Surat cinta tanggal limabelas

valentine__s_day__mom_and_dad_by_rper782786-d3c433r

I didn’t celebrate Valentine… jadi kutulis saja surat cinta di tanggal limabelas.

Semua berawal dari kata cinta. Namanya juga surat cinta. Dan ini untuk dua orang yang paling kucintai di dunia.

Mams

Aku baru pulang kerja Mams, dan kau sudah tertidur.

Kupikir, ketika masih sekolah dan kuliah, waktu kita sudah sangat sedikit. Ternyata setelah aku kerja, waktu terasa semakin menguap.

Pagi sekali, kau sudah berangkat. Menemui anak-anakmu yang lain. Yang jumlahnya beratus-ratus tapi tak membuatmu jengkel seperti aku, anakmu yang cuma satu. Sementara aku, setelah sholat subuh masih ingin bermanja dengan kasur.

“Masih capek Mams, masih ngantuk. Aku kemarin habis begadang,” begitu rengekku setiap kali kau berceraman panjang lebar tentang pagi, matahari, rejeki, atau kesehatan ragawi.

Hampir tak ada waktu bercengkrama, atau kesempatan untukku menggelendot manja. Ah, apaan sih, udah gede (read: tua) masih aja pengen gelendotan. Setidaknya Mams, aku ingin berbagi cerita. Atau mendengarmu mengomel panjang lebar.

Mams, aku baru baca cerita temanku yang ibunya sudah dipanggil olehNya. Aku menangis, tapi masih bersyukur. Karena kau masih ada di sini. Karena meski sering mengomel dan mencubitiku, aku masih bisa melihatmu. Karena setidaknya aku masih bisa merasakan hangatmu.

Mams, kau pasti tak tahu. Saat kecil dulu, ketika aku masih tidur dalam dekapanmu, aku sering menangis tiba-tiba. Aku diajarkan untuk percaya, bahwa semua bisa saja terjadi jika Dia menghendaki. Aku percaya, bahwa meski kau sedang mendekapku erat, kau bisa saja pergi saat itu juga jika Dia memutuskan untuk memanggilmu.

Untuk itu aku menangis. Waktu kecil itu, aku terus memelukmu sambil membisikkan permohonan “Jangan malam ini Tuhan… jangan dalam waktu dekat.”

Penggalan ingatan dari masa kecil itu membuatku sadar Mams, kita butuh waktu. Aku janji akan menghabiskan pagiku bercengkrama denganmu, sebelum akhirnya kau pergi kerja. Aku janji pulang lebih cepat, berkejaran dengan waktu tidur yang kau gunakan melepas penat.

Aku tahu, mengungkapkan cinta secara verbal bukan cara kita. But I’ll say it anyway in this letter… aku sayang kamu Mams, sayang sekali.

Ayah

Hello Dad, this is your daughter, and split of your DNA. Aku benar-benar sepertimu, iya kan Yah? Keras kepala, santai, malas, suka bercanda. Sama-sama punya cara pikir yang tak biasa, or should I say… tidak normal seperti orang kebanyakan.

Yah, tahukah kau tempat paling aman di dunia? Bagiku, itu punggungmu. I still remember masa-masa kecil. Ketika kau menggendongku di punggung belakang, hanya untuk membuatku tertidur lelap. Di punggungmu kala itu, aku merasa aman.

Sekarang aku sudah besar Yah, dan punggungmu terlihat semakin kecil. Tapi ketika aku merasa gundah dan hilang arah, aku selalu berharap tubuhku mengecil, atau punggungmu yang menjadi besar. Jadi aku bisa bersandar di sana.

Yah, aku tak perlu tahu kau menyayangiku atau tidak. Tapi kuharap kau tahu bahwa aku menyayangimu. Orang bijak pernah berkata: “A Father is his son’s first hero and his daughter’s first love.”

Yes Dad, you’re my first love. Darimu aku belajar banyak tentang seperti apa itu pria. Dan bagiku, kau masih jadi ayah terbaik seduniađŸ™‚

Terima kasih sudah bersedia menemaniku setiap hari. Mengantar, menjemput. Di usia yang begini tua, rasanya sudah tak ada anak yang masih diantar oleh ayahnya. Tapi itu mereka, dan ini aku.

Kau sendiri pernah berjanji bukan? Janji yang tak kuminta. Janji yang kau katakan sendiri di masa lalu? Janji yang mengajarkanku tentang kesetiaan.

Jika nanti bukan kau lagi yang mengantar atau menjemputku, kuharap dia adalah orang yang sebaik dirimu. Tapi tak mungkin. Orang bilang, tak ada yang bisa mengalahkan cinta pertamađŸ˜‰

a sincere letter from your only daughter (Mams) and your female clones (Dad)
A grateful daughter who still learning to devote, and still struggling to not dissapointing you.
#Faithfully yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s