Membunuh Mei

picture credit: patsloan.typepad.com
picture credit: patsloan.typepad.com

Pria itu menamaiku Mei, sama seperti gadisnya. Bukan, bukan benar-benar gadisnya, tapi gadis yang digilainya. Ya, hanya digilainya, karena dia tak akan pernah mendapatkan gadis bernama Mei itu. Dia pengecut, dan selamanya dia hanya bisa melihat gadis itu dari balik jendela kamarnya yang ada di lantai dua.

Namaku Mei, dan pria itu sudah membunuhku sepuluh kali. Dan kalau kali ini Mei yang ada di seberang jalan itu punya kekasih lain, aku yakin, aku akan mati sekali lagi.

Setahun yang lalu, ketika pria itu mulai jatuh cinta pada Mei, dia menciptakanku. Rambutku hitam kecoklatan, seperti rambut Mei. Mataku sipit berbulu mata lentik, sama seperti Mei. Kulit kuning langsat, mirip Mei. Tubuh jangkung dengan pinggang sedikit lebar, Mei juga begitu. Kemudian pria itu memanggilku “Mei” seperti nama gadis yang dicintainya. Aku menjadi Mei, tokoh cerita yang dibuatnya.

Bulan April adalah bulan kematianku yang pertama. Tuanku melihat Mei bergandengan dengan pria lain di bawah bulan purnama. Tak hanya bergandengan, pria berbadan kekar itu juga mencium Mei di bawah sinar bulan. Di depan pagar rumahnya. Di bawah jendela kamar tuanku. Di depan matanya.

Lalu melalui jemari-jemarinya, tuanku mencipta pria, sama seperti pria kekar yang mencium Mei di bawah purnama. Dia buat pria itu menyakitiku. Karena tak tahan dengan kekerasan, aku disuruhnya menenggak racun. Matilah aku. Matilah Mei dalam cerita tuanku. Tertawalah dia.

Sekejap. Lalu dia menghidupkanku kembali ketika tahu Mei punya pacar baru. Kali ini pria perlente yang membawa ferrari. Dia kembali geram, ketika melihat Mei bermesraan di belakang kemudi mobil mewah bersama kekasih barunya.

Lagi-lagi, dengan jemari ajaibnya, tuanku mencipta pria. Tampan, dengan ferrari berwarna merah menggoda. Dia membuatku dan pria tampan itu berjalan-jalan, bermesraan. Sebelum akhirnya menjatuhkan kami ke jurang. Pria itu mati terbakar. Ferrarinya berubah jadi rongsokan. Dan aku, Mei, dibuatnya hangus tak bersisa. Sekali lagi, tertawalah dia.

Ah, begitulah perangai tuanku. Aku dihidupkannya, lalu dimatikannya lagi. Sudah mirip sakelar lampu saja caranya memperlakukanku semena-mena. Tak diizinkannya aku benar-benar jatuh cinta dengan pria yang selama ini diciptakannya. Mulai dari pria kekar yang jago mencium itu, pria tampan dengan ferrari menawan, si jago basket, pria tajir yang posesif, sampai pria brondong yang genitnya minta ampun.

Ujung-ujungnya sama saja. Mereka mati. AKu juga mati. Tuanku tertawa, tapi cuma sekejap sebelum dia menghidupkan dan membunuhku lagi. Huh, bosan aku dibuatnya. Jadi ketika dia datang untuk menghidupkanku lagi, kukatakan padanya:

“Kali ini pria seperti apa yang mendekati Mei?”

Tuanku itu terperangah. Tak menyangka tokoh rekaannya bisa bicara padanya. Dia hanya melihat layarnya mengetik kata-kata sendiri. Yah, memangnya harus dengan cara apa lagi aku bicara dengannya? Aku hanya hidup di kotak hitamnya selama ini. Hanya melalui huruf-huruf dan layar itu aku bisa berkomunikasi dengannya.

Dia mengetik: “Pria kaya, tapi sudah tua. Tampaknya ibu Mei menjodohkannya.”

Oh, coba lihat! Dia berhenti mengetik dan menatap layar lekat-lekat. Tampaknya dia menunggu jawabanku. Aku tentu tak akan membuatnya lama menunggu. Jadi kubilang:

“Kasihan Mei, pada akhirnya dia harus menikah dengan pria yang tak disukainya? Kau juga kasihan Tuan, pada akhirnya kau juga tak akan pernah mendapatkan Mei, yang sesungguhnya,”

Setelah membaca jawabanku, cepat-cepat dia mengetik lagi:

“Tak akan pernah mendapatkan Mei?” Belum sempat aku menjawabnya, dia mengetik lagi, kali ini sepertinya dengan sedikit geram.

