Segitiga Sempurna

lt-crea-lrg

3 Maret 2010, Pukul 15.00 WIB

Perempuan itu hampir saja menabrak seorang anak yang hendak menyeberang jalan dengan cepat di depannya. Untung saja, dalam keadaannya yang setengah sadar, dia masih bisa menguasai kemudi sedannya. Beberapa kali matanya terpejam sejenak. Ah, seharusnya tadi dia tidak minum sebanyak itu. Seharusnya setelah minum sebanyak itu, dia juga tidak mengemudikan kendaraan. Tapi perempuan itu tak ambil pusing. Hatinya sedang hancur, hanya itu yang menjadi konsentrasinya sekarang.

Di sisi lain jalan….

“Padma! Dengerin aku dulu!” Seorang laki-laki tampak mengejar perempuan yang berjalan cepat di depannya. Wajah perempuan berambut lurus itu sembab. “Pad!” Lelaki itu berhasil menarik lengan perempuan yang dipanggilnya Padma.

Perempuan itu memalingkan mukanya.

“Aku bisa jelasin semuanya…” laki-laki itu memelas.

“Memangnya ada yang kurang jelas? Foto-foto itu sudah lebih dari cukup buat jelasin semuanya, Ka!” Perempuan itu balas menghardik. Dia membuang muka. Seolah-olah jalan raya yang sedang lengang lebih menarik untuk dilihat daripada muka tampan laki-laki di hadapannya.

“Aku memang salah, aku pernah berbohong… tapi….”

Mata perempuan tadi membelalak sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya.

“RAKA, AWAS!” dengan cepat dia berusaha menarik tubuh laki-laki di hadapannya, tapi….

BRUAKKK!!

Terlambat… sebuah sedan dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh kedua orang tersebut dan beberapa orang di sekitar mereka. Sementara mobil sedan yang menabrak mereka baru berhenti ketika menabrak bangunan kafe di pinggir jalan. Beritanya segera beredar di televisi-televisi ketika petang menjelang. Sebuah sedan yang dikemudikan oleh seorang perempuan menabrak beberapa pejalan kaki di trotoar. Beberapa pejalan kaki luka-luka dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara korban meninggal sebanyak tiga orang.

Dua korban tabrakan bernama Raka dan Padma. Laki-laki dan perempuan itu langsung meninggal di tempat kejadian. Sedangkan pengemudi sedan yang diduga mabuk ketika mengendarai mobilnya, bernama Abril. Tersangka juga meninggal seketika di tempat kejadian.

***

3 jam sebelum kecelakaan…

Padma memandangi lembaran-lembaran lux berukuran kartu pos di genggamannya tanpa berkedip. Lembaran-lembaran itu dimasukkan dalam amplop berwarna coklat yang sampai di rumahnya pagi ini. Tak cuma satu atau dua lembar, tapi hampir sepuluh, dua puluh, atau lebih? Entahlah… memandanginya saja sudah membuat lututnya lemas, apalagi menghitungnya. Padma tak sanggup.

Waktu yang sama, di tempat yang berbeda.

“Apa maksudmu? Kamu sudah nggak sayang sama aku, Ka?”

“Aku sayang sama kamu, Bril… tapi ini nggak bener! Aku udah komitmen sama Padma, ini selingkuh namanya.” Raka tak kalah keras membentak Abril.

“Halah! Jangan sok suci kamu! Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu nggak langsung nolak aku aja, waktu aku datang, nyusul kamu ke London waktu itu? Kenapa nggak langsung mengakhiri hubungan kita dan kembali ke Padma waktu kita sudah pulang ke Indonesia sebulan yang lalu?”

Raka membuang muka. Dia tahu sudah bersalah karena berhubungan dengan Abril. Waktu itu… ah, apa yang dipikirkannya waktu itu? Entahlah… mungkin dia merasa sudah terlalu lama sendirian di negeri orang, dan Abril datang. Dia datang membawa kehangatan sahabat yang sudah lama tak lagi dirasakannya.

