Gandrung

Java girl dancing (pict credit: artgallery.yale.edu)
Java girl dancing (pict credit: artgallery.yale.edu)

Giman termangu di atas dipan depan teras rumahnya. Satu tangannya menyangga dagu, sementara tangan yang lain menyangga tubuhnya yang setengah doyong ke samping. Entah sudah berapa lama dia tetap dalam posisi aneh begitu. Tak dihiraukannya juga urat-uratnya yang melengkung-lengkung kesakitan karena ditekuk tak sewajarnya.

Bulan yang bulat sempurna.

Hanya itu yang sedari tadi dipandanginya dengan khusyu’. Di mata Giman, bulan sudah menjelma sebagai panggung di angkasa. Di dalamnya ada seorang gadis. Tubuhnya yang indah berlenggok-lenggok. Tangannya yang jenjang melayang di udara. Kulitnya yang halus dibalut kemben dan jarit yang mempesona. Selendang merah hati terpilin sempurna di antara jari-jarinya yang kuning pucat.

“Ah… jika dia bukan bidadari, lalu apa?” hati Giman bergumam.

Membiarkan rambut ikal mayangnya yang hitam seperti malam tergerai dimainkan angin, perempuan itu menari-nari dalam wajah Sang Rembulan. Tarian yang indah. Sempurna. Wajah beningnya melihat pada Giman yang membelalakkan mata.

Oh, coba lihat wajah itu… sesempurna langit sore yang mengantar matahari senja. Semburat merah yang merona dan malu-malu. Bibirnya yang terlihat sangat lembut dan penuh. Merekah seperti kelopak mawar yang ingin disentuh. Dan matanya…. Ah, mata yang seperti berlian itu mengerling manja pada Giman.

Bibir Giman menyunggingkan senyum. Dijatuhkannya tubuhnya yang tambun ke atas dipan kayu yang segera berkeriat-keriut keras. Dua tangannya ditekuk ke atas untuk menyangga kepala. Bibirnya bergerak-gerak. Nama peremuan itu sudah menjadi dzikir yang menempel pada mulut Giman setiap malam hingga dia terlelap.

***

Sekarayu, begitu dia dipanggil. Artinya bunga yang cantik. Sama seperti rupa perempuan itu. Cantik, dan harum seperti bunga. Giman pertama kali melihatnya waktu ada perayaan bersih desa. Pak Lurah nanggap tayub(1)  dan mengundang semua warga desa untuk datang melihat. Sekarayu adalah salah seorang tandak(2)  yang bekerja bersama kelompok tayub Pak Wilopo.

Ketika acara sudah mulai digelar, biasanya warga desa yang kaya pasti akan segera datang dan duduk paling depan. Mereka menunggu para tandak menari, dan mengalungkan sampur  pada leher mereka. Laki-laki yang lehernya dikalungi sampur(3) oleh seorang tandak harus naik ke pentas. Ikut menari bersama tandak yang cantik jelita itu. Sebagai apresiasinya, lelaki yang ikut menari itu harus memberikan saweran pada tandak yang mengajaknya menari. Juga dibolehkan memilih lagu yang akan dimainkan oleh kelompok tayub tersebut.

Di saat-saat begitu, Giman termasuk golongan orang yang hanya bisa melihat dari jauh. Tentu saja, karena Giman hanya seorang petani yang setiap harinya mencangkul dan angon bebek(4) . Sawah warisan bapaknya itu juga tidak berhektar-hektar. Hanya beberapa meter persegi saja. Ditambah petak-petak kecil brambang(5)  dan segerombol kecil tanaman manisah(6) .

Mawas diri, Giman tentunya tak akan berani duduk paling depan. Apa jadinya kalau nanti ada tandak yang menariknya, sementara dia tidak mampu memberikan saweran. Bisa-bisa dia jadi bahan gunjingan warga desa selama berbulan-bulan. Lha, duduk paling depan saja tak berani, apalagi mau coba-coba melirik salah satu tandak.

Tak hanya cantik, tandak-tandak itu biasanya juga sombong dan mata duitan. Mereka hanya bersikap baik pada orang yang mau memberikan saweran mahal, atau pada orang yang memang terkenal sugih(7)  dan berpangkat. Sudah jadi rahasia umum, kalau para tandak itu biasanya juga mau dibawa pulang oleh petinggi-petinggi. Dijadikan simpanan, dan bisa juga jadi istri kedua, ketiga, atau keempat.

Tapi Sekarayu tidak begitu!

Giman berpikir begitu bukan karena dia sudah kadung(8)  jatuh hati pada tandak yang paling muda dan paling cantik itu. Tapi dia melihat sendiri bagaimana Sekarayu pernah berperilaku di depan orang-orang yang kaya. Dia tidak genit seperti tandak-tandak yang lain, tidak juga mencoba menggoda para petinggi itu dengan lenggok-lenggok tubuhnya yang aduhai.

