Keinginan yang sederhana

Divorce

“Apa yang ibu inginkan dariku?”

“Sederhana saja, ibu hanya ingin melihatmu bahagia,” ibu tersenyum lembut. “Lalu, apa yang Kayla inginkan dari ibu?”

Aku tercenung sejenak. Melihat wajah ibu yang masih cantik meski usianya hampir empat puluh lima.

Seperti halnya permintaan orang tua yang sederhana, permintaan seorang anak kadang juga tak kalah sederhana.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Tak ada?”

Aku menggeleng lagi. Bukannya tak ada. Tapi permintaanku yang sangat sederhana ini sudah tak mungkin terkabul.

Aku hanya ingin melihat ibu dan ayah tersenyum satu sama lain. Saling memeluk. Rukun dan berbahagia.

Seminggu yang lalu, mereka bercerai. Tepat sehari, setelah usiaku genap 18 tahun.

***

Aku membaca surat-surat itu sekilas. Tak banyak yang perlu diperhatikan. Aku juga tak perlu terlalu waspada. Semua sudah dirundingkan dan diputuskan dengan baik. Pembagian harta gono-gini, surat tanah, surat rumah, hak asuh. Kami sudah sepakat. Alys akan tinggal bersamaku.

Srekk… Srekk… Aku membubuhkan tanda-tangan dengan cepat.

Menyandarkan punggungku ke kursi dan menghembuskan nafas panjang. Selesai sudah. Selanjutnya adalah mencari cara untuk memberitahu Alys.

“Bu Kayla, Alys datang,” suara Marissa, asistenku, sedikit membuatku terlonjak kaget.

“Suruh masuk,” jawabku singkat.

Tak berapa lama kemudian, seorang gadis berseragam putih biru masuk ke kantorku. Senyumnya yang selalu ceria dan tingkahnya yang lucu langsung menghilangkan gundah.

Alys segera merangkulku dan menggelendot manja. Seperti anak kecil saja, padahal usianya sudah terbilang remaja.

“Mama nggak lupa acara ulang tahunku kan?” tanyanya, masih merangkulku.

“Enggak lah, manis. Kamu mau hadiah apa dari Mama?” aku bertanya balik.

Mata Alys yang bulat bergerak-gerak. Terlihat sekali kalau dia sedang berpikir keras. Kali ini apa yang akan dimintanya? Boneka raksasa seperti ketika dia duduk di kelas 4 SD? Sepeda gunung? Aku menahan geli membayangkan apa yang mungkin diminta anak semata wayangku ini.

Alys tersenyum. Kepalanya ditempelkan pada pundakku. Pelukannya semakin erat.

“Sederhana saja, Alys pengen lihat Mama sama Papa tertawa. Seperti waktu kita bertiga jalan-jalan ke pantai beberapa tahun yang lalu. Tersenyum. Saling berpelukan. Alys ingin Mama dan Papa berbahagia,” bisiknya.

Kerongkonganku tercekat. Alys mengangkat kepalanya dan menatapku lekat-lekat. Pandanganku beralih pada meja yang penuh surat.

Surat perceraianku. Sudah ditandatangani, dan tersegel rapat-rapat.

***

NB (Nambah Bicara):
Tanpa disadari oleh orang tua, setidaknya ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka
Ketika mereka tertawa bersama, saling memeluk, bahkan bertengkar kecil-kecilan
Mata yang bersyukur, mata yang terharu
Mata seorang anak yang berbahagia

#keep hugging Mom, Dad! Even when I tease both you :p
Silananda – 26 September 2012

2 thoughts on “Keinginan yang sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s