Keratan yang Berdenyut

Keratan yang berdenyut

Biru. Perempuan itu menikmati irama musik blues yang menemani lamunannya. Suara penyanyi yang sengau diiringi saxophone yang mendayu. Sungguh biru. Di luar sana, rembulan yang biru pucat dan berbintik-bintik seperti terkena cacar juga tengah terpesona oleh alunannya.

Kemudian penyanyi blues dengan suara sengau itu turun dari panggung dan keluar dari pintu belakang kafe. Semua menjadi hening. Hanya sebuah jam besar di dinding kafe yang membisikkan suara “tik… tik…” teratur.

Perempuan tadi masih termangu. Biasanya dia juga mendengar detak jantungnya, tapi tidak kali ini. Rongga dadanya sudah kosong. Dia sudah mencabut jantungnya keluar dan menyimpannya di suatu tempat. Tempat tersembunyi, yang hanya diketahuinya seorang diri.

Setidaknya begitu yang dia kira. Sampai tadi pagi ketika dia mendapati kotak penyimpanannya sudah kosong. Perjalanan dua jam yang sia-sia. Berada dalam bus yang penuh sesak, berbau daki dan keringat busuk para pekerja. Dua jam berdesak-desakan, merelakan kulit seputih susunya yang mulus bersinggungan dengan pakaian kumal dan lembab milik kuli-kuli jorok itu. Dua jam hanya untuk mendapati bahwa jantungnya sudah dicuri. Ada yang sudah mengambilnya.

***

Dia memang sudah tak memerlukannya lagi. Jantungnya seperti sudah tak berfungsi. Itulah kenapa suatu hari dia datang ke dokter keluarganya dan meminta supaya jantungnya dikeluarkan saja. Dokter kepercayaannya itu segera membuka dadanya dan memotong jantungnya keluar. Menggantinya dengan sebongkah marmer berwarna jamrud. Jantungnya diletakkan pada sebuah kotak jati yang masih berbau pelitur. Berwarna biru, benda yang sedikit lebih besar dari kepalan tangannya itu berdenyut. Tapi hanya sebagian.

“Kenapa warnanya bisa begitu biru? Bukankah jantung seharusnya berwarna merah?” tanya dokter itu.

Pasti karena suaminya, yang hampir setiap hari melayangkan kepalan tangannya tepat ke jantung. Jantungnya jadi lebam dan memar. Jika tak segera dikeluarkan mungkin lama-lama akan menjadi ungu. Tapi tak dikatakannya.

“Ada lubang di sana-sini, besar sekali.” Kata dokter itu lagi.

Lubang? Tentu saja. Semua orang dekatnya bertanggung jawab untuk itu. Ibu mertua yang nyinyir, adik ipar perempuan yang terkena brother complex, dan suami yang belakangan diketahuinya tak hanya berselingkuh dengan perempuan lain, tapi juga dengan laki-laki. Ayah yang pikun dan tak lagi bisa mengenali wajahnya. Ibunya yang tiba-tiba mati, seenaknya saja meninggalkan dia sendirian. Serta sebuah cinta lama yang telah mati.

Setiap kali terluka, perempuan itu akan mengambil belati tipis untuk ditusuk-tusukkan ke jantungnya. Sambil menyiapkan sebuah baskom besar untuk menampung darah yang muncrat keluar, dia akan meminum pil-pil merah berbau amis. Setelah itu dengan cepat dia minum kembali darah yang sudah mengalir keluar itu. Sakitnya amat sangat, hingga jantungnya kebas. Dengan begitu, dia tak akan merasa sakit lagi. Esok harinya, dia tinggal mengambil benang-benang rajut, dan menambal lubang-lubang di dadanya hingga tertutup rapat. Hanya saja dia sering lupa, tak menambal jantungnya.

Kata dokter, jantungnya juga sudah membusuk. Perempuan itu memang tak merawatnya dengan benar. Pernah ketika mabuk, dia memecahkan sebuah botol minuman. Menggunakan ujungnya yang runcing untuk membelah dadanya. Hingga terlihat jantungnya. Tanpa pikir panjang dia ukirkan sebuah nama. Seperti ketika dia dan laki-laki itu mengukir nama mereka pada batang pohon mahoni di belakang tempat persembunyian mereka. Walaupun sebenarnya dia sudah bersumpah tak ingin mendengar nama itu lagi.

