Player Two

ps32

Satu, dua, tiga, empat. Wih, banyak amat! Aku menghitung ulang. Satu, dua, tiga, empat. Benar ada empat. Aku menggaruk-garuk kepala, leher, dan pipi yang tak gatal. Iseng saja, kutata satu persatu kertas berbungkus plastik itu di atas meja ruang makan.

Pandanganku beralih ke seorang pria yang asyik bermain game di ruang tengah. Ya, ruang tengah dan ruang makan di rumah memang tak dipisahkan tembok secara utuh. Tembok yang menjadi pembatas hanya setinggi tempurung kaki. Jadi aku bisa melihat pria itu, Bibin – kekasihku, berselonjor kaki sambil bermain game Call of Duty di PS3-nya.

“Bin, ada empat…” kataku, yang dijawab dengan ‘hmmm’ tak peduli olehnya. “Bin!”

“Apanya yang ada empat?” tanyanya.

“Undangannya. Ini ada dari Tara, Dani temen kuliah kamu, Mbak Ratih dari bagian keuangan, sama Rebecca.”

“Waduuuh, kok bisa barengan gitu orang-orang nikahnya,” timpal Bibin cuek dengan mata masih terpancang di televisi.

Aku meninggalkan undangan-undangan itu di atas meja ruang makan dan duduk bersila di sebelah Bibin. Sambil membuka toples penuh kripik singkong, aku ikut melihat game yang sedang dimainkannya.

“Itu musuhnya yang mana sih, Bin?” Bibin seolah nggak denger.

“Itu yang sebelah kiri atas peta ya, Bin? Terus orangmu yang mana Bin? Yang cuma keliatan senjatanya aja itu? Terus kamu perang gitu gak ada temennya Bin? Ini misinya apa sih gamenya?”

Tiba-tiba gambar di televisi berhenti bergerak. Pause. Bahu Bibin tiba-tiba berguncang.

“Buahahahahahahaha…” Bibin tertawa terbahak-bahak. Aku cuma melongo di sebelahnya.

“Kamu sebenernya mau tanya apa sih?” tanyanya balik sambil masih terkikik. Aku masih merengut.

Bibin berhenti tertawa. Dia tahu, sebenarnya aku tak peduli dengan game yang dimainkannya. Aku hanya ingin mengajaknya bicara. Pria yang sudah tujuh tahun kupanggil Bibin, dan bukannya Erwin -nama sesuai KTPnya- ini tahu ada yang sedang ingin kubicarakan dengannya. Serius.

“Pasti gara-gara undangan nikah itu deh,” katanya.

“Jangan bilang…” matanya tiba-tiba berbinar-binar. “Jangan bilang kamu pengen cepet-cepet aku nikahin. Iya? Waaaah… aku seneng ba…”

“Dieeeemmm!!!” Teriakku sambil menyumpal mulutnya dengan keripik singkong. “Sapa yang mau nikah?” ucapku sewot. Bibin cuma senyum-senyum waktu aku melepaskan mulutnya.

“Kamu kan tahu apa pendapatku tentang pernikahan. Kamu tahu kalo menurutku nikah itu…”

“Iya… cuma permainan kan?” sambungnya dengan tampang jahil. “Terus apa yang bikin kamu cemberut gitu?”

Aku menghela napas. Mengambil bantal duduk di sebelah Bibin dan merebahkan badanku, terlentang. Melihatku begitu, Bibin ikut-ikut.

“Aku cuma nggak ngerti. Orang-orang dekat kita udah mulai nikah. Kenapa mereka nikah?”

“Ya soalnya mereka pengen nikah.”

“Ya tapi kenapa? Nikah kan cuma urusan hitam di atas putih. Padahal cinta itu bukan di atas kertas, tapi di hati. Nikah nggak akan jamin apa-apa kan? Bukan terus kalo nikah cintanya bakal abadi gitu, mereka terus bahagia selamanya gitu, enggak kan?” cerocosku sambil memandangi langit-langit rumah. Bibin cuma menyimak.

Sebenarnya, dia nggak perlu bilang apa-apa. Soal nikah nggak nikah ini, sebenernya sudah jadi masalahku sendiri sejak lama.

Aku nggak percaya dengan pernikahan. Bukan perceraian orang tua yang membuatku begini, tapi juga banyak kasus perceraian lainnya. Kakak, adik, tante, mereka semua pernah merasakan yang namanya perceraian. Mereka pernah tahu rasanya salah memilih. Mereka tahu rasanya menyesal sudah menikah.

Aku nggak mau menyesal. Bagiku mencintai dan dicintai saja sudah cukup. Dicintai Bibin. Setiap hari bersamanya. Mencintainya. Aku, kami, nggak butuh surat resmi dari pemerintah. Siapa itu pemerintah, yang mau seenaknya mengatur urusan cinta, mengatur urusan hati kami.

Tapi akhir-akhir ini, pikiranku mendadak kacau. Banyak teman dekatku yang memutuskan untuk menikah. Mereka bilang, mereka percaya menikah akan memberikan kebahagiaan. Mereka bilang, menikah adalah cara untuk membuat jalinan cinta mereka diakui. Menikah, cara sakral untuk menyatukan jiwa, katanya.

Lantas, apa jiwaku dan Bibin belum bersatu kalau kami belum menikah? Bahkan setelah tiga tahun kami hidup bersama? Apa benar kami membutuhkan pengakuan orang lain? Perlukah cinta ini diakui? Tak cukup kami saja yang rasa? Aku mulai jengah. Jangan-jangan selama ini pikiranku yang salah.