Waktu itu Sekarayu juga menolak gepokan uang yang diberikan oleh Pak Camat Mardoyo. Uang iming-iming agar Sekarayu mau dijadikan istrinya yang kelima. Sejak hari itu, Giman semakin bertambah-tambah lagi cintanya pada Sekarayu. Bertambah-tambah juga keinginannya untuk memiliki tandak itu.

***

Entah mimpi apa Giman semalam, ketika tiba-tiba saja Sekarayu muncul di hadapannya. Benar-benar ada di depannya, hanya berjarak beberapa jengkal. Gadis itu muncul dari balik semak-semak manisah, dan berjalan tertatih-tatih menelusuri petak-petak sawahnya.

Giman hanya bisa terlongo-longo ketika jelas-jelas tahu Sekarayu sedang melihat ke arahnya. Tak hanya melihat, Sekarayu sedang berjalan menghampirinya. Gusti, kalau ini mimpi… jangan biarkan hamba terbangun. Giman berbisik dalam hati. Bibir mawar Sekarayu bergerak-gerak. Indah sekali, pikir Giman. Tapi apa yang dikatakan bibir itu?

“To… tolong saya…”

Sayup-sayup Giman mendengar suaranya. Suara yang jernih itu mengingatkan Giman pada gemericik air mancur di taman desa. Giman hampir saja terlena dengan pemandangan di hadapannya sebelum akhirnya dia sadar. Sekarayu sedang meminta tolong.

“A… ada apa?” tergagap, Giman menghampiri Sekarayu yang terseok.

“Saya dikejar anak buah Pak Camat. Tolong saya Mas… mereka mau menangkap saya… saya mau dipaksa kawin sama Pak Camat. Tolong… Tolong Mas.” Sekarayu mengiba sambil menarik-narik baju Giman. Matanya tergenang, siap membanjir.

Giman hanya manggut-manggut tanpa bisa berkata apa-apa. Kaget melihat tangan Sekarayu yang lembut dan kuning pucat itu masih menempel di bajunya. Tanpa pikir panjang, Giman menarik Sekarayu masuk ke rumahnya. Untuk sementara, mereka mungkin akan aman di dalam.

***

Giman memberikan air sumur yang baru diambilnya untuk diminum Sekarayu. Beruntung sumur Giman yang ada di bagian belakang rumahn tertutup. Jadi orang-orang dari luar tidak akan ada yang melihat jika Sekarayu minum di sana.
Maturnuwun.”(9) Kata Sekarayu yang hampir menyerupai bisikan.

Giman hanya mengangguk. Dia beranjak sebentar untuk mengintip dari jendela. Tidak ada tanda-tanda orang yang mengejar Sekarayu.

“Apa mereka melihatmu berlari ke sini?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Sekarayu. “Kalau mereka mengejarmu ke sini, mereka pasti tahu kalau kau bersembunyi di rumahku.” Katanya lagi.

Rumah Giman ada di ujung timur desa. Jalannya bercabang, yang besar menuju desa sebelah dan cabang yang kecil mengarah ke ladang Giman. Rumah itu adalah rumah satu-satunya setelah sawah dan petak-petak sayuran milik Giman. Kalau orang-orang itu melihat Sekarayu berbelok ke cabang jalan yang kecil, maka Sekarayu tidak akan bisa lari lagi.

Tubuh Sekarayu masih bergetar. Tampaknya dia juga baru sadar kalau sudah berbelok ke jalan yang salah. Ke sebuah jalan buntu yang berujung pada rumah Giman. Kata-kata laki-laki itu benar, kalau anak buah Pak Camat tahu dia di sini, dia tak akan bisa lolos.Terlebih lagi, mereka adalah anak buah Pak Camat. Tentu tak akan ada yang bisa melindungi Sekarayu dari orang yang jabatannya paling tinggi di desa mereka.

Diam-diam, Giman juga berpikiran sama. Tak ada jalan keluar jika orang-orang itu sampai ke rumahnya. Dia melirik Sekarayu yang masih tercenung, menatapi lantai tanahnya. Wajah bening yang dulu sering dibayangkannya dalam bulan itu terlihat sayu. Bibirnya layu, mengkerut ke bawah.

“Bagaimana sekarang?” dia mendengar Sekarayu bergumam. “Siapa yang bisa menyelamatkanku?”

Giman terpaku.

Tidak! Apapun yang terjadi. Bagaimanapun keadaannya nanti. Dia akan menyelamatkan Sekarayu. Dia tak akan membiarkan Camat hidung belang itu menyentuh kulit gadis pujaannya. Sedikitpun. Tak akan dibiarkannya orang-orang itu menangkap Sekarayu.

