Kantong Air Mata

Ilustrasi Kantong Air Mata (picture credit: Silananda)
Ilustrasi Kantong Air Mata (picture credit: Silananda)

“Real tears are not those that fall from the eye and cover the face,
but those that fall from the heart and cover the soul.”
(anonymous)

Aku hanya ingin melihat ayahku menangis. Sekali saja. Boleh menangis bangga, menangis sedih, menangis haru, menangis karena kegelian. Apapun asal aku bisa melihat titik-titik bening air mata ayah merembes keluar.

Sejak kecil, tak pernah sekalipun kulihat ayah menangis. Tak pernah di hadapanku, dan yakinku, tak mungkin pernah di belakangku. Karena ayah bukan laki-laki pengecut yang bersembunyi, menyendiri di balik punggungnya dan mulai mewek seperti wanita.

Padahal ayah juga bukan lelaki yang takut dibilang cengeng. Pepatah yang mengatakan bahwa laki-laki tidak boleh menangis ditentang keras olehnya. Baginya lelaki bebas menangis seperti perempuan juga bebas mengadu jotos.

“Laki-laki yang kuat dan pemberani adalah laki-laki yang tidak malu menangis.” Begitu katanya ketika aku duduk di kelas 3 SD. Ketika aku menangis kesakitan karena jatuh dari pohon mangga dan teman-teman mengataiku banci. Mulai saat itu, tak pernah lagi aku menganggap bahwa air mata adalah bahasa milik yang lemah.

Tapi, hingga usiaku menginjak seperempat abad, ayah tak pernah mengizinkanku melihat air matanya. Air mata yang katanya milik laki-laki yang kuat dan pemberani. Ada apa dengannya? Awalnya kupikir karena ayahku bukan orang yang mudah tersentuh perasaannya. Bukankah ada orang-orang yang seperti itu?

***

Hingga sebuah telegram datang pada pagi yang berkabut. Kakek meninggal. Ayah dari ayahku. Aku yang sedang menempuh kuliah di kota lain dengan tergopoh-gopoh pulang ke rumah. Tapi karena jadwal kereta yang tak bisa dikompromi, aku baru datang keesokan harinya, ketika kakekku sudah dimakamkan.

Tak mampu kutahan kesedihan karena tak bisa melihat wajah kakek penyabar itu untuk terakhir kalinya. Ayah menenangkan ketika aku menyusut air mata di depan pusara kakek. Dengan kerongkongan yang tercekat tangis, tiba-tiba aku jadi penasaran. Apa kemarin, ketika kakek meninggal, ayah menangis?

Tidak. Ibuku saksinya. Ketika mendengar kabar kakek meninggal, ayah hanya terduduk lesu dan terdiam. Kakek memang sudah lama sakit-sakitan. Tapi katanya hanya penyakit tua, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Itu yang terbaik. Beliau tidak akan merasa sakit lagi.” Hanya itu yang dikatakan ayah pada saudara-saudara yang datang melayat. Tak sedikitpun terlihat menahan haru. Pamanku yang terlihat kuat saja lama-kelamaan pecah tangisnya ketika mendengar banyak pelayat menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang sudah lalu. Ah, ternyata dia hanya berusaha menahan tangis semampunya. Tapi ayah tetap bergeming. Ekspresinya tak berubah.

Mungkin, ayahku adalah orang yang tabah. Atau beliau sungguh-sungguh berpikir bahwa kematian adalah jalan terbaik bagi kakek, daripada mati perlahan digerogoti penyakit tua yang menyiksa hari-hari senjanya? Aku tak tahu.

***

Tapi satu hal yang pasti kuketahui. Untuk kematian yang datang pada giliran selanjutnya, dia seharusnya menangis. Bagaimana tidak? Kematian yang datang pada pagi yang mendung dan tak kalah kelabu itu adalah kematian istrinya. Ibuku!

Aku yang saat itu sedang mengerjakan skripsi, segera pulang dengan perasaan hancur. Kali ini aku tak menunggu jadwal kereta api. Aku menaiki kendaraan apapun yang bisa membawaku cepat sampai di rumah, sebelum ibuku dikebumikan.

Kantong air mataku berbuih. Tak mampu lagi memproduksi air mata, ketika aku luruh di depan jenazahnya. “Kenapa begitu cepat, Bu?” bisikku sesenggukan. “Apa kau tak ingin melihatku diwisuda dulu sebelum pergi?”

Banyak sekali pertanyaan yang kulemparkan ke awang-awang rumah dukaku. Kenapa ibu tak bisa menunggu? Kenapa tega sekali membiarkan impianku sirna? Mimpi sederhana untuk bisa mencium tangannya ketika mengenakan toga. Bukankah dulu ibu bilang ingin menggendong cucu? Bukankah ibu yang ingin menyeleksi calon istriku? Kenapa tidak memenuhi janji ibu sendiri? Kenapa?

