NYALA(NG)

pict credit: therasaule.deviantart.com
pict credit: therasaule.deviantart.com

“Sudah waktunya…”

Bisikan itu lewat begitu saja. Halus, menembus kulit dan tulang. Tak hanya sampai di gendang telinga, tapi juga merasuk di jiwanya. Alis gadis itu berkerut. Matanya yang semula terpejam dengan tenang berkedut-kedut. Konsentrasinya terganggu.

Sudah waktunya? Sekarang?

Detak jantungnya mendadak liar. Meski begitu, raut wajahnya tak berubah sama sekali. Tetap dingin dan kencang. Tenang, tak menunjukkan gejolak sama sekali. Padahal rasa dalam dadanya meletup-letup. Tak sabaran.

Setelah tujuh tahun menunggu, benarkah ini akhir penantiannya? Penderitaan selama dua tahun, dan perjuangan keras selama lima tahun, semuanya berujung pada saat ini. Hari ketika dia akan menuntaskan urusan yang belum terlaksana.

“Waktu semedimu sudah selesai, Sekarwengi. Kau sudah mendapatkan kekuatan yang kau inginkan,” suara gurunya terdengar jelas, meski gadis itu yakin sosok gurunya tak ada bersamanya.

Ajian Pati Geni, itulah jurus yang selama ini diharapkannya. Ilmu kanuragan yang kabarnya bisa membunuh musuhnya dengan cara cepat. Secepat mematikan api dari sumbunya. Tanpa suara, tanpa bekas. Ajian ini akan meniup mati api kehidupan dari jiwa pemiliknya.

“Kekuatan ajian Pati Geni bersumber pada mata, Sekarwengi. Mulai sekarang, matamu tak akan bisa menutup, bahkan ketika kau tidur,” jelas gurunya.

Sekarwengi mengangguk. Itu hanya syarat kecil yang pasti bisa dilewatinya dengan sangat mudah. Gadis itu pun membuka matanya perlahan. Ada yang berubah. Dia merasakan matanya menjadi keras dan panas.

Bening. Berkobar. Seperti lapisan es yang menyimpan magma. Setidaknya itu yang dilihatnya ketika melihat pantulan matanya pada genangan air di depan batu tempatnya bersila. Mata yang menakutkan. Bibir gadis itu membentuk senyuman. Baginya, itu adalah mata yang penuh kekuatan.

Perlahan gadis itu berdiri. Bagian paha dan tempurung kakinya hampir mati rasa setelah bersemedi selama lima tahun. Tak ada makanan yang melewati kerongkongannya kecuali air dari batu stalaktit yang menetes tepat di atas kepala. Setiap hari dia harus mendongak untuk meminumnya agar tetap hidup.

Sekarwengi berjalan menuju mulut gua yang terbuka lebar. Telinganya menangkap derasnya aliran air. DAS Brantas. Matanya menyusuri pinggiran sungai, jalan setapak, lurus terus ke Kuto Bedah. Jalan itu akan membawanya menuju Kebalen, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Singosari. Di sana, seorang pria sedang menunggunya.

Ketika kakinya hendak melangkah keluar gua, didengarnya gurunya berkata sekali lagi: “Ingat Sekarwengi, ajian Pati Geni hanya bisa kau gunakan satu kali. Setelah itu, matamu akan kembali normal.”

Satu kali saja sudah cukup, batinnya. Diambilnya keris peninggalan ayahnya, diletakkannya hati-hati di pinggang kanan. Kemudian dengan langkah mantap, gadis itu meninggalkan gua persembunyiannya.

***

“Semua barang sudah dikemas, Raden,” seorang abdi dalem melapor, sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Sementara itu, pria yang dipanggil Raden masih tercenung. Matanya menerawang keluar jendela. Entah apa yang dilihatnya di kejauhan.

“Raden Abiseka?” abdi dalem itu tampak keheranan. Sejak beberapa hari yang lalu, perilaku junjungannya itu menjadi aneh. Dia terlihat mondar-mandir ke sana kemari. Seperti ada yang mengganggu pikirannya.

“Oh… ya. Siapkan juga kudanya.” Jawab Abiseka cepat.