Hingga akhirnya perlahan dia juga merasa sayang pada Abril. Rasa sayang yang awalnya dia pikir wajar, karena Abril bukan orang lain. Perempuan itu adalah sahabatnya selama 4 tahun di universitas. Tapi ternyata Abril menganggap rasa sayangnya berbeda. Hingga mereka harus terpaut pada ikatan yang tak bisa lagi disebut hubungan persahabatan.

“Raka…” dengan lembut Abril menyentuh tangan Raka yang duduk di hadapannya. “Aku tahu kamu juga sayang aku kan?” tanyanya.

Raka memejamkan matanya, terlihat lelah.

“Aku sayang kamu, Abril.” Katanya singkat. “Tapi Padma… aku cinta sama Padma.” tambah Raka lagi, membuat senyum yang baru terbentuk di wajah Abril menghilang dengan cepat. Raka meraih tangan Abril, mendekapnya di antara kedua tangannya.

“Maaf, Bril. Tapi aku akan kembali ke Padma.”

Abril menepis tangan Raka keras. Dadanya naik turun menahan emosi.

“Gak boleh. Kamu nggak boleh sama Padma! Kamu tahu, Padma nggak akan nerima kamu. Dia sudah tahu semuanya. Dia sudah tahu hubungan kita, dia sudah tahu kebohongan kamu, Raka!”

Raka terhenyak. “Ba… bagaimana…”

“Aku… aku sudah mengirimkan padanya semua foto-foto kita selama di London. Semua foto-foto kita di Indonesia juga. Semuanya!” Abril menjelaskan, seperti orang kesetanan.

Sekarang gantian Raka yang termangu. Padma sudah tahu? Tak bisa dibayangkannya, apa yang akan dirasakan oleh gadis itu. Apa yang harus dilakukannya? tanpa pikir panjang, Raka segera menyabet jaketnya dan berjalan cepat menuju pintu.

“Raka, tunggu! Kamu mau kemana?” Abril menarik tangannya.

“Ke Padma. Aku akan jelaskan semuanya. Aku akan minta maaf. Aku gak peduli kalau dia marah dan membenciku. Aku tetap akan kembali ke Padma.” Jawab Raka cepat, mendorong Abril menjauh, dan segera keluar kamar hotel.

“RAKA!” Abril berteriak. Seolah teriakannya bisa menghentikan langkah Raka yang semakin cepat. Setelah itu dia merosot, terduduk di lantai kamar hotel.

***

3 bulan yang lalu…

“Would you be my girl, Padma?”

Masih teringat jelas dalam ingatan Padma ketika kata-kata itu diucapkan Raka tanpa jeda. Sempurna, seperti yang dia bayangkan dalam mimpi-mimpinya. Sesempurna hari itu, dimana mereka bertiga melemparkan topi dan mengenakan toga. Sekarang sudah hampir setahun, dan Raka masih terus menghubunginya. Entah lewat telepon, video call, internet, apapun yang bisa mereka gunakan untuk terus berkomunikasi.

Padma masih sering tersenyum kalau mengingat bahwa dulu dia sempat ragu, karena Raka sudah diterima di sebuah universitas di London. Saat itu Raka mati-matian meyakinkannya bahwa jarak tidak akan mengurangi rasa sayangnya pada gadis itu. Dan memang begitulah adanya. Walaupun jauh, Raka tak pernah meninggalkannya tanpa kabar. Seperti saat ini. Walaupun di London sedang musim dingin dan Raka susah sekali mendapatkan sinyal di tengah badai salju yang mengamuk, mereka masih bisa saling bertukar kata-kata manis lewat telepon.

“Honey, teleponnya kututup dulu ya, sinyalnya tambah kacau.” Kata Raka pada Padma di seberang.

“Oke Hon… jangan lupa pake mantel tebel, biar nggak masuk angin.” Jawabnya.

“Hahaha… di London mana ada penyakit masuk angin, haha… di sini adanya hipotermia.” Canda Raka lagi. Perempuan di seberang tertawa renyah.

“Iya deh, mau hipotermia, hippopotamus, Mesopotamia… terserah dah! Pokoknya jaga kesehatan yaa…” Kata Padma cepat, masih tertawa.

