

***

#mengeringkan sayap yang mengerut karena hujan😦
Silananda – 19 September 2012

5 thoughts on “Anak Bebek Terbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s