Kenapa juga, ayah tidak menangis ketika ibu pergi?

Aku tahu, yang kulihat waktu itu adalah sebentuk manusia yang hancur. Remuk redam, luar dalam. Tak pernah kudapati ekspresi ganjil yang ditampakkan ayah waktu itu. Pun tak bisa kujelaskan maknanya hingga hari ini. Ekspresi sakit yang amat sangat. Muram, penuh dengan aura kehilangan. Seolah yang mati hari itu tak hanya seorang manusia yang kupanggil ibu. Ayah seperti melihat kematian dalam jumlah berjuta-juta kali lipat. Mungkinkah, wajah malaikat maut -yang sudah melihat kematian dalam jumlah tak terhitung- persis seperti wajah ayah kali itu?

Tidak penting. Saat itu aku menyadari, mungkin ayah tak bisa mengeluarkan perasaannya. Dia sangat terluka hingga tak mampu melepaskan kepedihannya. Apa begitu? Kuputuskan untuk menghampirinya.

“Ayah, lepaskan saja kesedihan ayah,” kataku. “Tak apa jika ayah ingin menangis. Menangislah, Yah.”

Tapi kata-kata lembut dan usapan hangat yang kuberikan pada punggungnya hanya dijawab dengan keheningan. Ayah bahkan tidak melihat wajahku. Matanya terus menekuri wajah ibu yang pucat. Sesekali pandangannya beralih ke lantai putih rumah kami. Lantai putih murah, yang ternyata lebih menarik untuk dilihat daripada wajahku. Wajah anak laki-laki yang basah oleh air mata karena kehilangan ibu yang sangat dicintainya.

Ketika hingga jasad ibu dikuburkan, hingga selamatan malam tujuh harian digelar, ayah tak juga menangis, aku menyerah. Mungkin kantong air mata ayahku rusak. Mungkin kantongnya tidak rusak, tapi saluran pengeluarannya yang rusak, sehingga air mata itu tak bisa mengalir. Atau lagi, mungkin perasaan ayahku yang sudah rusak. Sampai dia mati rasa dan tak pernah bisa menangis.

Mungkin saja ayahku telah terkena kutukan. Kutukan “Men Don’t Cry”.

***

Aku tak lagi memikirkannya. Hanya membuang-buang waktuku saja. Setelah kematian ibuku, yang kupikirkan hanya bagaimana cara cepat untuk menyelesaikan studiku. Bekerja keras adalah cara yang ampuh untuk melepaskan kesedihan. Memang begitu umumnya. Tapi ayahku sebaliknya. Dia menghentikan seluruh kegiatannya. Tak seperti aku yang ingin melepas kesedihan, dia ingin tetap memeluknya.

“Jika kesedihan adalah cara untuk bisa selalu mengenang ibumu, maka aku rela berada dalam kesedihan selamanya.” Begitu katanya. Manis. Tapi menyedihkan. Dan anehnya, tetap tak ada air mata yang menetes.

Wisudaku, adalah satu hal yang kuharapkan bisa menjadi penerang. Garis tipis cahaya keemasan yang mampu menembus kabut kelabu tebal yang menyelubungi hidup ayah. Jika aku tak bisa melihatnya menangis sedih, mungkin saja aku bisa membuatnya menangis bahagia.

Iya. Ayahku memang bahagia. Aku melihat kepalanya mendongak dan punggungnya yang tegak ketika namaku dipanggil sebagai yang terbaik di fakultasku. Dalam matanya yang berbinar-binar, ada kebanggaan. Mata yang berbinar, yang siap pecah menjadi butiran. Tapi tak ada.

Malah mataku yang berubah menjadi serpihan ketika dia memelukku erat dan berbisik: “Kau membuat ayah bangga.”

Juga ketika dia berkata lagi sambil terkekeh, “Ibumu juga pasti akan sangat bangga jika dia melihatmu hari ini. Dia tak akan berhenti mengoceh untuk memamerkan prestasi putra tercintanya ini pada tetangga-tetangganya seminggu ke depan.” Tangisku menjadi. Tapi mata ayah masih bergeming. Masih berkabut dan tenang, seperti biasanya.

***

Waktu berlalu cepat, seperti galah yang dilemparkan pemburu untuk menangkap buruannya. Perlahan, hampir tak terdengar, tapi tepat mengenai sasaran. Dan kudapati diriku tak lagi terpaku pada kelenjar air mata ayah. Sudah lama sekali aku tak memikirkannya karena terlalu sibuk bekerja.

Sampai akhirnya aku mendengar kabar darinya. Sebuah surat. Panggilan untuk pulang. Ayah sakit. Sebenarnya kesehatan ayah memang sudah menurun sejak ibu meninggal. Ayah sering terlambat makan. Jantungnya mulai terganggu.