“Bin…”

“Hmmm?”

“Tolong sebutin satu aja manfaat nikah.”

Bibin menoleh padaku. Lama. Sebelum akhirnya tersenyum dan kembali melihat langit-langit.

“Buatku… nikah berarti ketika kita datang ke sebuah acara seperti biasanya, aku nggak lagi bilang ‘Ini Raras, pacar gue’, tapi, ini Raras, istri gue…” Bibin tertawa kecil.

“Nikah berarti aku bisa peluk kamu, ciumin kamu, tidur bareng kamu tanpa takut dosa. Tanpa takut kondom bocor…”

Plakk!! Aku menimpuk Bibin dengan tutup toples. Mau tak mau, aku ikut tertawa kecil bersamanya.

“Karena kita bakal punya banyak anak yang diakui negara. Anak-anak kita bakal punya akta kelahiran karena orang tuanya sudah menikah dengan resmi,” Bibin meneruskan ceracaunya.

“Seriusaaaaan!!!! Ih, pikirannya jorok mlulu!!” sergahku sambil pura-pura cemberut.

Bibin berhenti tertawa. Mata kami bertabrakan. Padangan kami saling menyentuh.

“Seriously Ras, apa yang bikin kamu takut nikah?”

Tapi aku diam saja. Kubiarkan hening menggelantung di antara kami. Sejujurnya, aku tak tahu. Aku sedang menggali pemikiranku sendiri.

“Aku… takut… semuanya nggak lagi sama,” terbata, akhirnya kujawab juga pertanyaannya.

“Kita baik-baik aja selama ini. We have a lot of fun. We love, care for each other, we play, laugh… everyday. Kita bisa mencintai tanpa beban.”

“Menurutmu, kalau kita nikah, kita nggak bisa have fun lagi?”

“Beberapa orang yang aku kenal jadi sangat serius setelah nikah. Just like all grown up. Mereka jadi jarang tertawa. Aku takut, setelah nikah… kita lebih banyak bertengkar.”

Mataku mulai berair. That’s the truth. Itulah ketakutanku selama ini. Aku gak percaya pernikahan bisa buat orang bahagia, karena fakta di sekitarku menunjukkan sebaliknya. Kakak, adik, tante, papa, mama. Aku jarang melihat mereka tertawa. Seolah ada masalah yang harus mereka pikul setiap harinya. Masalah yang menarik bibir mereka ke bawah, pelan-pelan mengukir wajah sedih yang akan mereka kenakan bertahun-tahun setelahnya.

“What if… I promise to make you laugh everyday, setelah kita menikah?” Bibin bertanya lagi.

“Gimana kalo aku bisa berjanji bahwa semuanya akan tetap sama seperti sekarang. Aku akan tetep jadi Bibin yang seperti ini, dan aku nggak akan minta kamu berubah menjadi Raras yang lain.”

Aku melihat kesungguhan di matanya. Bibin bangun, kemudian mencondongkan tubuhnya padaku.

“Kamu ingin pernikahan yang seperti apa?”

“Yang menyenangkan. Yang bisa bikin bahagia.” Jawabku cepat. Hanya itu yang ada di kepalaku.

Bibin mengusap rambutku pelan. Setelah itu menyentuh pipiku. Mengeringkan embun yang mulai muncul di sudut-sudut mata.

“Orang-orang yang kamu lihat, yang nggak bahagia sama pernikahan mereka… aku yakin, sebenernya mereka menikah karena ingin bahagia. Tapi mereka lupa. Mereka biarkan masalah yang ada dalam pernikahan membuat mereka buta. Pernikahan itu bukan hal yang gampang memang, dan harus dijalani dengan serius. Ada banyak tanggung jawab di sana. Tapi bukankah setidaknya mereka bersyukur, karena setiap hari mereka bersama orang yang mereka sayangi? Orang-orang yang kamu lihat itu lupa tentang cinta yang pernah menyatukan mereka.”

“Mereka lupa bahwa mereka sudah memiliki partner hidup. Orang yang bisa mereka ajak berbagi suka, duka. Mereka ajak berbagi masalah, berjuang, dan menang bersama.”

Aku cuma tercenung.

“Kalau kita menikah. Aku nggak akan lupa bahwa aku udah milih kamu sebagai partner hidupku. Orang yang kupercaya bisa mendampingiku di saat tinggi dan rendah. Orang yang kupercaya untuk menjagaku, berjuang bersamaku. Orang yang akan kubahagiakan. Orang yang untuknya akan kupertaruhkan segalanya. Orang yang padanya akan kuberikan kemenangan. Orang yang akan jadi alasan buatku untuk tertawa setiap hari.”

Bibin menarik tubuhku bangun. Mendudukkanku di hadapannya. Matanya yang penuh kesungguhan menatapku tajam. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.

“Kalo menurut kamu menikah itu permainan, fine. Anggap saja menikah itu seperti bermain video game, seperti bermain PS3. Kita punya misi untuk menang, kita punya tanggung jawab sebagai pemain. Dan selayaknya main video game, kita seharusnya bisa membuat pernikahan menjadi hal yang menyenangkan untuk dijalani.”

Bibin memegang tanganku. Satu tangannya memberikan satu stik PS3-nya padaku. Apa yang akan dilakukannya?

“Ras, kalo buat kamu nikah sama kayak main game…  if marriage is a game… would you be my player 2?”

Aku berkedip. Tak percaya.

#still wait for my Player One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s