Bumi ke Langit

Bumi ke Langit (pict credit: moddb.com)
Bumi ke Langit (pict credit: moddb.com)

Bumi

Nama ibu kami adalah Pertiwi, dan nama bapak kami adalah Cakrawala. Bumi… dan langit. Dan memang seperti itulah bapak dan ibu kami. Bapak yang menaungi, terlihat kuat, hebat, dan tak tersentuh oleh anak-anaknya. Sementara ibu yang selalu memberikan segala kebutuhan kami, penyayang, dan sabar. Terlalu sabar. Karena dia akan tetap menerima dan tersenyum meski kadang kami, anak-anaknya, memperlakukannya dengan tidak baik.

Seperti bumi yang sudah bersama dengan langit sejak diciptakan oleh Sang Pencipta, ibu juga sudah bersama bapak sejak muda. Ketika umurnya hampir 15 tahun, kakek kami dari pihak ibu menjodohkannya dengan anak teman dekatnya. Iya, anak teman dekatnya itu bapak kami, yang saat itu sudah berumur 30 tahun. Dan seperti bumi dan langit yang tak kuasa menolak kuasa Penciptanya, bapak dan ibu juga tak kuasa menolak perjodohan yang direncanakan oleh kakek kami.

Atmosfer

Pernahkah kalian mendengar atmosfer? Lapisan udara yang menyelubungi bumi itu? Seperti itulah bapak bagi ibu dan kami. Pelindung. Laki-laki kuat yang menjadi tempat bersandarnya hidup kami. Bapak adalah penjamin hidup aman dan nyaman bagi ibu dan kami, keluarganya. Walaupun, seperti atmosfer juga… bapak tak selalu terlihat.

Pekerjaan bapak yang seorang tentara mewajibkannya berpindah-pindah daerah. Papua, Sulawesi, Padang, Aceh, dan terakhir ketika bapak pensium, kami menetap di Kalimantan. Kami tentu saja selalu mengikuti kemanapun bapak pergi. Bagaimana tidak? Dia adalah langit kami. Kami membutuhkannya untuk tetap hidup.

Bapak, seperti layaknya atmosfer yang selalu melindungi bumi dan isinya, selalu berusaha melindungi kami dari masalah. Baik masalah dari luar, maupun dari dalam. Masalah dari luar sudah pasti berarti masalah yang diakibatkan oleh hal-hal di luar keluarga kami. Penipuan, perampokan, semua orang yang berniat jahat pada keluarga kami.

Bapak adalah atmosfer yang tangguh, karena masalah-masalah dari luar tadi akan hancur berkeping-keping sebelum sampai mencelakai kami. Seperti meteor-meteor nyasar yang pada akhirnya terbakar sebelum sempat menyentuh kulit bumi.

Sementara masalah dari dalam tidak lain adalah masalah yang dikarenakan oleh diri kami sendiri. Seperti ketika Ana, anak perempuan sulung keluarga kami yang hendak dijodohkan dengan anak kenalan bapak. Mereka ingin mengulang sejarah terbentuknya langit dan bumi yang baru, rupanya.

Karena Ana hidup di tahun 2000-an sementara bapak dulu hidup di tahun 1970-an, maka dengan sedikit keras kepala Ana menolak perjodohan itu. Keputusan yang pada akhirnya kami sadari sebagai keputusan yang salah. Karena menolak keputusan yang sudah dibuat oleh bapak sama saja dengan bertelanjang bulat sambil mencoba menembus atmosfer. Ana akan membuat bapak dan keluarganya malu.

Dan jika masih ingin ngotot menembusnya, dia akan mati beku, atau minimal kehabisan oksigen. Bapak sendiri yang akan menghentikannya dengan cara terkeras sekalipun. Tak mungkin berhasil. Akan lebih baik kalau Ana menuruti perkataan bapak.

Bukankah sudah kami katakan, kalau bapak adalah atmosfer yang tangguh?

Hujan dan Matahari

“Kenapa ibu bisa hidup dengan bapak yang begitu keras? Kenapa ibu selalu diam? Bagaimana bisa ibu terus menuruti dan menerima semua perlakuan bapak seumur hidup ibu?” begitu kami dengar, Ana bertanya pada ibu dengan amarah.

