A Thousand Words: Ketika semua kata dihitung

No. This review don’t have much spoiler

A Thousand Words Movie 2012
A Thousand Words Movie 2012

“My name is Jack McCall. I’d like to talk to you, but I can’t.
Because if I say just one more sentence out loud, I’m die.”
(A Thousand Words – 2012)

Apa jadinya kalau setiap kata yang kita ucapkan membuat kita lebih dekat dengan kematian. Setiap kata, baik diucapkan atau yang ditulis, bisa mengurangi usia?

Itulah yang terjadi pada Jack McCall yang diperankan oleh Eddie Murphy di film A Thousand Words yang dirilis Maret 2012 lalu. Film ini mendapatkan kritik tajam karena membuat Eddie Murphy yang lucu harus diam yang pastinya akan membunuh semua excitement dalam film ini. But let’s not be sarcastic and take a look at the bright side, shall we?

Jack McCall adalah seorang agen penerbitan yang tentu sudah sangat ahli dalam bicara dan membujuk orang lain untuk mau menjual naskah tulisan mereka padanya. Suatu hari Jack memiliki tugas mengejar seorang guru spiritual bernama Sinja (diperankan oleh Cliff Curtis). Ketika bertemu dengannya, secara tak sengaja tangannya berdarah ketika memegang sebuah pohon. Hal tersebut kemudian membuat Jack ‘terhubung’ dengan pohon itu.

Hal aneh terjadi ketika pohon itu secara ajaib muncul di pekarangan rumah Jack. Setiap kali Jack mengucapkan satu kata atau menulis satu kata, daun-daun di pohon itu akan berguguran. Satu daun untuk satu kata. Sementara daun yang tersisa pada pohon itu berjumlah seribu.

Seribu daun untuk seribu kata. Jack dan pohon itu seolah menjadi satu. Ketika semua daun berguguran, pohon akan mati. Begitu juga dengan Jack. Jika ada dalam posisi ini, what will you do? Ya, semua orang pasti menjawab ‘berhenti bicara’… Tapi, apa kita bisa?

Bicara, seperti yang sudah kita pelajari sejak masih kanak-kanak. Bicara, seperti saat orang tua kita bergembira ketika kita mengucapkan kata pertama. Bicara… kebiasaan, kebutuhan, hal biasa yang sudah kita lakukan setiap hari. Seringkali bahkan bisa kita lakukan tanpa memutar otak.

Saya pernah membaca sebuah tulisan (lupa dari mana) yang bunyinya begini:  “Kalau saja lidah kita terbuat dari gelas, mungkin kita akan lebih berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan.” Sayangnya, as the old song says ‘lidah tak bertulang’. Sangat mudah sekali untuk menggunakannya tanpa pikir panjang.

Back to the movie… mungkin konsep dalam film ini terkesan tidak original, karena beberapa film sebelumnya punya hampir plot yang sama. Di beberapa bagian kita juga hampir bisa menebak apa yang akan terjadi, dan happy ending yang sudah hampir pasti. Kelucuan Eddie Murphy juga tak banyak tergali sehingga film ini cukup nanggung untuk dibilang lucu.

Namun melalui film ini setidaknya kita bisa bercermin… ke mana semua kata-kata yang kita ucapkan selama ini. Apakah kata-kata itu bermanfaat? Apakah kata-kata itu menyenangkan, membahagiakan yang mendengarnya? Apakah kata-kata itu berisi kebaikan? Apa kata-kata itu cukup kuat hingga bisa mengubah seseorang? Apa kata-kata itu setidaknya penting diucapkan? Atau kata-kata itu hanya akan seperti daun yang berguguran pada pohon yang sekarat? Tanpa makna?

Film ini juga menunjukkan bahwa kata-kata yang terlalu banyak kadang tak perlu. Selama ini kebanyakan kita hanya mengobral kata tanpa menunjukkan kesungguhan kata yang kita ucapkan melalui perilaku.

Manusia tak hanya punya telinga untuk mendengar kata-kata manis. Mereka juga punya hati yang mampu menangkap rasa dan ketulusan dalam tindakan. Next time, rasanya mulut kita harus lebih banyak berkonsultasi dengan otak dan jiwa sebelum nyablak dan nyerocos ke sana kemari. Lain kali, ada baiknya kita lebih banyak menunjukkan apa yang kita maksudkan melalui perilaku daipada hanya lewat kata-kata.

Last, I’ll give you a few quotes from this A Thousand Words film, kindly enjoy!

“Truth can be painful. But painful is a touch stone for growth.” (Sinja)

“In a quite, you will hear the truth.” (Sinja)

“Life’s not worth living without a family, right?” (Mrs McCall, Jack’s Mom)

NB:
Saya bisa ngerti kenapa Claudia Puig dalam USA Today mengatakan “Konsep dalam film ini tidak original dan skenarionya tidak lucu,” tapi saya nggak ngerti kenapa dia juga bilang “pesan film ini sungguh banal.” Oke, saya sungguh berada sangaaaaat jauh di bawah para periview film Amerika. Tapi di dunia yang semakin bising ini, saya pikir pesan dalam film A Thousand Words tidak bisa disebut ‘banal’.

#should learn to stop talking nonsense

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s