Lintah

Lintah
Lintah

Seekor lintah menempel pada punggung tangan kakak ketika kami mencuci baju di sungai. Tapi dia tidak sadar. Ketika lintah itu menggendut oleh darahnya, barulah kakak merasa ada sesuatu yang menempel. Segera ditepisnya lintah itu, tapi tak berhasil. Lintah itu seperti sudah menempel pada punggung tangannya.

Kakakku menarik lintah itu dengan kuat. Kelihatan susah sekali. Mungkin lintah itu sudah betah berada di punggung tangan kakak. Mungkin juga lintah itu tak akan pergi sebelum dia selesai menyedot setiap tetep darah yang ada dalam tubuh kakakku.

Setelah agak lama, kakak berhasil mencabut paksa lintah itu dari tangannya, dan membunuhnya dengan batu penggilas dalam sekali ayun. Gigitan lintah yang sudah gepeng itu menyisakan sebuah bulatan yang memar di punggung tangan kakak. Darah tak henti-hentinya meleleh. Mengalir di sepanjang tangan kakak. Hingga ke sela-sela jemarinya. Hingga ke ujung sikunya.

Dengan tenang kakak menggandengku pulang. Sementara badanku masih gemetar karena melihat darah kakak yang mengalir. Juga karena makhluk penghisap darah yang sekarang sudah jadi gepeng itu.

Sesampainya di rumah, kakak segera membersihkan tangannya dan menyuruhku menyiapkan tali jemuran untuk menggantung baju. Aku sedang menarik-narik tali jemuran yang tersangkut pada tumpukan kayu tak terpakai di belakang rumah, ketika aku melihat ada tamu yang datang berkunjung.

Tiga orang laki-laki. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku mengingat dengan pasti, karena kedatangan mereka pada hari itu, adalah hal yang tak mungkin kulupakan seumur hidup. Dua orang dari ketiga laki-laki itu berbadan besar. Berotot, seperti kuli-kuli angkut barang yang sering kulihat di pasar. Hanya saja pakaian mereka lebih bagus, dan kekecilan –sehingga otot-otot mereka terlihat lebih besar daripada seharusnya-.

Yang satu orang lagi mengenakan pakaian yang jauh lebih bagus daripada dua orang tadi. Sekali lihat saja aku yakin bajunya juga jauh lebih mahal. Hanya saja, badannya tidak berotot. Laki-laki yang terlihat seperti seorang bos itu berperawakan kurus, pendek, dan sama sekali tak terlihat kuat.

Kupikir ketiga orang itu hanya tamu biasa. Tapi tentu saja bukan. Karena tepat saat mereka datang, sebuah kenaehan terjadi di rumahku. Ibu dengan sigap membersihkan rumah dan mempersiapkan minuman hangat. Kakakku tergopoh-gopoh membenahi ruang tamu dan membenahi penampilannya sendiri. Oh iya, dia juga menyuruhku bermain di luar –sesuatu yang sangat aneh, mengingat hari masih permulaan-.

Tak pernah kulihat ibu begitu tergesa-gesa menyiapkan minuman. Biasanya ibu hanya begitu ketika almarhum bapak pulang dari bekerja. Lagipula, kakakku itu, sejak kapan dia sangat berbaik hati membiarkanku bermain di jam-jam seperti ini. Biasanya aku harus membantunya memberi makan ayam-ayam, memotong tempe yang akan di jual ke pasar, dan membersihkan rumah. Setelah itu baru aku akan diijinkan bermain sebentar, sebelum aku diteriakinya lagi untuk tidur siang.

Tapi sebagai anak terkecil yang selalu dianggap anak bawang, dengan ringan kuturuti saja perintah mereka. Hanya ada satu kejanggalan yang tak mau lepas dari benakku ketika aku mencari teman-temanku untuk bermain. Wajah ibu dan kakakku. Ketika tergopoh-gopoh tadi, wajah mereka begitu pucat dan tegang.

Setelah beberapa kali memanggil teman-temanku dan tak menemukan siapapun untuk diajak bermain. Ditambah sebenarnya aku masih penasaran dengan wajah ibu dan kakakku yang pucat. Aku kembali ke rumah. Diam-diam aku menyusup di balik gorden menuju ruang tamu. Diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Dan diam-diam merekan semua kejadian yang terjadi hari itu.