Kami tahu itu bukan pertanyaan, tapi protes. Itu dilontarkannya sesaat setelah bapak menaruh golok di lehernya jika dia tetap bersikeras tidak mau dijodohkan. Tapi ibu kami, oh… bumi kami yang lembut dan lugu, tetap menjawabnya dengan sabar.

“Bagi ibu, bapakmu seperti langit.” Jawabnya sambil tersenyum lembut. “Apa kau tahu apa yang diberikan langit pada bumi?”

Ana bergeming. Entah tak ingin menjawab, atau tak tahu jawabannya.

“Semuanya.” Kata ibu singkat, sambil melanjutkan mengupas bawang. “Hujan, salju, memberikan ruang bagi bulan dan matahari. Langit, memungkinkan kehidupan bagi bumi. Bagi kita semua.” Jelasnya, melihat Ana yang tidak puas, dengan tatapan yang teduh.

Benar juga, kami ada karena bapak dan ibu. Seperti halnya semua makhluk yang hidup karena adanya perkawinan antara bumi dan langit. Tanaman tumbuh besar, ketika tanah bumi bertemu dengan segarnya air hujan dan hangatnya sinar matahari. Tanaman yang tumbuh memberi makan hewan yang pada akhirnya menggemukkan manusia. Kami, makhluk-makhluk hasil perkawinan mereka juga menerima semua yang diberikan oleh langit pada kami.

Semuanya. Benar, semuanya tanpa terkecuali. Tanpa bisa kami tolak.

Apa kalian pernah melihat bumi menolak apa yang dijatuhkan langit? Apa kalian pernah melihat langit bertanya, apa yang diinginkan bumi? Apa kalian pernah melihat langit peduli ketika apa yang diberikannya membuat laut pada bumi meluap, kekeringan dan suhu ekstrim yang membuat banyak penduduk bumi mati?

Tidak. Dan begitulah ibu. Bumi kami. Tak sekalipun dia menolak apapun yang dijatuhkan bapak padanya. Berkah, kehangatan, perlindungan. Hujan, matahari, atmosfer. Juga petir.

Petir

Suatu ketika, petir menyambar-nyambar bumi tanpa ampun. Selama berbulan-bulan. Mencari salah satu makhluk bumi yang bernama Ana. Ana yang pernah ingin melampaui atmosfer dengan telanjang bulat itu. Ana yang diam-diam ternyata bersumpah akan membuat sesuatu untuk mengalahkan bapak.

Bapak kami, atmosfer, yang baginya seperti tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Memisahkan Ana dengan kebebasannya. Begitulah awalnya, kami kira yang diinginkannya adalah kebebasan. Sampai suatu hari kami ketahui. Kebebasan itu punya nama. Ares. Kebebasan itu seorang laki-laki.

Dulu, setelah bapak sempat menodongkan golok dan membuat Ana bungkam, kami kira masalahnya sudah selesai. Ana akan patuh dan menuruti perintah bapak untuk menikah dengan anak teman kerjanya. Tapi ternyata tidak. Dalam bungkamnya, Ana mempunyai rencana lain.

Rencana itu adalah menemui kebebasannya itu secara diam-diam. Setiap kali dia keluar dari rumah. Entah untuk kuliah, belanja, bekerja sambilan. Dia akan menyempatkan diri bertemu dengan Ares. Dan setiap kali lelaki pilihan bapak yang berusia 10 tahun di atas umur Ana itu datang ke rumah, Ana akan pura-pura demam.

“Demam cinta.” Bisiknya sambil nyengir jika lelaki pilihan bapak itu bertanya. Benar-benar mulut manis yang berbisa.

Hingga suatu hari bapak memergokinya berduaan dengan Ares. Bercumbu di pinggir jalan, seperti kebiasaan anak-anak sekarang yang tak tahu adat! Begitu bapak mengumpatnya waktu itu. Sarung goloknya kembali dikosongkan.

Bapak bersama goloknya yang menari-nari mencari Ana, sementara ibu berusaha menenangkannya dan menjauhkan Ana sejauh-jauhnya dari bapak. Melindunginya. Seperti bumi yang menyediakan gua bagi manusia untuk berlindung dari murka langit. Bumi yang bersedia memberikan apa saja bagi manusia.

