The Gates (Di Depan Gerbang)

Gate ©stewartkeiller.com
Gate ©stewartkeiller.com

Pagar tinggi itu sudah lama saya bangun. Kokoh, terkunci, dan saya pastikan tak akan ada yang bisa menyelinap, kecuali mereka yang berniat memanjat. Dan dia adalah satu-satunya yang saya izinkan masuk.

Ketika terjadi pertengkaran besar, saya marah dan mengusirnya keluar. Dia, dengan rasa bersalah yang terus membesar pergi menjauh sambil memohon maaf. Pagar itu saya tutup lagi. Dia di luar.

Setelahnya kemarahan saya mereda, saya sudah memaafkannya. Saya bilang, kamu sudah boleh masuk lagi. Tapi nyatanya, pagar belum benar-benar saya buka lebar.

Dengan rasa bersalah yang besar, dia takut kembali. Dengan sisa rasa yang ada, saya takut menariknya masuk. Kami sama-sama berada di depan gerbang.

Saya di dalam, dia di luar. Di antara kami ada gerbang yang tengah terbuka, meski tak lebar. Tapi tak ada yang melangkah, masuk atau keluar. Tak ada yang berani bergerak, sampai sekarang.

Pertanyaannya, sampai kapan?

 

Minggu, 29 September 2013
#from inside the gate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s