“Kereta kuda juga sudah disiapkan, Raden.”

Abiseka tak punya alasan lagi untuk melamun berlama-lama. Akhirnya, dia keluar dari kediamannya. Di halaman depan, sebuah kereta kuda sudah menunggu. Bagian belakangnya penuh dengan barang. Sementara di dalam, Ayu Utari – istrinya, sudah menunggu. Setelah pria itu naik, kereta pun berjalan.

“Kanda, apa yang membuatmu tiba-tiba ingin meninggalkan Singosari?” Ayu Utari bertanya. “Aku tak mengerti kenapa kau memilih untuk pindah ke Palandit. Benarkah kau ingin mendalami Chiwa bersama para resi?”

Abiseka masih bungkam. Pandangannya yang menerawang membawanya kembali pada kejadian tujuh tahun lalu. Ketika dia masih belum menjadi bangsawan di Singosari. Ketika dia masih menjalani kehidupan liar bersama rekan-rekannya. Segerombolan perampok yang menaklukkan seluruh dusun di pinggiran Singosari.

Sekelebat bayangan muncul. Gadis kecil yang dibiarkannya kabur dari kobaran api. Gadis itu melihat keluarganya dibantai dan rumahnya dibakar. Matanya yang ketakutan. Entah kenapa akhir-akhir ini dia terus dihantui oleh mata gadis kecil itu. Nyalang, penuh air mata yang memantulkan kobaran api di hadapannya. Mata itu yang membuat Abiseka tak bisa membunuhnya. Mata itu merontokkan keberaniannya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin serius mendalami agama?” didengarnya Ayu Utari masih terus bertanya.

“Dosa,” gumamnya getir.

***

Angin malam meniup anak-anak rambut di dahi Sekarwengi, sementara rambut hitam lurusnya terikat kuat ke belakang. Dingin yang dihantarkan rintik-rintik hujan tak mengganggunya. Begitu juga dengan suara-suara monyet Palandit yang bergelantungan di pepohonan sekitar padepokan. Konsentrasinya masih tertuju penuh pada kegiatan orang-orang di bawah atap tempatnya bersembunyi sekarang.

Pria itu ada di sini. Di antara para resi yang belajar Chiwa di bawah. Slentingan yang didengarnya ketika sampai Singosari mengatakan bahwa pria itu sudah pergi sebulan yang lalu. Mereka bilang dia telah tinggal bersama resi di Palandit, pusat mandala dan pusat keagamaan.

Apa yang dilakukannya bersama para resi? Mungkinkah dia sudah bertobat?

Sekarwengi tak peduli. Yang jelas, pria itu punya urusan yang belum selesai dengannya. Dia harus membayar apa yang sudah dilakukannya tujuh tahun lalu. Hutang nyawa yang harus dibayarnya dengan nyawa.

Suara gaduh di bawah sudah berkurang. Sekarwengi menajamkan mata kacanya. Itu dia. Meski penampilannya sudah banyak berubah, namun Sekarwengi tak mungkin melupakan wajah pria itu. Dia bersama seorang resi tua masuk ke sebuah candi.

Secepat kilat, dan tanpa bersuara, Sekarwengi mengikuti mereka dari belakang. Dari luar candi dia bisa melihat pria itu bersemedi di depan arca lingga. Sementara resi di sebelahnya duduk bersila, sambil merapalkan doa-doa.

Ini saatnya.

Sekarwengi melangkah ke dalam candi. Pelan. Dia akan membunuh pria itu dengan cepat, dalam diam. Namun belum sampai dua langkah di dalam candi, resi tua tadi sudah menghadangnya.

“Apa maumu?” Tanya resi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan Sekarwengi.

Tampaknya dia bukan resi sembarangan. Bahkan dia bisa mendengar kedatangan Sekarwengi, walau gadis itu sudah menggunakan ilmu meringankan tubuh yang membuat langkahnya tak terdengar. Mungkin sejak tadi sebenarnya dia sudah mengetahui keberadaan Sekarwengi. Itulah kenapa dia mengawal pria itu bersemedi.

“Minggir, Bopo Resi. Urusanku hanya dengan pria itu.” Jawab Sekarwengi.