Aku mendengar banyak. Tapi pembicaraan yang banyak itu sama sekali tak kumengerti. Tentang hutang, bunga yang tinggi, rumah, disita. Aku sedikit mengerti arti kata-kata itu satu persatu. Tapi ketika kata-kata itu terangkai dalam kalimat yang keluar dari mulut lelaki kurus berbaju mewah tadi, aku benar-benar tersesat menemukan makna.

Akhirnya, -setelah mereka semua pergi-, yang kulihat hanya mata ibuku yang berlinangan air mata, dan mata kakak yang berkaca-kaca. Kaca-kaca yang kemudian pecah menjadi butiran basah ketika dia mendapatiku berdiri di belakang kelambu dan menatapnya dengan mata bertanya-tanya.

Aku mungkin mendengar dan melihat semuanya. Aku bahkan mengingat setiap detil yang ada. Namun aku yang saat itu berusia lima tahun masih terlalu muda untuk memahami, bahwa seekor lintah besar baru saja mendatangi rumah kami. Dan lintah itu pergi, setelah menyedot semua kebahagiaan dalam tubuh kami.

***

“Ran! Rani!”

Aku terbangun oleh sebuah tepukan keras di punggungku. Kaget, aku segera berdiri dengan kesadaran yang masih terkumpul sebagian. Segera saja aku merasa malu mendapati kepala perawat lah yang telah membangunkanku. Aku segera merapikan seragam dan membenahi rambutku yang sedikit acak-acakan.

“Segera ke ruang bersalin. Seorang pasien baru datang dan akan melahirkan.” Kata kepala perawat cepat tanpa sedikit pun menyinggung keteledoranku. Aku hanya mengangguk –lebih karena aku tak sanggup menjawab sebab telah tertangkap basah oleh kepala perawat, tertidur saat jam jaga -, dan bergegas menuju ruang bersalin.

Dalam perjalanan menuju rung bersalin aku terus merutuki diriku sendiri. Kenapa aku bisa tertidur di saat-saat genting begitu. Bukan berarti biasanya aku tak pernah ketiduran, tapi ketika aku ketiduran seringkali tak ada pasien gawat darurat yang datang. Tapi sekarang, malam-malam begini, akan ada orang yang melahirkan.

Hah… beberapa bayi kadang memang tak mengerti waktu, aku mendengus. Tapi tiba-tiba saja ingin tertawa dengan pikiranku sendiri. Sesampainya di ruang bersalin dokter segera menyuruhku mengambil data pasien, sementara mereka sendiri akan segera menangani proses persalinannya.

“Suaminya menunggu di luar. Dia diperbolehkan masuk, tapi jika tidak menganggu proses persalinan.” Kata dokter.
Aku mengangguk dan segera keluar ruangan. Beberapa orang berseliweran di koridor, tapi ada seorang laki-laki yang berdiri dengan canggung di depan ruang bersalin. Laki-laki itu terlihat gelisah karena berkali-kali mondar-mandir. Tak salah lagi, dia pasti suaminya. Segera kudatangi laki-laki itu.

“Permisi, Pak… apa Anda suaminya?” tanyaku. Lelaki itu menoleh dan melihatku.

Segera saja aku merasakan darahku membeku ketika mata lelaki itu bertatapan dengan mataku. Jantungku seolah berhenti berdetak. Kepalaku terasa gamang, sampai-sampai suaranya yang berkata “iya” hampir tak kudengar.

Aku mengepalkan tanganku erat, berusaha keras menguasai diriku sendiri. Dengan segera kusodorkan lembaran-lembaran administrasi yang sedikit kuremas tadi padanya. “To… tolong isi data-data pasien dulu, Pak.” Akhirnya aku sanggup bersuara.

Lelaki itu melihatku dengan seksama. Mungkin heran dengan ekspresi perawat di hadapannya yang tiba-tiba saja berubah. Atau heran melihat perawat itu tiba-tiba saja tergagap ketika melihat wajahnya. Mungkin juga, wajah perawat muda di hadapannya ini mengingatkannya pada suatu hal yang telah dia lakukan di masa silam.

Tidak… tidak mungkin pilihan yang terakhir. Karena lelaki di hadapanku ini tidak berkesempatan melihat wajahku. Jadi tak mungkin dia bisa mengingat apa yang sudah dilakukannya padaku. Akulah. Aku yang berkesempatan merekam wajahnya. Setiap detil pakaian dan perilakunya. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas sorot matanya yang tajam, dingin, tanpa belas kasihan. Juga bau parfumnya yang menyengat, yang hingga sekarang masih mendatangkan mimpi buruk setiap kali kuingat.

