The Blind Owl

owl eye
owl eye

“Lama sekali datangmu… aku sudah bertemu dengan temanmu yang lain.”

Kau datang sekonyong-konyong. Tiba-tiba saja ada di bagian pinggir kasurku yang memang kosong. Wajah khas Eropa dengan kacamata berbingkai bulat. Persis sama dengan wajah dalam buku yang sedang kubaca: The Blind Owl karangan Sadeq Hedayat.

“Maaf, menyesal juga saya tidak menemukan buku ini sejak lama,” jawabku, sengaja menggunakan kata ‘saya’ untuk berbicara denganmu. Tak ada maksud menjilat, tak ada gunanya menjilat orang yang sudah wafat, hanya menunjukkan kesopanan dan sedikit martabat.

Setelah itu kau hanya terdiam, memandangi tembok kamar. Entah apa menariknya. Tak kuhiraukan, karena aku kembali menunduk, melanjutkan bacaanku. Mmm… lebih tepatnya, lanjut menenggak racun serupa untaian huruf-huruf itu.

Lama… lama sekali kupahami apa isi tulisanmu. Hingga akhirnya kubolak-balik buku itu, tak fokus. Persis orang yang menelan sekilo cabe rawit. Setengah bingung, setengah lingung, mencari segalon air untuk diminum. Sekilas kulihat bibirmu tertarik, menyungging. Hampir saja aku memaki.

Tak masuk akal bukumu ini! Kau bicara tentang sepasang mata bidadari surga yang menyerupa lubang hitam. Menyedotmu ke jurang putus asa, kepedihan, berjuta-juta tahun air mata dan lara yang tertahan. Padahal bukumu ini! Ya, buku yang kau tulis ini! Tak ubahnya lubang hitam yang menyedot kebahagiaan pembacanya.

Sejak paragraf awal membacanya, apa kau pernah melihatku tersenyum? Yang ada keningku berkerut-kerut, bibirku mengerucut, dan mataku seperti terpaku pada tiap huruf yang sudah kau susun. Otak? Jangan tanyakan otakku. Apa kau pernah melihat pemadaman bergilir di desaku? Seperti itulah rupa otakku sekarang. Hitam. Sunyi. Kelam. Berlendir. Sama seperti isi bukumu!

Melihatku setengah kalap, kau malah tersenyum. “Jangan terlalu cepat kau habiskan buku itu… nikmati saja perlahan.”

Aku tak habis pikir. Apa bedanya? Buku ini racun. Diselesaikan cepat atau lambat, pada akhirnya sama-sama membunuhku. Kau seperti menawarkan racun tikus dan sekilo ganja di hadapanku. Mau mati cepat? Pilih racun tikus. Mau perlahan-lahan? Silahkan merokok ganja hingga tubuhmu merenta dan jiwamu susah payah meregang nyawa. Kupilih cara matiku sendiri.

Nah kan, belum genap dua malam aku bercengkrama dengan buku ini, kepalaku sudah dipenuhi kematian. Aku jadi penasaran… ketika menulisnya, apa kau berencana membuat pembacamu gila?

Yah, setidaknya aku bisa menemukan satu hal penting di bait-bait awal tulisanmu. Hal yang tak pernah ada dalam tulisanku. Perasaan.

Coba lihat bukumu ini… sulit mengatakan kau tak menulisnya dengan perasaan. Sementara tiap lembarnya dipenuhi darah hitam kental. Kau pasti tekun menggurat nadi dan menyulingnya ke botol tinta. Di beberapa halaman lain, darah yang mengering terlihat muncrat ke banyak tempat. Tampaknya tak hanya kausadap, darahmu juga kau cipratkan sembarangan.

Melihatnya, aku tak heran kenapa kau tak bisa membuat karya seindah The Blind Owl lagi. Karena darahmu sudah habis, Tuan. Nadimu sudah kering. Dan semuanya telah terinvestasikan di buku ini.

“Jiwamu itu gelap. Sama gelapnya dengan tulisanmu,” tuduhmu. Mungkin diam-diam kau sudah sering membaca hasil tulisanku yang suram. “Aku paling bisa mengenali jiwa yang suram.” Tiba-tiba aku teringat Rumplestiltskin dan Edgar Allan Poe.

“Hey, maaf saja… saya tak seperti Anda atau mereka,” kataku ketus. Kepalaku menunduk lagi, menekuri bukumu.

Rencanaku, akan kunikmati tiap halaman buku ini perlahan-lahan. Tak akan kuselesaikan, karena takut nyawaku akan dibawa melayang oleh huruf ‘u’ di akhir halaman. Rencanaku, kita masih bisa bertemu setiap malam.

“Saya akan belajar. Bukan untuk mati. Hanya untuk mengemas perasaan dalam isi.”

Besok-besok, mungkin kau akan kuberondong pertanyaan. Tentang bidadari iblis itu, pengasuhmu, dan kakek tua yang ada di luar jendela kamarmu. Lusa, mungkin giliran kematianmu yang akan kuburu.

#pagi muram bersama burung hantu yang buta *kesalahan besar*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s