“Pati… geni,” Resi itu terperangah ketika melihat mata Sekarwengi dengan jelas.

Bibir Sekarwengi tertarik ke samping, membentuk senyuman licik. Resi ini mengenali ilmu yang baru saja didapatkannya. Ilmu yang khusus dicarinya untuk membunuh pria itu.

“Abiseka sudah menceritakan semuanya padaku. Mengenai dosa-dosanya di masa lalu. Dia tak membunuh keluargamu. Saat itu dia hanya suruhan. Dia ditugaskan untuk mengejar dan membunuhmu, namun dia tak mampu. Abiseka tak ikut membunuh keluargamu.” Resi itu menjelaskan panjang lebar. Namun Sekarwengi sama sekali tak gentar.

“Tapi dia membiarkan kelompoknya membunuh keluargaku, Bopo. Dia membiarkannya tanpa melakukan apapun. Dia sama bejatnya dengan mereka. Sama-sama berdosa.” Jawabnya.

“Dia sudah bertobat. Dia di sini untuk membayar dosanya.”

“Haha…” Sekarwengi tak bisa menahan tawa. “Dosanya tak bisa dibayar dengan bersemedi. Dosanya harus dibayar dengan kematian!”

Sekarwengi menerjang resi itu untuk mendekati Abiseka yang masih tenang bersemedi. Namun tampaknya resi itu cukup lihai. Dia berhasil mengelak dan membalikkan terjangan Sekarwengi dengan gerakan yang gemulai.

Sekarwengi tak habis akal. Dengan ilmu peringan tubuhnya, dia melompati tubuh sang resi. Dengan sigap dia menarik keris pusaka milik ayahnya. Sambil menukik ke bagian belakang sang resi, gadis itu menghantamkan pangkal kerisnya ke tengkuk resi itu.

Tersungkur, sang resi masih berusaha bangkit. Namun tubuh muda Sekarwengi yang penuh tenaga terlalu cepat. Jari lentik Sekarwengi menotok tubuhnya hingga resi tua itu tak bisa bergerak. Setelah berhasil melumpuhkan sang resi, mata Sekarwengi tertuju pada Abiseka.

“Kedatanganmu memang sudah kuperkirakan,” tanpa diduga, Abiseka membuka matanya.

“Berarti kau sudah siap mati?”

“Ya, aku sudah menyiapkan diri untuk mati, jika itu bisa melunasi hutangku.”

Abiseka melihat wanita di depannya dengan jelas. Ya, dia adalah gadis kecil yang dulu dibiarkannya kabur. Kini gadis itu sudah menjelma menjadi wanita cantik dengan muka beringas. Hanya matanya yang berbeda.

Gadis kecil itu dulu punya mata api yang berair. Mata yang ketakutkan. Sementara wanita ini tak punya bola mata. Dalam rongga matanya hanya ada api yang tertutup gelas kaca. Biru, seperti darah bangsawannya. Biru, seperti dendam yang menyala. Ah, tidak… matanya tak berubah. Masih tetap nyalang. Masih tetap penuh kebencian.

Sekarwengi mendekati Abiseka. Ditariknya baju resi Abiseka hingga wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya. Hingga mata mereka berbenturan.

“Lihat mataku dalam-dalam Abiseka. Rasakan api kehidupanmu yang mulai kulucuti, hingga kau tak bernyawa lagi,” bisiknya pada Abiseka. “Ajian Pati Geni!”

Sekarwengi bisa merasakan matanya terbakar. Api di dalam matanya bergejolak. Namun tak terjadi apa-apa pada Abiseka. Mata pria itu masih tenang menatap matanya.

Apa yang terjadi?

“Ajian Pati Geni!” Sekali lagi, Sekarwengi coba menggunakan ajiannya. Namun tetap tak ada yang terjadi. Mata Abiseka mulai menunjukkan keheranan.

“Pati Geni tak akan mempan padanya,” didengarnya resi tua itu berkata. Geram, Sekarwengi menghempaskan tubuh Abiseka ke belakang.

“Kenapa tak mempan? Apa yang sudah kau lakukan padanya?”