Manusia, yang tanpa sepengetahuan bumi, mengkhianatinya. Pengkhianatan yang dingin dan kejam. Yang direncanakan Ana bersama Ares. Kalian pasti tak tahu bagaimana rasanya menjadi bumi yang terkhianati. Menjadi ibu kami, yang dikhianati oleh anaknya sendiri.

Ana sudah hamil. Tentu saja bersama Ares, siapa lagi?

Sekarang kalian tahu rasanya? Ibu seperti bumi yang kecolongan. Tak mengetahui apa yang diam-diam dilakukan oleh makhluk yang dijaganya. Sementara dirinya sendiri bersedia untuk terus-menerus menerima murka bapak demi Ana.

Kalian tak tahu bagaimana rasanya dihantam petir setiap hari selama berbulan-bulan. Jadi jangan coba-coba bayangkan bagaimana rasanya dihantam petir dari langit, sekaligus ditikam dari dalam perut kalian sendiri. Terlebih lagi, ketika kalian tak bisa meluapkan tangis dan amarah pada siapapun.

Benar. Kalian sudah sering melihat langit menumpahkan hujan dan badainya pada bumi. Tapi apa kalian pernah melihat bumi menumpahkan air matanya pada langit? Atau bebatuan? Atau apapun miliknya. Pernahkah? Tak pernah.

Jadi… sekarat. Itulah keadaan ibu pada akhirnya. Bumi itu mulai goyah. Retak di sana-sini, sudah tak mampu menahan ulah langit dan makhluk-makhluk yang keluar dari dalam dirinya.

Langit

Seperti yang sudah kalian tebak. Ibu kami menutup usianya dalam kemurungan. Bumi kami mati. Kami, setengah bernyawa. Ana? Jangan kalian tanyakan kabarnya. Setelah ibu mati, dia segera pergi bersama kebebasannya. Tak akan pernah berani kembali, atau tubuhnya akan terpotong-potong oleh golok bapak.

Sepeninggal ibu, hari-hari kami menjadi sendu. Tak lagi kami temukan tempat berlindung, tempat kami melabuhkan ketakutan dan harapan. Yang ada hanya langit. Kami dipaksa menjadi burung pengembara yang harus hidup tanpa pohon untuk bernaung, atau gua-gua pada tebing untuk beristirahat.Karena bagaimana mungkin kami temukan pohon dan tebing, ketika bumi saja sudah menghilang.

Langit kami, setiap hari serupa mendung yang menggelantung. Tak ada lagi matahari. Hanya kelabu. Hitam dan abu-abu. Hujan dan petir, disertai angin kencang. Sepertinya langit juga mulai gundah. Bapak kami, juga mulai goyah.

Hingga akhirnya langit itu ambruk. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berbaring tak berdaya di atas ranjang. Langit yang dulu tampak kuat menguasai seluruh bumi. Pelindung kami itu, sekarang tak ubahnya sekumpulan asap yang pasti akan hilang ketika tertiup angin.

Pada suatu malam yang kelam, di penghujung usianya, bapak kami berbisik:  “Jika bagi ibumu aku adalah langit, maka bagiku dia adalah bumi. Kalian tahu, bumi sangat membutuhkan langit.”

Kami mengangguk. Benar sekali. Bumi tak akan bisa hidup tanpa langit. Bumi mungkin akan menjadi planet-planet mati yang tak bisa ditinggali oleh makhluk hidup. Kenapa bapak menanyakannya? Bukankah itu sudah jelas? Apa yang diinginkannya? Diagung-agungkan sebelum mati?

Bapak tak menjawab mata kami yang penuh tanda tanya. Matanya melihati langit-langit dengan gamang. Pandangannya mengambang, ketika mulut keringnya kembali bersuara.

“Tapi tahukah kalian… apa jadinya langit tanpa bumi?”

Kami masih membisu.

“Tak ada. Langit tak mungkin ada tanpa bumi.”

***

June’s 2013
#to Mamz and Dad, semestaku

10 thoughts on “Bumi ke Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s