Guratan nama itu yang membuat jantungnya membusuk, karena guratan itu mengeluarkan belatung. Belatung berwarna putih yang kemudian beranak-pinak. Menggerogoti jantungnya. Untung dokter sudah mengeluarkan jantungnya, sehingga parasit-parasit berlendir itu bisa segera dienyahkan.

“Belatungnya memang sudah hilang, tapi luka dari guratan nama itu tak akan bisa pulih.” Kata Dokter. Perempuan itu hanya mendengus, mengejek dirinya sendiri.

“Nama itu, siapa? Suami Anda?” Dokter itu rupanya nyinyir seperti ibu mertuanya, pikir perempuan itu.

Tentu saja bukan. Sampai mati dia tak akan sudi menggurat nama laki-laki keparat itu di jantungnya. Kalau bukan untuk menyelamatkan nama baik seluruh keluarganya, pasti sudah lama dia menggorok leher suami sialan itu saat dia tertidur. Nama itu adalah cinta sejatinya. Walaupun begitu, tak akan pernah lagi mulut perempuan itu menyebut namanya. Karena mungkin saja jantungnya akan berbelatung lagi.

***

Siapa yang telah mengambil jantungnya? Keratan itu sudah disimpannya sebaik mungkin. Di sebuah pondok tua di atas bukit. Tak ada lagi yang pernah ke sana, sejak… ah, dia benci mengingat bagian ini. Sejak ayahnya memergokinya bersama lelaki itu, dan menyeretnya pulang. Itu juga saat terakhir dia melihat wajah yang dicintainya itu, dan sentuhannya yang hangat.

Ah, jantungnya… di manapun benda itu berada pasti mulai mengeluarkan belatung lagi, atau paling tidak berdetak lebih cepat, bergetar, meradang. Di mana jantung itu berada? Lagipula, apa gunanya jantung berlubang dan penuh belatung yang separuhnya sudah berhenti berdetak itu? Siapa yang ingin memilikinya? Untuk apa?

“Apa yang kau lakukan, perempuan?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Perempuan itu melihat sekitarnya, tapi tak menemukan siapa-siapa. “Aku di atas sini, kurrr….” Suara itu berkata lagi.

Perempuan itu mendongak, “Merpati?” gumamnya tak percaya. “Kau bicara?”

“Kenapa kau heran? Kalau manusia bisa memotong jantung dan menyimpannya tanpa mati, kenapa merpati tidak bisa bicara?” ujarnya sarkastis, membungkan mulut perempuan itu. “Jadi kau pemilik jantung itu?” tanyanya kemudian.

Perempuan itu mengangguk sambil memperhatikan merpati berwarna ungu yang berjalan mondar-mandir di kusen jendela. Sebentar-sebentar menundukkan kepalanya untuk mengasah paruh. Dia tak habis pikir.

“Aku siang dan malam menungguinya, sebenarnya… mencoba membukanya, tapi tak bisa. Aku penasaran apa isi kotak itu. Sampai beberapa hari yang lalu ada seseorang yang datang dan menemukannya. Lalu dia membawanya pergi.”

Perempuan itu tersentak.

“Siapa yang membawanya!? Ke mana!?”

“Jangan berteriak padaku, manusia!” Merpati itu mengembangkan sayapnya, entah kenapa terlihat menakutkan bagi perempuan itu. “Mana kutahu siapa mereka…” jawabnya, membuat bahu prempuan itu melorot. “Tapi aku tahu ke mana mereka pergi.” Tambahnya.

Alis perempuan itu terangkat. Ada harapan, batinnya. “Maukah kau mengantarku ke sana? Untuk mendapatkan jantungku kembali?” pertanyaannya hampir seperti permohonan. Merpati itu mondar-mandir lagi.

“Mau… tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Kau harus memberiku makanan.”

“Hanya itu? Baiklah, kalau aku berhasil mendapatkan jantungku kembali aku akan membawakanmu sekarung biji jagung, tidak… satu truk. Setiap kali habis, aku akan datang membawa satu truk lagi.” Perempuan itu hampir tersedak oleh harapan.

“Hah! Perempuan…” merpati itu menahan tawa. “Aku tak mau biji jagung.” Tambahnya, kemudian terkekeh.

“Lalu?”

Paruh merpati itu membentuk seringai yang ganjil.