Bibi-bibiku yang tinggal berdekatan dengannya mengatakan bahwa kesehatan ayah semakin memburuk saja akhir-akhir ini. Tak hanya jantung, ayah mulai sering mengeluhkan organ-organ lainnya. Sebelum akhirnya benar-benar jatuh sakit dan harus diopname, ayah terkena asma.

Ketika aku sampai di rumah sakit, ayah sedang tak sadarkan diri. Dia sudah tertidur hampir seharian, kata suster yang menjaganya. Tapi itu lebih baik. Seharian kemarin dia mengeluh seluruh badannya sakit-sakit. Juga mengeluhkan nyeri di dada. Nyeri  yang sangat, katanya, hingga ayahku berteriak-teriak kesakitan.

Tiba-tiba pemikiran itu membersit lagi ke kepalaku. Suster, apa ayahku menangis ketika menjerit kesakitan? Suster itu menggeleng. Tapi rintihannya sangat memilukan, katanya.

“Nak…” panggil ayahku keesokan harinya. Ketika dia baru bangun dan mendapatiku tertidur di samping ranjangnya.

Aku menggumam, memuji Tuhanku. “Ayah sudah sadar.”

“Aku merindukan ibumu.” Kalimatnya membuatku terbungkam. Kalimat pertama yang diucapkannya setelah tak sadarkan diri begitu lama langsung menyengatku.

“Ya, aku juga merindukannya.” Jawabku, memaksakan senyum yang pasti terlihat ganjil. “Ayah istirahat saja dulu ya….”

“Nak…” panggilnya lagi. Kali ini matanya menatap langit-langit kamar. Lama. Seperti mengumpulkan tenaga untuk memuntahkan kata-kata. “Ayahmu ini bukan lelaki kuat. Bukan juga lelaki pemberani.” Begitu katanya.

Ketika itu aku masih termangu, berusaha mencerna kata-katanya. Apa maksud ayah? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Semua pertanyaan itu hanya berputar-putar saja di kepalaku. Sementara ayah, kembali tak sadarkan diri.

Esoknya ayah harus masuk ke ruang ICU. Keadaannya tiba-tiba kritis. Dokter mengatakan kalau ayahku tak bisa lagi tertolong. Penyakit yang aneh, katanya dengan air muka sendu.

“Komplikasi. Paru-paru basah. Tak hanya itu, hasil rontgen menunjukkan paru-paru ayahmu penuh cairan. Semua organ pentingnya membengkak. Terutama jantung. Itulah kenapa berat badannya semakin bertambah.” Jelas dokter itu. “Jika dibiarkan begitu organnya tak akan bisa bertahan lama. Jantungnya akan segera berhenti berdetak dan paru-parunya tak akan lagi berfungsi.”

Penjelasan terlalu panjang yang tak perlu kudengar. Aku sudah tahu kesimpulannya, ayahku akan segera mati. Tapi cairan? Kenapa paru-paru ayahku penuh cairan? Dia tak pernah tenggelam, ayahku mahir berenang.

Apa yang membuat jantungnya membengkak? Ayahku juga bukan pemabuk. Dan bagaimana carian yang sama bisa memenuhi semua organ pentingnya? Satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal di kepalaku adalah bayangan seekor sapi yang sedang digelonggong.

Sampai ayah meninggal, aku masih juga tak tahu penyebabnya. Mungkin itulah yang membuatku tak meneteskan air mata di pemakamannya. Karena masih banyak pertanyaan yang harus kucari jawabannya setelah kematian ayah. Satu-satunya kematian yang tak kutangisi. Ingatanku melayang pada hari sebelum ayah dimakamkan.

Aku meminta dokter mengambil jantung ayah yang membengkak. Aku hanya ingin melihatnya dengan mataku sendiri. Cairan apa yang memenuhi paru-paru dan jantungnya serta menyebabkan kematian ayahku… dan bagaimana bisa.

Dokter tak punya pilihan selain menuruti permintaanku. Mungkin dia sendiri juga ingin tahu lebih banyak dari sekedar gambaran yang ditangkap oleh alat pemotret canggihnya. Dia memperlihatkan jantung ayahku. Segenggam daging penuh otot, mirip kantong kecil berwarna merah kebiruan yang terlihat basah.

Aku menyentuhnya dengan jariku. Basah.

“Kami sudah memeriksanya. Itu semacam cairan garam.” Dokter itu menjelaskan.

Aku tersentak.

Perlahan kuambil sebuah pisau bedah dan mengarahkannya pada jantung ayah. Tanganku bergetar perlahan ketika ujung pisau itu menyentuh permukaan jantung. Kutekan sedikit demi sedikit, hingga…

Crat!

Sedikit cairan muncrat ke tepat ke bibir bawahku. Spontan aku mencecapnya dengan lidah. Asin. Tak sabaran, segera kurobek jantung ayah. Dan aku terhenyak demi melihat isinya. Jantung yang menyerupa kantong itu dipenuhi air mata.

***

#It is such a secret place, the land of tears (Antoine)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s