“Kau tak tahu? Pati Geni bekerja dengan mematikan geni, api kehidupan dan amarah dalam diri manusia. Abiseka, dia sudah tak punya geni. Dia tak punya kemarahan, emosi. Dia sudah menyerahkan jiwanya untuk menebus dosa. Tak ada geni dalam dirinya. Tak ada geni yang bisa kau matikan.” Jelasnya, membuat Sekarwengi mematung tak percaya.

Pria itu tak bisa dibunuh dengan ajian Pati Geni. Tapi bagaimana pun Sekarwengi ingin melihatnya mati. Dengan sigap, gadis itu menghunus kerisnya.

“Jangan lakukan itu,” Sang resi mencoba menghalanginya. “Kau akan terbunuh sendiri.”

“Bagaimana bisa?”

“Geni… geni dalam dirimu. Ilmu Pati Geni ditenagai oleh dendam. Oleh api kebencian yang menyala dalam dirimu. Tak tahukah kau kenapa Pati Geni hanya bisa digunakan satu kali? Itu karena setelah mematikan api kehidupan orang lain, pemilik Pati Geni akan terbakar oleh api dalam dirinya sendiri. Pati Geni adalah ajian bunuh diri.”

Sekarwengi tak tahu, gurunya tak pernah memberitahu tentang hal ini. Tapi dia merasa resi itu benar. Ketika menggunakan ajian Pati Geni pada Abiseka tadi matanya memang terasa terbakar. Tanpa disadarinya, suhu tubuhnya telah meningkat. Tangannya yang memegang keris juga terasa panas.

“Satu-satunya cara menghilangkan ajian itu adalah dengan memadamkan api dalam dirimu sendiri. Dengan begitu kau bisa hidup.”

Sekarwengi melihat Abiseka sekali lagi. Pria itu masih tetap tenang. Matanya tak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Hanya ada kekosongan dan rasa pasrah.

Rasa muak menjalari Sekarwengi. Disarungkannya kembali keris pusaka di pinggang. Tanpa pikir panjang, dia melepaskan totokan resi tua itu. Kemudian dengan cepat dia pergi meninggalkan candi. Meninggalkan Palandit.

***

Suara aliran DAS Brantas yang semakin deras masuk ke telinga Sekarwengi. Gadis itu kembali ke gua tempatnya bersemedi. Kali ini bukan untuk mencari ajian lagi. Dia hanya ingin menenangkan batinnya.

Meski masih diliputi perasaan muak ketika melihat Abiseka, sudah diputuskannya untuk tak lagi mengejar pria itu. Abiseka yang berada di Palandit bukan pria yang dulu membiarkannya pergi. Pria yang ikut membantai keluarganya tujuh tahun lalu sudah mati. Abiseka yang berada di Palandit hanya raga tanpa sukma. Jiwanya sudah berada dalam kekosongan.

Sesungguhnya Sekarwengi merasa iri sekaligus marah ketika melihat Abiseka bisa mendapatkan ketenangannya. Sementara dia masih harus dikuasai amarah yang dibawa sejarah. Iri, marah, itulah yang membuat Sekarwengi muak melihat wajah Abiseka. Memandang matanya yang tenang dan kosong.

Sekarwengi menarik napasnya dalam-dalam. Matanya masih tetap terbuka karena ajian Pati Geni yang belum digunakannya. Ajian itu mungkin tak akan pernah dipakai. Tapi tak masalah. Nanti… ketika semua geni amarah dalam dirinya sudah berhasil dipadamkan, matanya akan kembali terpejam.

Namun untuk saat ini matanya akan terus terbuka. Nyalang. Dengan dendam yang masih meletup-letup. Seperti api, menyala-nyala dalam balutan dendam yang tak bisa tuntas.

***

NB: Cerpen ini diikutkan Lomba Percikan Api BOM CERPEN
Dapat nilai 6,75 dan komentar dari Viva Westi: “”Buat saya pribadi, cerpen ini agak rumit untuk dimengerti karena harus membacanya hingga berulang kali untuk mendapatkan esensinya.”
’nuff said…

30 Januari 2013, 22.19 WIB
Tunggulwulung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s