“Okee… see you ya Sayang.” Raka mengakhiri pembicaraan singkatnya dengan senyum lebar. Berbicara dengan Padma, walaupun hanya melalui telepon, memang selalu bisa membuat hari-harinya yang padat dan membosankan menjadi cerah.

Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba saja ada suara ketukan di pintu apartemennya.

Siapa yang datang bertamu di tengah cuaca seperti ini? Batinnya heran. Tapi dengan cepat dia berjalan ke arah pintu. Raka berjinjit sedikit untuk melihat siapa yang ada di luar melalui sebuah lubang kecil di pintunya.

Seorang perempuan berambut hitam ikal sedang berdiri gemetaran di luar pintu apartemennya. Perempuan itu membawa beberapa koper besar bersamanya. Kaget bukan main, Raka segera membukakan pintu apartemennya untuk perempuan yang kedinginan itu.

“Abril?”

***

3 tahun yang lalu…

Abril merasakan punggungnya basah oleh keringat. Kaosnya menempel, membuatnya tidak nyaman. Mall di musim libur dan siang hari memang super! Batinnya sinis, berusaha keluar dari kerumunan orang yang sibuk berbelanja atau hanya sekedar melihat-lihat barang. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya, menghindarkannya dari desakan orang-orang.

“Thanks.” Ucapnya cepat, memaksakan senyum lebar.

“Ngapain lo malah ngumpet di situ, Bril? Haha….” Raka, orang yang baru saja menyelamatkannya dari himpitan para maniak belanja itu terkekeh menertawakan penderitaannya. Sementara Padma, yang berdiri di sebelah Raka menutup mulutnya, menahan tawa.

“Enak aja ngumpet.” Abril berpura-pura memanyunkan bibirnya.

“Pindah yuk! Di sini rame banget.” Kata Padma sambil mengipas-ngipaskan tangannya. Abril baru ingat kalau tadi dia juga sedang kepanasan.

“Iya, yuk!” Jawabnya.

“Mau kemana sih? Kayaknya mall di mana-mana kalo hari libur juga pasti rame deh.” Sahut Raka yang sudah terlebih dulu melangkah di depan kedua gadis itu. Langkahnya terhenti sejenak di depan sebuah stand yang tampak nyentrik. Alisnya terlihat mengerut sejenak, tapi kemudian wajahnya berubah cerah.

“Hey! Sini! Sini! Kita ke sini aja!” Katanya sumringah, membuat dua sahabatnya itu ganti mengerutkan kening.

“Aduuuuuh… kalian ini!” Raka berjalan cepat ke arah Padma dan Abril dengan tidak sabar. “Lelet ah!” Katanya lagi sambil menggandeng tangan Padma dan Abril. Tanpa sadar membuat kedua gadis itu menahan nafas.

MADAM ROSETTA – PERAMAL

Begitu bunyi tulisan di depan stan yang membuat Raka sumringah tadi. Abril dan Padma saling bertukar pandang. Peramal?

“Lhaaaa… ngapain bengong sih? Ayo masuk!” Lagi-lagi Raka dengan tidak sabar menyeret Abril dan Padma masuk.

Mereka bertiga duduk bersila di hadapan seorang perempuan setengah baya yang berpakaian aneh. Tidak heran. Bukankah sepertinya semua peramal pasti berpakaian aneh. Stannya saja sudah kelihatan nyentrik, apalagi yang punya stan. Batin Abril. Di sebelahnya, Padma terlihat tidak nyaman. Pertama karena gadis itu tidak suka dengan bau-bauan yang tidak jelas, seperti bau-bauan aneh yang sejak tadi memenuhi ruangan peramal itu. Dan yang kedua dia tidak suka dengan ruangan gelap, seperti ruangan dimana mereka sedang duduk sekarang.

“Saya bisa langsung membaca nasib kalian bertiga sekaligus. Mau?” tanya perempuan itu.

Suaranya biasa saja. Tidak serak seperti suara peramal-peramal yang ada di tivi. Raka jadi sedikit kecewa. Paling tidak dia ingin merasakan sedikit ketegangan ketika mendengar omong-kosong ramal-ramalan itu. Walaupun begitu, Raka menyambut tawaran peramal itu dengan antusias.

