Kupu-kupu Coklat

Meadow Brown Butterfly
Meadow Brown Butterfly

Jika ada yang harus dijadikan kambing hitam atas masa depan kedua gadis itu, mungkin yang paling baik adalah crayon warna coklat yang digoreskan Kantil pada warna kupu-kupunya. Tapi gadis itu, yang saat itu baru berusia hampir lima tahun, tak tahu bahwa hal sepele seperti memilih warna coklat begitu penting sampai bisa mempengaruhi masa depannya.

“Liana, coba lihat gambaranku!” Begitu serunya dengan riang pada sahabat masa kecilnya.

Sahabatnya yang dikenal sebagai anak gopok[1] itu segera mendekat. Dengan seksama, dan sesekali mengusap ingus dengan punggung tangannya, Liana melihat gambar Kantil. Gambar dua hewan yang bentuknya sama. Kupu-kupu. Salah satunya berwarna merah menyala, yang satunya berwarna coklat.

“Jangan usap ingus dengan tanganmu, jorok sekali!” hardik Kantil. Dengan cekatan, seperti seorang kakak, dia segera menarik baju Liana. Dia membalik baju itu sehingga bagian dalamnya menghadap ke luar, dan menyeka hidung Liana yang dipenuhi lendir setengah kering. “Lain kali bawalah saputangan.” Tambahnya.

Liana mengangguk-angguk saja. Dia masih sangat tertarik dengan gambar kupu-kupu yang dibuat sahabatnya itu. Kantil semakin senang melihat Liana yang antusias, walaupun ekspresinya tetap sama, kosong.

“Kau lihat kupu-kupu yang merah?” tanyanya. Liana mengangguk. “Itu kau.” Jelas Kantil, membuat Liana menoleh padanya sambil melebarkan kelopak matanya. Kantil tahu, itu isyarat sahabatnya ketika dia terkagum-kagum. Jadi dia mengangguk-angguk sambil memperlihatkan deretan gigi putih dan kecilnya yang tertata rapi.

“Nah, kupu-kupu yang coklat ini adalah aku.” Katanya lagi, semakin bersemangat. Liana melihat kedua kupu-kupu itu. Terkagum-kagum dan tersanjung, karena di matanya kupu-kupu merah itu terlihat indah dan mempesona. Dan Kantil menyamakan kupu-kupu yang cantik itu dengannya! Tapi sejurus kemudian dia melihat kupu-kupu satunya dengan tatapan aneh.

“Kenapa kau berwarna coklat?” tanyanya. Pertanyaan wajar yang tak terpikirkan oleh Kantil.

Alis Kantil yang tebal dan runcing itu membentuk huruf V lebar di dahinya. Kenapa dia memberi warna coklat untuk gambar kupu-kupunya? Apa yang dipikirkannya ketika mengambil warna coklat tadi? Kantil akhirnya hanya mengangkat bahu.

“Tidak tahu.” Jawabnya singkat. Setelah itu mereka tak pernah lagi memikirkan warna coklat pada kupu-kupu Kantil.

***

“Kau sudah dengar gosip terbaru?” Narti mencolek bahu Kantil. Yang dicolek cuma memandangnya sekilas. Kantil sedang sibuk merias wajahnya di depan kaca. Tak habis akal melihat reaksi Kantil yang dingin, Narti mendekat dan berbisik: “Ini tentang Liana.”

Kantil mengentikan gerakan meriasnya. Tangan kanannya yang memegang lipstik mengambang di udara. Liana katanya? Kantil menoleh pada Narti yang senyam-senyum.

“Aku dengar Liana sudah pulang tadi pagi.” Kata Narti. “Kau tak ingin melihatnya?”

Wajah Kantil masih kosong, ekspresinya tidak jelas. Bertemu Liana… apa harus?

“Hey! Kok bengong?” kata Narti, mengambil tempat duduk meja rias di sebelahnya. Kantil bergeming. Matanya melihat kaca besar di hadapannya tanpa berkedip. Seolah-olah malam ini adalah pertama kalinya dia melihat wajahnya sendiri.

Tidak. Sepertinya tak perlu menemui Liana.

Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ketika sejurus kemudian gerakan tangannya dihentikan oleh ibunya.

“Ngapain sih kamu ini? Daritadi garuk-garuk terus!”

Gadis tadi hanya meringis. Memang begitulah kebiasaannya sejak kecil kalau sedang gugup. Kebiasaan itu saja yang masih awet di antara semua hal yang sudah banyak berubah dari dirinya.

“Jaga kelakuanmu! Sudah jadi dokter masih seperti anak kecil. Mana ada pasien yang percaya kalau tingkahmu seperti itu!” Ibunya masih nyerocos. Kebiasaan ibunya kalau sedang bersemangat. Di antara banyak hal yang berubah dari ibunya, baik dari segi fisik maupun psikis, kebiasaan nyerocos itu juga tidak berubah.