Tanpa berlama-lama, lelaki itu segera mengisi lembar-lembar yang kuberikan padanya. Sementara aku masih mematung. Tak menyangka bahwa, sungguh, dunia ini hanya sebesar daun kelor. Tak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga aku hanya berdiri di sana. Menunggunya menyelesaikan tugas tulis-menulisnya, sambil merasakan darahku yang dingin perlahan memanas dan menggelegak. Mengantarkan memori lima belas tahun silam padaku.

***

Aku tak tahu apakah ikatan darah dan batin memiliki andil dalam hal ini. Tapi aku ikut menangis segera setelah melihat ibu dan kakakku menangis. Padahal aku sama sekali tak tahu mengenai apa yang sudah terjadi. Kakak hanya berkali-kali mengusap air mata yang berlelehan di wajahnya sambil memelukku.

“Tidak apa-apa… tidak apa-apa… semua akan baik-baik saja…” hanya itu yang digumamkannya berkali-kali, di antara sesenggukannya.

Aku tak mengerti apa yang dimaksud kakak dengan “baik-baik saja” saat itu. Karena kenyataannya, tak ada yang “baik-baik saja” setelah hari itu. Semua perhiasan dan harta benda ibu yang masih berharga dijual, bahkan ayam-ayam kami juga ikut dijual. Kami harus meninggalkan rumah, dan mengungsi di tempat kakak ibu, yang berarti adalah paman kami.

Kediaman paman itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang rumah, tempat bernaung. Bibi kami, istri muda paman, tak henti-hentinya menyuruh kami bekerja –bahkan ibu yang sudah tua pun masih disuruhnya bekerja keras-.  Dari pagi hingga pagi lagi. Selalu saja ada piring-piring kotor, baju-baju kotor, atau tempat kotor yang harus kami –aku dan kakakku- bersihkan.

Tak hanya itu, telinga kami juga tak henti-hentinya dicekoki oleh omelan-omelannya yang selalu menyalah-nyalahkan kami. Keras, dan tak jarang juga disertai kata-kata kotor dan makian. Kami jarang sekali diberi makanan yang enak dan banyak. Tapi perut kami sudah kenyang dengan berbagai serapah dan julukan seperti “pemalas”, “pengemis”, tukang numpang”, “orang miskin”, “benalu”, dan banyak lagi.

Aku seringkali menangis dan mengadu pada kakak ketika bibi mengata-ngatai dan menyakitiku. Tapi kakakku yang sangat tegar selalu mengatakan bahwa satu-satunya cara melawan bibi adalah dengan terus bekerja keras dan belajar rajin. Hingga kami bisa cepat-cepat pergi dari rumah ini. Sejak itu aku tak pernah lagi mengadu padanya. Tak pernah lagi menangis, kecuali secara diam-diam.

Setelah hampir setahun tinggal dalam neraka yang raja iblisnya adalah bibi kami sendiri, akhirnya kami berhasil pergi dari rumah itu dan menyewa sebuah rumah kecil di dekat pasar. Kecil, agak reot, dan bising. Tapi rumah itu terlihat seperti istana firdaus di mataku. Karena hanya akan ada aku, kakak, dan ibu. Seperti sedia kala.

Sayangnya kata “sedia kala” sungguh tak tepat, dan terlalu muluk-muluk untuk diharapkan. Karena dengan menyewa rumah dan menghidupi diri kami sendiri berarti adanya tambahan pengeluaran. Sementara pemasukan terbatas dari pekerjaan ibu sebagai pembuat tempe dan kakak yang menyambi sebagai buruh cuci sepulang sekolah. Aku biasanya juga membantunya.

Akhirnya, ibu harus bekerja lebih keras. Setiap sore, selain membuat tempe ibu juga menerima cucian dari tetangga. Kakak juga mengambil pekerjaan lebih banyak. Setelah maghrib –setelah menyelesaikan cucian tetangga- dia akan membantu mengajari anak-anak kecil di daerah kami belajar membaca. Entah kenapa, seperti tanpa diminta, kedua orang itu bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Seringkali ketika memikirkan hal itu, aku menjadi marah pada diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa karena masih terlalu kecil. Aku juga terus-menerus bertanya-tanya… bagaimana keadaan bisa berubah seperti ini. Setiap kali mencari siapa yang bersalah, yang muncul dalam kepalaku hanya raut wajah seorang laki-laki kurus yang berpakaian serba mewah. Laki-laki yang datang hari itu. Laki-laki yang datang untuk mengambil semua milik kami.