“Baiklah. Silahkan letakkan tangan kiri kalian di atas meja. Perlihatkan telapak tangan kiri kalian.” Kata Madam Rosetta. Raka langsung meletakkan tangannya, diikuti Abril. Sementara Padma merasa ragu. Tangannya masih terkepal, mengambang di depan dadanya.

“Ayo! Langsung ketiga-tiganya. Ayo!” Kata peramal itu lagi sambil melihat Padma. Eyeliner hitamnya sedikit membuat Padma ngeri. Masih ragu-ragu, diletakkannya tangannya di samping tangan Raka, dengan telapak menghadap ke wajah Madam Rosetta.

Madam Rosetta menyentuh telapak tangan mereka satu-persatu dengan ujung kukunya yang panjang dan dicat hitam. Telapak tangan Abril, Raka, kemudian Padma. Pandangannya terpaku sebentar. Kemudian dia ulangi lagi. Dari telapak tangan Padma, Raka, kemudian Abril. Alisnya naik. Dia terlihat sangat antusias. Dia sentuh sekali lagi ketiga tangan itu. Kali ini mulai telapak tangan Raka, Abril, Padma, kemudian kembali lagi ke Raka.

“Ah! Ini segitiga yang sempurna!” Katanya hampir berteriak. Membuat ketiga anak muda di depannya sedikit terlonjak. Padma sampai harus memegangi dadanya. Muka mereka bertiga terlihat heran.

“Kalian pasti sahabat yang sangat dekat, bukan?” tanya Madam Rosetta. Ketiga anak itu mengangguk-angguk. Masih tidak bisa berkata-kata.

“Garis takdir kalian telah membentuk sebuah segitiga yang sempurna. Tak akan bisa lepas dari satu sama lain. Sadar atau tidak, kehidupan kalian akan terus saling terhubung. Ah, ini hebat sekali! Kalian bahkan akan mencintai orang yang sama!” Perempuan itu terkekeh-kekeh, kegirangan sendiri.

Padma semakin tidak nyaman. Berkali-kali dicoleknya pinggang Raka. Tanda untuk segera pergi dari tempat nyentrik itu. Sementara Abril berkali-kali melihat Raka dan Padma dengan pandangan aneh. Seolah-olah tak sabar ingin menyemburkan kata: “FREAK!” pada perempuan di hadapannya itu. Raka, hanya melongo saja mendengarkan peramal itu terkekeh.

“Oh ya… satu lagi. Kalian bahkan akan mengakhiri hidup kalian bersamaan. Dengan cara yang sama. Hebat kan? Segitiga yang benar-benar sempurna!” Perempuan dengan nama panggung Madam Rosetta itu terkekeh lagi. Kali ini lebih keras.

Tanpa berlama-lama lagi, bahkan tanpa dikomando, Abril dan Padma menyeret Raka keluar dari stan peramal aneh itu bersamaan. Padma menghembuskan nafas lega, sementara Abril masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bullshit! Apaan tuh segitiga sempurna?” Semburnya. Padma menganguk-angguk. Telunjuknya bergerak-gerak menunjuk Abril.

“Setuju!” Katanya, terlihat sangat kesal.

“Hehe… tapi lumayan kan buat hiburan…” Raka malah senyum-senyum, yang dibalas pelototan oleh Abril.

“Hiburan dari Hongkong!?! Pake bilang kita bakal mati bareng lah, apa lah… horor gak mutu! Hari gini mana ada yang percaya begituan,” omelnya. “Udah gitu pake acara cinta-cintaan lagi. Apaan tuh maksudnya cinta yang sama… emang dia kira kita bakal kena cinta segitiga gitu? So sinetron banget gitu lhoh!” Abril tergesa-gesa menambahkan.

“Ya udahlah… namanya juga hiburan. Hehehe…” dengan santainya Raka nyelonong pergi, meninggalkan Abril dan Padma.

Padma mengikuti langkah Raka dari belakang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak lebih cepat ketika Abril menyebutkan tentang cinta segitiga. Sementara Abril masih mematung. Melihat punggung sahabatnya dan orang yang diam-diam dicintainya perlahan menjauh.

***

Boys and girls, just friends? Only few people can, including me :p
#from February 2012 to 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s