Ludruk, masihkah jadi seni rakyat?

“Wah, ada ludruk Kartolo? Aku ikut ya?”

Begitu kata nenek saya dengan antusias ketika tahu saya mau melihat acara ludruk di Pendopo Kabupaten Malang, kemarin malam. Terlihat jelas, nenek saya sangat ingin sekali melihat ludruk. Maklum, ludruk memang sudah jarang ada. Lagian, bagi orang-orang zaman dulu (kayak nenek saya), melihat Kartolo tokoh ludruk yang sudah terkenal itu, pasti berharga banget.

Oh ya… ada yang belum kenal ludruk? Kenalan dulu deh…

Ludruk adalah seni drama pementasan tradisional di Jawa Timur.  Bentuknya seperti drama sehari-hari, bukan seperti ketoprak atau wayang orang yang memakai baju tradisional.  Ludruk biasanya diawali dengan Tari Remo, kemudian dilanjutkan dengan drama yang diiringi musik karawitan dan penyanyi sinden.

Di masa lalu, ludruk jadi kesenian rakyat. Dimainkan oleh rakyat untuk ditonton oleh masyarakat. Ludruk sebelum zaman kemerdekaan seringkali menampilkan lakon mengenai perjuangan melawan penjajah. Setelah kemerdekaan, ludruk sering menceritakan napak tilas perjuangan para pahlawan. Misalkan saja perjuangan Sakerah dari Madura. Tentu saja, diiringi dengan banyolan dan lagu-lagu parikan.

Entah sejak kapan, tiba-tiba saja kesenian tradisional ini surut pamornya. Entak juga karena alasan apa. Mungkin dengan mulai bermunculannya stasiun televisi, dan banyaknya sinetron yang bisa dilihat orang di rumah.

Tapi aneh juga ya, masa’ sinetron disamakan dengan ludruk. Sudah jelas-jelas beda jauh. Dalam ludruk itu, selain drama juga diikuti dengan parikan dan tembang. Nah, seniman ludruk tak hanya harus mahir berlakon, tetapi juga harus mahir mengarang parikan atau tembang yang berkaitan dengan cerita.

Anyway, saya ingat… dulu itu kalau nenek atau kakek ngajak saya lihat ludruk (dulu sih di Balai Desa atau kalau lagi ada 17 Agustusan :p) rasanya semua orang dari berbagai desa berkumpul. Tumplek blek jadi satu. Ada yang berdiri, lesehan, bawa kacang, bawa kopi, bawa rokok (ini piknik apa nonton ludruk sih, hehe). Intinya ludruk dinikmati oleh semua orang, dari kalangan menengah, bawah, atas… (ya walaupun kalangan atas seperti Pak Lurah, Pak Camat, dan lainnya biasanya dapat kursi yang bagus di depan).

Ludruk dalam benak saya adalah seni rakyat yang merakyat. Bisa dijangkau oleh masyarakat.

Tapi, acara ludruk kemarin malam itu, yang menampilkan Cak Kartolo dan kelompok Ludruk Tjap Jempol, tiba-tiba memaksa saya berpikir ulang: “Benarkah Ludruk masih jadi seni milik rakyat?”

FYI, ketika melihat spanduknya yang bertuliskan: “Saksikan… GRATIS! Dialog Interaktif Melalui Pertunjukan Kesenian Rakyat Ludruk. Menampilkan Kartolo cs.” yang ada di benak saya adalah acara ludruk yang seringkali di gelar di desa saya dulu itu. Ketika masyarakat tumpah ruah, menyatu, bersama-sama menikmati hiburan yang merakyat.

Sayangnya, ketika saya sampai di Pendopo Kabupaten Malang, dan acaranya ludruknya sudah mau mulai, saya harus menelan kekecewaan. Bagaimana tidak? Ternyata acara ini bukan untuk umum, melainkan hanya kalangan terbatas. Di depan panggung sudah ada kursi-kursi yang demikian rapi, lengkap dengan kotakan kue bagi para ‘undangan’.

Yap, undangan. Mereka yang datang adalah kalangan tertentu yang sengaja diundang. Lalu, pertanyaan pertama saya adalah: “Kenapa di spanduk itu tak ada keterangan bahwa acara ini hanya untuk undangan?”, “Kenapa harus ditulis “Saksikan… GRATIS!”, kenapa harus bilang “Pertunjukan Kesenian Rakyat?”

Kenapa? Kenapa? (bisa jadi lagu baru, nyaingin “Di mana? Di mana?”-nya Ayu Ting Ting😄

Tulisan-tulisan di atas pasti akan mengundang masyarakat pecinta ludruk sejati (seperti nenek saya) untuk datang. Yang saya yakini, mereka juga pasti membayangkan ludruk yang sama dengan yang ada di pikiran saya. Beberapa mungkin sama kecewanya dengan saya ketika tahu ternyata acara itu hanya untuk kalangan terbatas. Ketika acara dimulai, pintu pendopo ditutup, rapat.

Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang tak berkursi? Mereka ada di sini…

Penonton ludruk yang berdiri di luar pendopo

Di sini…

Penonton Ludruk 2Penonton ludruk yang melihat dari sisi samping pendopo

Dan, di sini…

Penonton Ludruk 3Penonton ludruk yang ‘melihat’ dari taman pendopo

Di foto terakhir, si bapak bahkan nggak bisa melihat Kartolo cs atau ludruk yang sedang tampil. Beliau cuma mendengarkan suaranya. Itu pun, si bapak sudah bisa tertawa dan tersenyum mendengar banyolan Kartolo. Miris nggak sih?

Mungkin kalian akan bilang saya lebay… tapi saya inget nenek di rumah. Apa jadinya kalau beliau, dengan semangat ’45 ikut saya lihat ludruk, kemudian hanya bisa ‘ngemper’ di taman, mendengarkan suaranya Kartolo, pemain ludruk favoritnya.

Kalau berdasarkan keterangan Cak Kartolo sih, memang nggak semua orang bisa ‘nanggap’ (menyewa) ludruk. Karena ludruk harus disewa secara berkelompok, yang jumlahnya sekitar 50 orang. Nah, nggak semua orang punya uang untuk menyewa rombongan ludruk kan?

Melihat keadaan dan fakta di atas, wajar dong kalau saya jadi berpikir lagi. Benarkah ludruk masih jadi seni rakyat? Seni milik rakyat? Kalau kenyataannya, rakyat sekarang tak bisa menikmati ludruk seperti dulu. Memang, acara kemarin juga disiarkan di televisi lokal Malang, Batu TV, sehingga nenek saya juga bisa nonton di rumah. Tapi tetap saja… suasana ‘merakyat’ yang dulu sering saya rasakan ketika melihat ludruk itu, kemungkinan akan sulit dialami lagi di masa mendatang.

Saya berubah pikiran. Ludruk adalah seni rakyat yang sudah tak terjangkau oleh rakyat.

Sekarang setiap kali membicarakan ludruk, mungkin yang ada di benak saya adalah para pimpinan daerah yang duduk di kursi dan seorang kakek yang ‘ngemper’ di depan taman pendopo. Sementara Cak Kartolo  sedang melawak di atas panggung.

#untung nenek saya nggak jadi ikut

One thought on “Ludruk, masihkah jadi seni rakyat?

  1. I was more than happy to discover this great site.
    I wanted to thank you for ones time for this particularly wonderful read!!
    I definitely loved every little bit of it and I have you book marked to see new stuff
    in your website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s