“Jantungmu… aku mau jantungmu.”

***

Entah apa keputusannya sudah benar. Menjanjikan jantungnya pada burung merpati itu. Setelah dipikir-pikir, jantungnya itu sudah tidak berguna. Tapi ada rasa tak nyaman jika mengingat dia mati untuk mengenyangkan perut seekor burung merpati.

“Di sini tempatnya.” Merpati itu tiba-tiba hinggap di sebuah cabang pohon. Dia membawa perempuan itu ke sebuah rumah. Megah, dengan taman besar yang mengelilinginya. Perempuan itu semakin tak mengerti. Apa yang diinginkan orang yang tinggal di rumah sebesar ini dengan jantungnya?

Belum habis keheranannya, ketika tiba-tiba seorang lelaki keluar dari pintu rumah itu. Pandangan mereka berdua bertabrakan. Perempuan itu membeku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu. Itu dia, cinta lamanya yang sudah mati. Tapi bagaimana mungkin? Laki-laki itu tak pernah muncul sekali pun untuk menemuinya. Pernah juga perempuan itu meninggalkan sepucuk surat di pondok persembunyian mereka, kalau-kalau lelaki itu datang. Tapi tak ada apapun yang terjadi. Surat itu tetap terlipat, berdebu, tak ada yang menyentuhnya. Laki-laki itu seperti sudah mati.

“Kau…” mulut mereka berdua bergumam secara bersamaan.

“Kupikir kau sudah mati…” kata perempuan itu. “Kau tak pernah kembali….”

“Aku memang tidak berniat kembali sebelum aku kaya, seperti yang diinginkan ayahmu.” Jawab lelaki tadi. “Tapi ketika kembali, aku hanya mendapati kabar bahwa kau sudah menikah dan jantung bertuliskan namaku yang sudah terpotong.”
Perempuan tadi bungkam.

“Apa kau begitu ingin melupakanku? Sampai-sampai harus membuang jantungmu sendiri?”

“Bukan begitu. Tidak mungkin aku begitu!” Ingin sekali perempuan itu berteriak, tapi tak bisa. Apa gunanya penjelasan bagi laki-laki itu sekarang? Terutama sekarang, ketika jantungnya sudah akan berpindah tangan.

“Berikan jantungku!” Akhirnya itu yang keluar dari mulutnya. Pendek saja. Dingin.

Mata laki-laki itu terluka. Ada keraguan sebelum dia benar-benar berbalik dan melangkah masuk ke rumah. Tak lama kemudian dia keluar, membawa sebuah buntalan sebesar genggaman tangan. Buntalan itu bergerak teratur. Disodorkannya perlahan.

Tak mengikuti gerak lambat laki-laki di hadapannya, perempuan itu segera merebut buntalan dari laki-laki tadi. Seolah-olah buntalan itu akan menguap ke udara jika tak segera diambilnya. Dengan cepat pula dia mundur, menjauhi laki-laki itu.

“Hanya begitu saja?”

Ah, ternyata laki-laki itu masih berharap.

“Ya. Begitu saja.”

Dan dengan cepat pula harapannya kandas oleh lidah belati perempuan itu.

Tanpa memperhatikan lagi, perempuan itu segera berbalik. Pergi dari rumah besar milik cinta sejatinya yang menurutnya sudah mati, dan memang akan lebih baik lagi jika dia sudah mati, bersama burung merpati yang menunggu hadiahnya. Dalam genggamannya, dia bisa merasakan jantungnya meradang.

“Imbalanmu.” Katanya singkat sambil menyodorkan buntalan jantungnya pada burung merpati ketika mereka sudah kembali ke tempat persembunyiannya. Merpati itu menerima hadiahnya dengan senyum lebar.

Merpati itu segera membuka buntalan. Tampaklah sekerat daging besar yang berdenyut cepat. Berwarna biru keunguan dan membengkak, membuat guratan nama lelaki itu tak lagi terbaca. Otot-ototnya menonjol dan basah, penuh belatung. Ah, jantung yang merana.

Air liur burung merpati tadi mengalir ketika dia merobek daging yang berdetak itu. Di depannya, perempuan itu menyaksikan saat-saat jantungnya berhenti berdenyut. Air matanya bahkan tak sempat menetes.

***

#when a heart stop beating for you
from Februari 2012

3 thoughts on “Keratan yang Berdenyut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s