***

Malam datang bersama teror. Itu bukannya tak dirasakan oleh Giman dan Sekarayu. Segera setelah mereka melihat beberapa orang bergerak dari balik semak-semak manisah, teror itu menyata. Giman dan Sekarayu berjingkat menuju bagian belakang rumah, tak tahu harus kemana lagi.

“Bagaimana ini? Kita akan lari ke mana, Mas?” rengeknya memegang tangan Giman. Kulitnya yang lembut sedikit menggetarkan hati Giman. Tanpa sadar digenggamnya erat tangan gadis itu.

“Tenang… aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.” Katanya menenangkan, walaupun sebenarnya dia juga tak tahu harus berbuat apa. Sekarayu memandang Giman dengan pandangan berterima kasih. Dalam hatinya, dia sendiri tak percaya bahwa Giman, laki-laki yang baru sekali bertemu dengannya, mau melakukan apa saja untuk menlongnya.

“Aku tidak mau Camat busuk itu menyentuhku. Jangan biarkan mereka membawaku.” Tambahnya, ketika merasakan kepercayaannya pada Giman meningkat.

Giman mengangguk mantap. Tak akan. Dia juga tak akan rela kalau membayangkan Camat yang sudah bau tanah itu menyentuh tubuh Sekarayu. Dia tak akan pernah menyerahkan Sekarayu pada orang-orang itu. Sekarayu hanya akan menjadi miliknya.

BRAK! BRAK! BRAK!

“BUKA PINTUNYA!”

Suara berat terdengar bersahut-sahutan di luar rumah Giman. Dari dalam bisa terlihat dengan jelas nyala obor yang dibawa oleh anak buah Pak Camat itu. Sekarayu semakin panik. Dadanya berdegup sangat kencang. Tanpa disadarinya tubuhnya bergetar hebat. Digenggamnya tangan Giman erat-erat.

“Apa yang harus kita lakukan, Mas?” Tanyanya cemas. Kecemasannya berubah menjadi keheranan ketika melihat wajah Giman yang tak lagi tampak tegang. Wajah laki-laki itu tampak tenang, seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan. “Mas?” panggilnya lagi.

Giman menoleh ke arah Sekarayu. Tersenyum melihat gadis impiannya itu. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukan.

Sekarayu, setelah ini kau akan aman bersamaku.

Satu tangannya yang tidak digenggam oleh Sekarayu dengan sigap meraih balok kayu penutup sumur yang ada di belakangnya. Dan…

BRUAKKK!

Dalam sekali ayun, kepala Sekarayu memuncratkan darah. Darah yang banyak. Kepalanya pecah. Tubuhnya yang sekejap telah berubah dingin merosot di kaki Giman.

***

Giman merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu miliknya. Anak buah Pak Camat yang mengejar Sekarayu tadi sudah pergi. Mereka pergi dengan tangan kosong karena tak bisa menemukan Sekarayu di mana pun. Giman tersenyum.

Tentu saja mereka tak akan menemukan Sekarayu. Giman sudah menyembunyikannya di tempat yang tak mungkin mereka cari. Mata Giman melirik lubang sumur yang sudah tertutup rapi, sama seperti semula. Sekarayu, sekarang dia sudah aman.
Giman bangun, menyangga kepala dengan salah satu tangannya. Angin dingin yang masuk melalui celah-celah ventilasi rumah membuatnya tenang. Dipejamkan matanya sejenak. Kemudian perlahan dibukanya.

Di depannya, Sekarayu sedang menari. Sama seperti yang dilakukannya di atas panggung. Wajah pualamnya yang cantik. Wajah yang pernah mengiba padanya itu kini tak akan pernah terlihat sedih lagi. Bibirnya yang melengkung indah. Mulai sekarang bibir mawar itu hanya akan tersenyum padanya.

Giman merasakan degup jantungnya yang semakin liar. Dia merasa sangat senang. Sekarayu masih terus berlenggak-lenggok, memperlihatkan gerakan tubuhnya yang indah pada Giman. Hanya pada Giman.

Ya, mulai saat ini Sekarayu hanya akan menari untuknya. Tak akan ada lagi yang bisa melihatnya. Sekarayu telah menjadi miliknya seorang. Selamanya. Giman tak sanggup menahan tawanya, yang kemudian menyemburat memecah malam.

***

Note:
(1) Menyewa tayub (sebuah kesenian lokal berisi pemain gamelan Jawa dan penari-penari)
(2) Penari pada kesenian tayub
(3) Selendang
(4) Menggembala bebek
(5) Bawang merah
(6) Labu siam
(7) Kaya
(8) Terlanjur
(9) Terima kasih

Tunggulwulung, dari tahun 2012
#lagi-lagi psycho :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s