Liana tak begitu mendengarkan ibunya. Pandangannya menyapu keluar jendela mobil yang ditumpanginya. Gapura desanya sudah terlihat. Liana merasakan desir aneh yang menyusupi dadanya. Senang. Deg-degan. Seperti ingin meloncat-loncat keluar. Setelah hampir lima tahun tidak pulang, hari ini dia kembali ke kampung halamannya.

Bagaimana kabar Kantil? Seperti apa dia sekarang?

Dalam hati, Liana berjanji akan segera menemui sahabat kecilnya itu.

***

Liana merasakan angin dingin menerpa wajahnya. Dibiarkannya angin malam itu bermain-main dengan rambut ikal mayangnya yang panjang. Dinginnya tak seberapa jika dibandingkan dengan dingin yang dirasakan dalam dadanya. Berulang kali gadis itu merapatkan jaket dan mendekap tubuhnya sendiri.

Di mana dia?

Untuk kesekian kalinya Liana melihat jam tangan yang membeku di pergelangan tangannya. Sudah cukup malam. Tapi perempuan-perempuan itu belum juga datang. Seliweran penghuni jalan raya sudah mulai berkurang. Jalanan semakin lengang. Liana bisa mendengar degup jantungnya yang was-was.

Dia mengingat-ingat lagi percakapannya tadi siang bersama neneknya.

“Pe… la… cur?” kata-kata itu sengaja diucapkan Liana dengan lambat. Supaya telinga tua neneknya bisa jelas mendengar.

Neneknya, yang sedang melihat sinetron episode ke-900, manggut-manggut.

“Itu kata yang serius Nek… jangan asal bicara.” Katanya lagi. Desir semangat yang ada di dadanya sudah menguap sejak tadi. Deg-degan yang dirasakannya lain. Neneknya itu pasti asal bicara. Nenek kan sudah agak pikun, bisa saja dia salah mengerti maksud Liana.

Tapi neneknya tak segera menggubris pertanyaan Liana. Liana segera beranjak.

“Ibuuuu… Ibuuuu…” Liana berjalan cepat menuju dapur. Ibunya sedang membuatkannya makan. Tanpa banyak bicara Liana segera menyeret lengan ibunya dan menatapnya dengan ekspresi serius. “Apa benar yang dikatakan nenek tentang Kantil?”

Ibunya cuma bengong. “Memangnya nenek bilang apa?”

“Kalau Kantil sekarang menjadi pelacur?” kata-kata itu terasa pahit di lidah Liana.

Ibunya diam sejenak.

“Ibu tidak tahu. Isu itu sudah merebak sejak setahun yang lalu. Sejak Kantil pindah. Memang masih di desa ini, tapi lebih jauh, di perbatasan sana. Beberapa tetangga kita bilang mereka pernah melihatnya mangkal di tempat-tempat perempuan-perempuan itu mangkal. Tapi sampai sekarang masih belum ada yang tahu kebenarannya.”

Jadi, di sinilah Liana sekarang. Berusaha mencari kebenaran. Deru taksi di seberang jalan membuyarkan lamunan Liana. Dengan sigap Liana memicingkan mata. Seorang perempuan muda, full make up, keluar dari pintu taksi. Bajunya minim dan seksi. Perempuan itu melihat Liana dari jarak jauh, sadar kalau sedang diperhatikan.

Bukan dia.

Beberapa saat kemudian ada beberapa kendaraan lagi yang berhenti di jalanan itu. Beberapa mobil. Tapi lebih banyak taksi. Ada lebih banyak perempuan sejenis dengan yang pertama tadi muncul dari dalam kendaraan-kendaraan itu. Mereka berhenti di pinggir jalan, kemudian duduk-duduk. Saling mengobrol, menyalakan rokok, dan tertawa cekikikan.

Kuntilanak modern. Batin Liana sarkas. Tapi dia tidak ada di antara mereka.

Sebelum Liana berhasil menghembuskan nafas lega dan memutuskan untuk pergi dari sana, sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Ngapain di sini, Non?” seorang perempuan. Sepertinya salah satu dari mereka. Liana diam saja. Digamitnya tas tangan yang dibawanya. “Anak baru ya?” tanya perempuan itu lagi. Liana masih diam. Beberapa perempuan tiba-tiba saja ikut mendekatinya. Dengan cepat mereka semua mengerubunginya.

“Eh, siapa sih?”

“Anak baru? Emang dia udah ijin sama Mami?”

“Kok tampangnya gitu? Bukan kali…”

“Iya, kali aja dia cuma nyasar.”

Perempuan-perempuan itu mulai berdengung. Bersahut-sahutan. Beberapa memelototinya. Beberapa lagi melihatnya dari atas sampai bawah dengan tatapan yang aneh. Seperti seorang tukang jagal yang sedang menaksir berapa banyak daging yang bisa dihasilkan oleh seekor kambing. Liana tak tahu apa yang harus dilakukan. Dengungan mereka membuatnya bingung. Sementara mereka tak juga segera melepaskannya dari kerumunan.

