Hutang Maaf

I'm sorry...
I’m sorry…

Kaki saya masih terpancang di depan pintu kedai bertuliskan “close.” Pukul sepuluh tepat. Asap berbau kopi samar-samar mampir ke hidung. Punggung saya masih hangat, begitu juga rambut kemerahan saya yang terikat. Masih berbau matahari. Tadinya mood saya sama cerahnya dengan mentari pagi. Tapi dalam hitungan detik sejak masuk ke kedia kopi ini, mood saya langsung berubah. Berawan, dengan kemungkinan hujan.

Bukan salah kedai kopi ini sebenarnya. Bukan juga karena waiter yang lupa bilang “Selamat datang” seperti yang dilakukannya setiap kali saya mampir. Tapi karena orang yang duduk di pojok ruangan. Iya, orang itu. Yang sedang asyik dengan biografi tebal dan secangkir kopi hitam yang saya yakin adalah Kopi Toraja Premium. Iya, dia. Yang memakai sweater hitam dengan potongan rambut jamur ala salah satu anggota band SMASH. Tiba-tiba saya jadi setengah geli. Rambut jamur ala SMASH??? Ternyata selera nyentriknya belum berubah juga.

Meski sedikit geli, cuaca hati saya belum berubah. Masih berawan. Masih ada kemungkinan hujan. Sebenarnya saya tak tahu harus bagaimana. Langsung duduk, memesan mocca latte favorit saya, dan pura-pura tak melihatnya? Atau langsung saja kabur dari sini? Atau…

Saya langsung berjalan ke tempat duduknya. Berdiri di depannya agak lama sampai dia sadar sedang diperhatikan.

“Re…” panggil saya. Dia mendongak dari balik buku biografi Kurt Cobain, “Heavier Than Heaven” dan melihat langsung ke mata saya. Entah pandangan macam apa itu, yang jelas dia tak mengatakan apa-apa.

“Maaf…” kata saya lagi. Sungguh, memang hanya satu kata itu yang selalu ingin saya ucapkan padanya.

“Mbak, mau pesan apa?” seorang waiter dengan gigi kelinci yang manis mengagetkan saya. Disambung dengan “mocca latte” yang saya ucapkan setengah sadar.

Saya melihat ke pojokan lagi. Pria berambut jamur itu masih di sana. Masih asyik dengan biografi vokalis favoritnya. Kopi Torajanya masih mengepul, belum tersentuh. Ya, semua hal tadi hanya drama yang ada di otak saya. Sampai kapan pun, mungkin saya tak akan bisa memohon maaf padanya. Tidak, selama saya masih jadi manusia yang terkotak-kotak.

Kenapa? Karena dia adalah pria yang bisa membuat hidup saya celaka, yang sudah menyihir saya hingga lengket padanya. Perilakunya yang sembarangan itu, suatu hari saya bisa mati karenanya. Dan kalau saya sudah mati, maka keyakinannya akan menyeret saya ke neraka. Iya, dia adalah pria semacam itu di mata orang-orang tersayang saya.

Di mata saya? Jangan tanyakan. Apa gunanya? Meski saya bilang dia adalah satu-satunya pria yang membuat saya nyaman menjadi diri saya. Pria bermulut lancang yang menelanjangi semua kekurangan saya tanpa esensi mencela. Pria yang ingin saya jadikan teman, walaupun dunia kami berkebalikan. Meski saya katakan semuanya, tak akan ada yang percaya.

Mata saya tak sengaja melirik jam. Rasanya sudah lama saya mematung di sini, tapi ternyata masih pukul sepuluh lebih lima. Saya tahu sekarang kenapa kitab suci mengatakan sehari di neraka terasa sama dengan lima puluh ribu tahun. Eh, itu kata kitab suci atau siapa ya? Ah, sudahlah… kita kembali pada pria jamur itu saja.

Sekali saja, kadang saya ingin melepaskan semua atribut saya. Kotak-kotak yang sudah mulai saya kenakan sejak lahir itu, ingin rasanya saya tinggalkan sejenak. Saya hanya ingin jadi saya. Sendiri, hanya bersama pikiran dan perasaan saya saja. Murni.

Saya ingin berdiri di hadapannya sebagai diri saya. Bukan sebagai anak ibu saya. Bukan sebagai orang yang terikat dengan aturan atau dogma. Hanya saya saja. Polosan. Lalu, saya akan mengulurkan tangan dan berkata: “Maaf.”

Maaf karena saya harus meninggalkanmu dengan alasan yang menyakitkan. Maaf saya harus membangun tembok raksasa ini, karena ada ibu yang berpikir kamu berbahaya dan bisa membunuh anaknya sewaktu-waktu. Maaf, karena hingga detik ini saya masih pengecut dan tak bisa bilang maaf.

Sayangnya, di dunia ini tak ada yang bisa datang sebagai manusia polosan. Setiap kali bertatap muka dengan seseorang, kita sudah terkotak-kotakkan. Bahkan hanya dengan melihat pakaian, orang pasti sudah punya segudang referensi tentang diri kita. Belum lagi jika kita bicara dengan logat. Belum lagi jika kita sebutkan asal universitas, jurusan, hobi, pekerjaan, prestasi. Jangan berharap jadi murni.

Saya melihat jam lagi. Sepuluh lewat sepuluh. Seorang barista tampan bermata sipit menyodorkan segelas mocca latte pada waiter. Kemudian waiter itu memberikannya pada saya, bersama selembar kecil bill.

Pria itu belum menyadari kedatangan saya. Syukurlah. Karena sebagai saya yang sekarang, saya tak tahu harus bagaimana. Saya masih belum bisa minta maaf. Saya ke kasir untuk membayar kopi, kemudian berjalan keluar. Sebelum menutup pintu kedai, saya meluangkan beberapa detik untuk meliriknya.

Mungkin di kehidupan lain, bisik saya. Kalau kita diijinkan bertemu, murni hanya sebagai manusia, saya akan bilang maaf. Dan kamu boleh menampar saya. Atau memukul, atau menendang pantat. Apa saja demi membayar sakit hati yang saya buat.

Dalam hati saya berdoa semoga tak perlu bertemu dia lagi. Saya takut drama di atas akan terulang untuk kedua kali. Saya berjalan cepat. Sambil menyeruput kopi yang saya pesan setengah sadar tadi. Panas. Pahit. Sepahit perasaan saya pagi ini. Tapi lebih pahit lagi muka bos saya, kalau setengah sebelas saya belum ada di hadapannya. Langkah saya semakin cepat. Dua puluh menit lagi. Saya pasti terlambat.

#manusia polosan, sounds good…

2 thoughts on “Hutang Maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s