See Her Cry

crying-eyes-wallpapers-31

“Come on… come on… no one can see you cry…”

Penggalan lirik dari ‘Imitation of Life’ milik R.E.M muncul di kepalaku ketika melihat wajahnya yang sembab. Tak bisa. Aku memang tak pernah bisa melihat tangisan di wajahnya. Baik ketika berusia tujuh tahun, atau sekarang, ketika usianya menginjak 25 tahun.

Dia memang sudah sangat berbeda. Tak ada lagi rambut tipisnya yang bergelombang tertiup angin. Kini semuanya terlindungi. Rapi, di balik kerudung yang menutupi kepala. Celana pendeknya tak pernah dikenakan. Begitu juga kaos-kaos ketatnya yang tanpa lengan.

Tapi satu hal yang tak berubah. Kerapuhannya. Sejak dulu dia adalah seseorang yang rapuh. Atau setidaknya itu yang selalu kutangkap darinya. Ketika melihatnya, kupastikan kalian akan merasakan apa yang kurasakan. Gadis ini punya aura yang menarik seseorang untuk berusaha melindunginya. Entahlah… semua orang atau hanya aku saja.

“Sudah, jangan menangis…”

Bukan, bukan aku yang bilang. Itu neneknya. Gadis itu memaksakan senyum, meski bekas guratan air mata jelas terlihat di pipinya yang kurus. Matanya masih terpaku pada jendela kaca besar di bandara. Pandangannya menempel pada pesawat-pesawat yang ada di sana. Lekat. Walaupun dia tak tahu pesawat mana yang membawa ibunya terbang.

Kalau saja bisa, aku yang akan menghapus air mata dari pipinya. Tapi tak bisa. Sebuah pertengkaran antara mamaku dan ibunya, membuat kami tak bisa lagi bersama-sama, bahkan hanya sebagai teman, bahkan hanya sekedar bertegur sapa.

Keluarganya pernah terfitnah, dan sayangnya mamaku adalah si penyebar kebohongan yang menimpa mereka. Ibunya adalah seseorang yang pemaaf, tapi gadis itu tidak. Dia pernah melihatku membela keluarganya. Dia pernah melihatku menentang mamaku sendiri. Tapi itu tak cukup membendung kebenciannya.

“Terima kasih sudah membela keluargaku, Den. Kamu baik,” katanya waktu itu, sekitar tujuh tahun yang lalu. “Tapi tetap saja…”

“Aku minta maaf, untuk mamaku…”

“Jangan…” dia menggeleng. “Aku tak bisa.”

Di sanalah aku melihat kilatan itu. Kemarahan. Dendam, dari makhluk rapuh yang terluka.

Sejak itu aku tak pernah berani menatap matanya. Aku takut akan melihat kemarahan itu lagi, ditujukan padaku. Jadi sampai sekarang aku tak pernah lagi berbicara padanya. Meski ingin… ingin sekali.

Satu pesawat lepas landas, diikuti sepasang mata yang masih berair. Mata yang diawasi oleh sepasang mata lain. Mataku.  Neneknya menarik gadis itu menjauh dari jendela lebar yang sejak tadi ditatapnya. Gadis itu berbalik, hampir saja menatapku. Aku segera menarik majalah, menutupi wajah.

“Denis?”

Terlambat.

“Nara…” kuturunkan majalah, sambil berusaha memasang wajah terkejut.

Wajahnya masih terpaku melihatku. Aku tersenyum kecut. Dalam hati menebak-nebak, ekspresi apa yang akan ditampakkannya. Apa yang akan ada dalam matanya.

“Lama ya kita nggak ketemu…” katanya. Aku mengangguk. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya lagi.

“Mengantar teman,” jawabku singkat. Aku tak pernah bisa berbohong padanya sejak dulu. Sebenarnya aku hanya mengikutinya saja.

“Kamu?” aku menanyakan hal yang sudah kuketahui jawabannya. Bodoh.

“Mengantar ibu berangkat dinas. Mungkin setahun aku tak akan bertemu dengannya,” jawabnya.

“Mmm… pantes muka kamu sembab, kayak habis nangis,” kataku lancang. Dia melihatku dengan mata basahnya, lalu tersenyum, tipis sekali.

“Ya, aku menangis.”

Kemudian kami berjalan keluar bandara. Aku, dia, neneknya di belakang kami, dan segelembung besar kesunyian.

“Come on… come on… no one can see you cry….”

Aku merasakan pandangannya lekat pada wajahku. Aku menoleh sedikit. Tebakanku tepat.

“R.E.M, Imitation of Life…” kataku, menunjukkan satu earphone yang menempel di telinga kiri. Dia tersenyum lagi. Kali ini sedikit lebar.

“Aku suka R.E.M,” katanya.

Dan aku suka kamu… tersenyum.

#I like your smile too😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s