***

“Sudah Mbak.” Laki-laki itu menyodorkan kembali lembaran-lembaran yang tadi kuberikan padanya, kali ini sudah terisi penuh. Aku masih melihatnya dengan tatapan dingin.

Ingin sekali aku meneriakkan padanya apa yang sudah kulewati, yang sudah dilewati oleh kakak dan ibuku. Semua karena dia! Ingin sekali aku menyuruhnya bertanggung jawab saat ini juga. Atau paling tidak, memukulinya sampai mati kurasa sudah cukup untuk memuaskan segala sakit hatiku atas semua penderitaan yang disebabkan olehnya.

Tidak… aku hanya ingin bertanya padanya satu hal… apa dia mengingat kakakku? Apa dia mengingat ibuku? Aku hanya ingin tahu, apa laki-laki ini bahkan mengingat wajah-wajah orang yang kebahagiaannya dia hisap?

“Mbak?” laki-laki itu menanggilku dengan nada heran. Mungkin karena aku masih mematung. Aku menghela nafas panjang. Bukan… ini bukan saatnya.

“Iya, terima kasih Pak. Bapak boleh masuk, tapi diharapkan bapak jangan mengganggu proses persalinan.” Kata-kata itu meluncur kaku seperti bongkahan batu yang jatuh vertikal. Dingin, seperti angin malam yang kini bermain-main dengan bara api yang kupendam dalam hatiku.

Laki-laki itu segera masuk ke ruang persalinan. Aku menyerahkan berkas-berkasnya pada petugas administrasi dan kembali ke ruang persalinan untuk membantu. Sebenarnya, aku hanya berdiri saja di sudut, bertugas menyiapkan handuk hangat dan air, serta alat-alat lain yang dibutuhkan nanti.

Pikiranku masih kacau. Aku tak mampu berkonsentrasi pada saat ini. Terlebih lagi ketika menyadari laki-laki itu berada satu ruangan denganku. Mungkin yang dia tahu, dia hanya datang ke rumah kami dan mengambil semua yang kami miliki. Tapi apa dia tahu apa yang terjadi setelah itu? Apa dia tahu dia telah merenggut nyawa seorang ibu, dan mengambil mimpi dari seorang gadis pekerja keras seperti kakakku?

***

Itu benar. Setelah berbulan-bulan menjalani hidup yang seolah hanya diisi bekerja dan bekerja, ibuku jatuh sakit. Kata dokter, penyakitnya tak hanya dari segi fisiknya yang terus diforsir, tapi juga dari segi psikis. Ibu memang tak pernah terlihat marah, sedih, atau bahkan mengeluh. Ah, ibu kami yang malang… rupanya sejak dulu beliau selalu memendam semua penderitaan yang dirasakannya sendiri.

Sehari-harinya ibu hanya berbaring di kamar, sehingga tugas kakak untuk mencari uang menjadi semakin berat. Mencuci baju sepulang sekolah dan mengajar membaca seusai maghrib sudah tak cukup lagi untuk membiayai hidup kami. SPP sekolahku dan kakak saja sudah berbulan-bulan tak dibayar.

Semua itu memaksa kakakku mengambil keputusan yang berat. Dia berhenti sekolah. Padahal waktu itu, sekolah dasar belum juga ditamatkannya. Aku menentangnya, begitu juga ibu. Walaupun sebenarnya kami tahu, tak ada jalan lain. Tapi kakak dengan tegasnya berkata sambil tertawa:

“Coba lihat aku. Aku ini bodoh. Nilai-nilaiku selalu jelek. Anak sepertiku tak ada gunanya disekolahkan tinggi-tinggi. Aku akan bekerja saja. Lagipula aku lebih suka bekerja daripada belajar.”

Kebohongan besar. Kebohongan yang sangat besar. Malam itu kulihat dia menangis sesenggukan ketika mengepak buku-buku pelajarannya. Tangannya memegangi buku-buku itu dengan sayang. Seperti seorang ibu yang tak tega meninggalkan anaknya sendiri di kegelapan malam.

Aku segera menghambur padanya. Memeluknya sambil ikut menangis. Kali ini bukan karena ikatan darah atau batin, karena aku juga merasakan sakit di dadaku. Aku mengatakan padanya bahwa aku juga akan berhenti sekolah. Aku juga akan membantunya mencari uang.

Tapi saat itu kakak menatapku sambil memegang wajahku. Sorot matanya yang tajam, tapi penuh rasa sayang, meyakinkanku. Katanya:

“Jangan kau jadi bodoh seperti aku. Kalau aku dan kau sama-sama berhenti sekolah, lalu siapa yang akan membuat bangga ibu kita? Kau teruslah belajar yang rajin… kau harus jadi orang pintar dan sukses. Kau pernah bilang ingin jadi perawat kan?” aku mengangguk.

