Crash: A Movie About Stereotype and Prejudice

Warning: This review contain lots of spoiler

CRASH Movie 2004

“It’s the sense of touch. In L.A, nobody touches you. We’re always behind this metal and glass. I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just so we can feel something. ” (Graham)

What a film…
Akhirnya nonton film ini lagi, terakhir kali kayaknya tahun 2008, waktu itu ada tugas analisis film ini untuk mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya. CRASH, sebuah film di tahun 2004 produksi Lion Gate Film, yang disutradarai Paul Haggis. Film yang cukup intens ini berhasil masuk dalam beberapa awards, di antaranya: Best Film Editing, Best Screenplay, Best Picture Oscar, dan Best Supporting Actor (Matt Dilon sebagai Officer Ryan).

So, what is this movie about?
IMHO, ini adalah film terbaik jika ingin belajar tentang ‘communication crash’. I mean about the stereotyping, prejudice, dan kesalahan atribusi. Film lain yang saya rekomendasikan adalah Babel (mungkin nanti saya review, itu juga pernah jadi tugas kuliah saya, haha :p).

Dengan sebuah tabrakan sebagai pembuka yang sempurna untuk film berjudul “CRASH,” film ini memberikan beberapa pelajaran mengenai hal-hal berikut ini.

#Case 1: Stereotype

Stereotype berasal dari buku Public Opinion Walter Lippman (pertama kali terbit tahun 1992) yang berarti “pictures in our head”. Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mendefinisikan stereotype sebagai persepsi atau kepercayaan yang kita anut mengenai kelompok-kelompok atau individu-individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk. (Deddy Mulyana, 2005: 218).

Menurut saya, dalam film “CRASH” tersebut diperlihatkan banyak sekali stereotip. Dari awal film, yaitu ketika Kim Lee, perempuan Asia (Korea) ditabrak oleh Detektif Maria yang terlihat seperti orang Meksiko (padahal tidak) dan mengatakan: “Orang Meksiko tidak bisa menyetir.”

Stereotype juga terlihat ketika dua pemuda kulit hitam ketika keluar dari restoran dan mengatakan: “Orang Negro tidak suka memberi tip”. Secara tidak langsung, diperlihatkan adanya stereotype bahwa orang kulit hitam selalu berurusan dengan kriminalitas. Meski begitu, dalam film tersebut juga ditunjukkan bahwa tidak semua kulit hitam adalah pelaku kriminal, atau orang rendahan. Misalkan Graham (Detektif kepolisian), Shaniqua Johnson (Pengawas pada suatu lembaga kesehatan), dan kepala kepolisian tempat Ryan dan Tommy bekerja.

Stereotype bisa berdampak sangat buruk ketika menjelma menjadi tindakan. Hal ini diperlihatkan ketika sekelompok orang merusak toko milik Farhad Gozalri, karena mereka mengira bahwa pemilik toko tersebut adalah orang Arab. Dalam melakukan hal tersebut, kelompok perusak itu telah melakukan dua kesalahan. Yang pertama adalah dengan menstereotipkan bahwa semua orang yang berbahasa arab, dan berciri-ciri fisik seperti orang Arab adalah orang Arab, padahal banyak negara lain yang juga menggunakan bahasa Arab dan bukan bangsa Arab. Dan yang kedua adalah stereotype bahwa semua orang Arab adalah teroris. Sehingga terjadilah perusakan tersebut.

“They think we’re Arab. When did Persian become Arab?” (Shereen, istri Farhad)

#Case 2: Kesalahan atribusi

Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya mengamati penampilan fisik mereka, karena faktor-faktor usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka. (Deddy Mulyana, 2005: 211).

Dalam film “CRASH” kesalahan atribusi digambarkan ketika Jane (yang diperankan oleh Sandra Bullock) mencurigai laki-laki yang membetulkan kunci rumahnya karena pria tersebut memiliki tato, berkepala gundul, dan memiliki wajah yang tidak simpatik. Dalam hal ini, Jane telah melakukan kesalahan atribusi karena melihat penampilan fisik Si Tukang Kunci dan menyimpulkan bahwa orang tersebut adalah anggota gangster yang berkomplot untuk menerobos dan merampok rumahnya. Padahal sebenarnya Si Tukang Kunci bukanlah anggota gangster manapun, dan bahkan telah memiliki keluarga dan sangat penyayang pada anaknya.

Selain itu, kesalahan juga dilakukan oleh Tommy (polisi rekan Ryan) kepada salah satu pemuda kulit hitam. Ketika sekilas melihat pakaian dan dandanan pemuda tersebut, Tommy menyangka bahwa pemuda tersebut akan berbuat jahat dan merupakan seorang berandalan.

“The guy in there with the shaved head, the pants around his ass, the prison tattoos.
Now I am telling you, your amigo in there is gonna sell our key to one of his homies. ” (Jean)

#Case 3: Prejudice

Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip (Deddy Mulyana: 2005: 223). Seringkali pula stereotype diidentikkan dengan prasangka. Berdasarkan keterangan dari beberapa buku yang saya baca, saya mendapatkan kesimpulan bahwa stereotype adalah hal yang terdapat dalam tataran mental, dan citra yang terdapat dalam pikiran kita, sedangkan prasangka lebih tertuju pada perilaku dan lebih mudah diamati dan dilihat.

Prasangka yang bersifat negatif dapat berakibat sangat buruk, seperti yang telah digambarkan dalam film “CRASH” dengan kematian salah seorang pemuda kulit hitam. Dalam film tersebut, setelah Tommy melakukan kesalahan atribusi, maka dia memiliki prasangka yang buruk ketika pemuda kulit hitam tersebut akan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Namun karena adanya kesalahan atribusi dan prasangka dalam diri Tommy maka terjadilah pembunuhan yang sebenarnya tidak harus terjadi.

“What have you got? Dead kid. ” (Detective Graham to Detective Carr)

Merasa familiar dengan masalah-masalah di atas?

Tanpa sadar, kita sebagai manusia sering melakukan hal-hal di atas. Di Indonesia, tak jarang kita temui sterotype yang mengacu pada ras-ras tertentu. Misalkan China yang pelit, orang Batak yang kasar, orang Sunda yang pemalas, orang Jawa yang tak berani merantau, dan sebagainya.

Anggapan-anggapan yang terlihat remeh semacam ini lalu mengendap di kepala kita. Menjamur, mengerak, dan tanpa sadar meracuni setiap pemikiran kita. Membangun gambaran tertentu yang kita percayai. Yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan dan cara pandang kita.

Watch this film! Kemudian renungkan… After I watch this film untuk entah ke berapa kalinya kemarin, I promise myself… ya, setidaknya mencoba… untuk membersihkan kerak-kerak stereotype yang mungkin sudah sangat menempel di otak saya. Lain kali, jika ada masalah… semoga kita bisa lebih objektif. Tanpa mengait-ngaitkan atribusi. Tanpa mengait-ngaitkan dengan prasangka dan stereotype.

Saya akan menutup review yang sudah terlalu panjang ini dengan percakapan Daniel (Si Tukang Kunci) dengan anaknya, Lara.

“How far can a bullet go?”
“They go pretty far, but they usually stuck in something and stop.”
(CRASH – 2004)

#That’s a bullet my Dearie… stereotype and prejudice are worse
they go far enough, and when they stuck in your head, they can go even further.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s