“Jika dia tak bisa jadi milikku, tak ada yang boleh memilikinya!”

Ups, tanda seru! Meski terlihat kurus, tanda itu seperti meneriakkan kalimatnya ke kepalaku. Kenapa dia harus semarah itu? Masih kebingungan, kujawab pertanyaannya.

“Kau marah? Bukannya itu benar? Kau tak bisa menghalanginya menikahi pria itu bukan? Pada akhirnya, dia akan jadi milik orang lain. kau tak bisa menghentikannya.”

Tuanku tak menjawab. Alisnya berkerut, seperti memikirkan sesuatu. Dia tak juga segera mengetik jawaban untukku. Apa yang dipikirkannya? Ada yang salah dengan kata-kataku? Kurasa lebih baik aku mengganti topik.

“Kali ini, kau akan membunuhku dengan cara apa?” kataku.

Dia masih terlihat seperti merenung. Tapi entah merenungi apa. Mungkin sedang memikirkan cara terbaik untuk membunuhku. Cara yang lain daripada yang lain. Dia sudah menggunakan 10 cara berbeda selama ini. Meminum racun, jatuh dari jurang, tertabrak truk, gantung diri, dan cara lainnya. Mungkin dia sudah kehabisan cara.

“Aku belum tahu akan membunuhmu dengan cara apa,” akhirnya dia mengetik. Langsung saja kujawab.

“Kau harus kreatif, Tuan. Jika setiap kali Mei punya pacar kau akan membuatku mati, kau harus punya banyak cara untuk membunuhku.”

Pria itu menjauhkan jarinya dari keyboard. Kini dia menyandarkan punggung ke kursi. kepalanya diangkat. Sepertinya dia sedang serius berpikir. Mungkin, aku bisa merayunya agar sekali-sekali tidak membunuhku. Siapa tahu, dia sedang bingung dan memutuskan untuk tidak membunuhku kali ini.

“Kau tahu, aku bosan terus kau matikan. Biarkan aku hidup sekali saja, tanpa mati. Bukankah dalam cerita kau bebas menentukan kisah tokoh-tokohnya? Kenapa tak kau ciptakan orang yang mirip denganmu untukku, lalu aku bisa hidup bahagia dengannya. Kau pun bisa hidup berbahagia dengan Mei, jika kau mendekatinya.”

Pria itu membaca kalimat yang kuketik. Tiba-tiba saja matanya berbinar. Seperti sudah menemukan jawaban yang dicarinya selama ini.

“Kau benar,” ketiknya dengan cepat.

Aku? Benar? Apanya yang benar? Dengan seringai lebar, tuanku mengetik lagi.

“Besok, aku akan menciptakan karakter sepertiku untukmu. Kau bisa hidup bahagia selamanya bersamanya. Aku sudah menemukan cara untuk menyelesaikan semua ini.”

“Menyelesaikan apa?” aku masih tak mengerti.

“Semua cerita bodoh tentang Mei yang sudah kubuat. Kau tak perlu mati lagi. Dan sekali lagi, jika aku tak bisa mendapatkan Mei, tak ada yang boleh memilikinya,” ketiknya.

Aku tak mengerti maksud dari kalimat terakhirnya. Kalimat kedua lah yang terus terngiang di kepalaku. Aku tak perlu mati lagi? Sungguh?

Sungguh. Itu yang dilakukan tuanku keesokan harinya. Dia menciptakan pria yang sama sepertinya. Pendiam, kutu buku. Pria yang penuh imajinasi. Aku berkenalan dengannya. Dia pria yang manis, dan mungkin saat aku bisa berbahagia dengannya. Tuanku sendiri memutuskan untuk menemui Mei.

Lihat! Itu dia! Aku bisa melihat dengan jelas dari balik layar dan jendelanya yang terbuka. Dia menjabat tangan Mei erat. Mei menyebutkan namanya. Tuanku juga. Lalu perlahan, tuanku mencabut sesuatu dari saku belakang.

Pisau dapur.

***

Di malam Minggu Mei yang belum setengah jalan
#Cepatlah berakhir Mei, udah bokek nih… 

2 thoughts on “Membunuh Mei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s