“Kalau begitu kau harus janji pada kakakmu ini. Janjilah bahwa kelak kau akan jadi perawat yang pintar. Kau akan jadi apa yang kau cita-citakan. Kau berjanji?” kata-katanya tersendat-sendat. Aku mengangguk lagi.

***

Dan seperti yang sudah kukatakan tadi. Laki-laki itu telah merenggut nyawa ibuku. Setelah beberapa bulan sakit keras, akhirnya ibu meninggal karena penyakit komplikasi yang tak tertolong lagi. Yang kutahu, bukan penyakit komplikasi itu yang telah membunuh ibuku. Tapi kebahagiaan yang telah direnggut laki-laki itu, membuat ibuku mati secara perlahan. Sejak kami keluar dari rumah, tak pernah sekalipun kulihat ibuku tersenyum. Ibuku lebih banyak menghabiskan waktu kosongnya untuk menyendiri dengan mata menerawang.

Sungguh ironis. Lelaki itu telah membunuh ibuku, menghancurkan masa depan kakakku, dan merampas masa-masa kecilku yang damai. Sementara sekarang, di ruangan ini… aku malah membantu istri laki-laki itu melahirkan keturunannya. Aku masih mematung di pojok ruangan. Hanya melihat perempuan yang bersimbah keringat itu berjuang melahirkan bayinya. Dan laki-laki itu menyemangati istrinya sambil menggenggam tangannya erat. Aneh sekali, perempuan itu masih muda, sementara laki-laki itu sudah terlihat tua. Bisa jadi perempuan ini adalah istri kedua atau ketiganya. Aku semakin tak berminat ikut andil dalam proses persalinan ini.

Setelah beberapa menit, perempuan itu seperti kelelahan mengejan. Aku masih bergeming. Diam-diam aku berharap proses persalinannya gagal dan bayi laki-laki itu mati kehabisan nafas, tercekik, atau tenggelam dalam air ketuban istrinya sendiri. Aku benar-benar berharap aku bisa melihat karma yang menimpa laki-laki itu dengan mataku sendiri.

Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Setelah beberapa saat, perempuan itu terlihat kuat lagi. Dan dengan sekuat tenaga dia kembali mengejan. Dokter-dokter dan para perawat terus menyemangatinya. Walaupun sepenglihatanku, belum ada tanda-tanda bayi itu mau keluar.

“Aku sudah melihat rambutnya. Hitam sekali. Ayo, dorong lagi. Lebih kuat.” Kata seorang suster yang bertugas melihat bayinya. Perempuan itu semakin bersemangat. Dan keajaiban pun terjadi. Dalam sekali dorongan, bayinya keluar. Tapi tak ada suara tangis yang terdengar.

Ruangan menjadi hening.

Suster itu menatap bayi yang ada di tangannya tanpa berkata-kata. Dia berkali-kali menyebut nama Tuhan. Sementara semua orang –termasuk aku- mulai bertanya-tanya dalam diam.

Suster itu seperti meletakkan sesuatu –yang kuyakini adalah bayi- di meja persalinan, dan segera jatuh tak sadarkan diri.
Semua orang segera panik, dan mengerubunginya. Beberapa mengkhawatirkan bayi yang baru lahir itu, dan beberapa hanya ingin tahu apa yang terjadi. Aku termasuk salah satu yang ingin tahu apa yang terjadi dengan bayi yang baru lahir itu.

Sekejap aku mendengarkan orang-orang yang ada di ruangan itu berbisik-bisik heran sambil mengerubungi suter dan bayi yang baru lahir tadi. Hingga akhirnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bisikan-bisikan itu tidak disebabkan oleh suster yang pingsan tadi, tetapi karena bayi itu. Bagaimana harus kukatakan… bayi itu berkepala manusia. Memiliki dua tangan dan kaki, seperti manusia normal. Tapi bayi itu bukan manusia.

Tubuhnya gemuk. Terlihat kenyal dan tak bertulang. Warnanya hitam legam dan sedikit transparan seperti plastik tebal. Bayi itu berbentuk seperti hewan. Hewan yang muncul di kepalaku setiap kali aku mengingat ayahnya.

Bayi itu menyerupai lintah.

***

#hanya karena kau tak melihatnya, bukan berarti karma tak ada
March 18th, a year ago

One thought on “Lintah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s