Hingga sebuah tangan muncul dari sela-sela kerumunan itu. Tak hanya tangan, tapi juga seraut wajah. Wajah yang dikenal Liana dengan sangat baik. Wajah Kantil.

***

Kantil menyalakan batang rokok, entah yang ke berapa. Liana duduk di sebelahnya, setengah menggigil. Entah oleh angin malam yang semakin kencang, atau oleh kenyataan yang ada di sampingnya. Sejak Kantil mengajaknya ke taman itu beberapa menit yang lalu, mereka masih terdiam.

“Kau sudah berubah.” Kantil tiba-tiba memecah keheningan. Liana menangguk.

“Kau juga…”

“Hmmmppph….” Kantil mendengus, menahan tawa. Asap rokok yang keluar tak beraturan dari hidungnya membuatnya terbatuk-batuk. “Kenapa kau ke sini?” tanyanya. Dia tahu itu pertanyaan yang salah. Seharusnya: bagaimana kau bisa menemukanku?

“Apa yang kau lakukan di sini?” bukannya menjawab, Liana balik memuntahkan pertanyaan yang sejak tadi menggantung di otaknya. “Kau tidak sama dengan perempuan-perempuan itu kan?”

Liana melihat Kantil dengan penuh harap. Tapi Kantil tak segera menjawab pertanyaannya. Sahabat kecilnya itu hanya memandangi langit malam yang semakin lama semakin kelam. Kantil bukannya tak mendengar pertanyaan Liana. Dia hanya sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Liana. Teman semasa kecilnya. Gadis yang dulu selalu sakit-sakitan dan canggung itu. Yang pendiam dan penakut. Yang selalu menjadi bulan-bulanan temannya yang lain. Anak manis yang seolah tak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan Kantil.

Bahkan mengelap ingus saja harus aku yang melakukan.

Tapi gadis di sebelahnya ini bukan Liana. Coba lihat perempuan itu. Nada bicara yang tegas. Cara jalan yang tegap dan kepala yang lurus menatap ke depan. Binar matanya yang penuh percaya diri. Gadis yang dulu penakut itu bahkan datang ke tempat seperti ini sendirian malam-malam begini.

Tiba-tiba saja Kantil teringat sesuatu.

“Hey Liana…” panggilnya. “Kau ingat gambar kupu-kupu yang pernah kuperlihatkan padamu dulu?” tanyanya, masih melihat langit.

Liana hanya mengerutkan keningnya.

“Kenapa dengan gambar itu?”

“Sama seperti yang sudah kugambarkan dulu… kau sekarang sudah sangat berubah. Bermetamorfosis menjadi kupu-kupu merah yang cantik.” Jelasnya.

Liana ingat tentang kupu-kupu merah itu. Tapi…

“Tapi bukankah kau juga kupu-kupu? Kupu-kupu berwarna coklat?” tanya Liana lagi. Meskipun sebenarnya dia masih belum mengerti kenapa Kantil membahas perihal kupu-kupu dari masa ketika mereka masih berumur 5 tahun.

Kantil mendengus lagi. Bibirnya membentuk senyuman. Coklat. Benar sekali… kupu-kupunya berwarna coklat. Kantil tenggelam dalam ingatannya sendiri. Tentang ayahnya yang penjudi dan pemabuk. Tentang 16 tahun yang sudah dilewatinya. Dan apa yang terjadi selama 4 tahun, sejak Liana pergi meninggalkannya.

Kenapa gadis itu harus pergi? Tak tahukah dia, bahwa hanya dia yang bisa membuat Kantil merasa berharga. Hanya bersamanya Kantil merasa bisa memimpikan masa depan yang lebih baik. Pergi dari cengkraman ayahnya.

Tapi ketika Liana yang polos itu pergi, mimpi Kantil juga ikut pergi. Ditambah lagi kematian ibunya setahun yang lalu. Ayahnya semakin semena-mena. Kantil harus bekerja siang dan malam hanya untuk membayar semua hutang ayahnya. Tentu saja, gaji buruh pabrik rokok sepertinya waktu itu tak akan sanggup membayar apapun. Upahnya seringkali hanya cukup untuk makan sehari-hari. Jadilah… pada akhirnya ayahnya sendiri menjualnya. Hingga pria itu mati dan meninggalkannya tetap pada cengkraman si mucikari.

“Kenapa waktu itu kupu-kupumu berwarna coklat?”

Kantil kembali dari lamunannya. Seperti deja vu. Pertanyaan itu juga pernah ditanyakan Liana Kecil. Kali ini Kantil melihat Liana dan tersenyum.

Kenapa harus warna coklat? Kantil sudah tahu jawabannya. Sejak kecil, sebenarnya dia sudah tahu. Dia, makhluk berwarna coklat itu, bukanlah kupu-kupu. Dia hanya ngengat yang bermimpi menjadi kupu-kupu. Ngengat yang kecoklatan.

***

Note:
[1] Canggung, gampang terluka atau gampang sakit

#a story from March 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s