Review: No Country for Old Man, badass villain with badass old man!

no country for old man
no country for old man

Judul Buku: No Country for Old Men (Sheriff Tua di Negeri Bandit)
Penulis: Cormac McCarthy
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Q-Press
Cetakan 1, November 2007 (Versi Indonesia)

— YES, this review contain spoiler. READ ON YOUR OWN RISK —

Pertama saya mau ngeluh dulu… baca buku ini bener-bener bikin mata sakit. Gak ada tanda baca jelas untuk dialog setiap tokohnya. But that’s all Mr McCarthy… saya sudah terpesona dengan cara Anda bertutur sejak tiga halaman pertama. Dan sejak tiga halaman itu, saya sudah yakin bahwa buku ini akan penuh kekerasan dan bernuansa gelap.

Dan ya, insting saya benar. Buku ini brutal. Terutama kalau nama Anton Chigurh sudah muncul. Chigurh adalah seorang pemburu bayaran yang ditugaskan untuk mengambil kembali sekoper uang dari tokoh utama kita, Llewllyn Moss. Llewllyn adalah seorang anak kampung baik yang sebenarnya hidupnya baik-baik saja dan aman-aman saja. Dia hanya melakukan satu kesalahan, mengambil koper berisi uang panas yang ditemukannya dalam pick up yang dikelilingi mayat.

Setelah itu dia harus dikejar-kejar oleh Si Chigurh yang dibayar untuk mendapatkan uang itu kembali. Really, this man is a cold-blooded evil. Bahkan kata cold-blooded saja gak cukup untuk menggambarkan bagaimana dia bisa membunuh orang dengan tenang, bahkan memikirkan bagaimana cara agar darah orang yang dibunuhnya gak muncrat dan mengotori mobil yang dijarahnya. Pria ini bahkan menciptakan alat pembunuhnya sendiri. Yang gak membutuhkan peluru atau bubuk mesiu. Cukup oksigen. Ya, dia membawa tabung oksigen kemana-mana. And that, my friend, adalah senjatanya yang sungguh mematikan.

For creating a man like Chigurh, I give my two thumbs to McCarthy. Dia berhasil membuat saya merinding ketika membayangkan adegan brutal yang dilakukan Chigurh, dan itu gak cuma sekali.

Sementara itu, di sisi lain Sheriff Ed Tom Bell, seorang sheriff yang sebenarnya sebentar lagi akan pensiun, berusaha menelusuri jejak Llewllyn untuk menyelamatkannya. Si Sheriff ini digambarkan begitu tenang, namun juga sangat pintar dan cerdas, karena pengalamannya bertahun-tahun sebagai petugas kepolisian. Namun dalam novel ini digambarkan bahwa pada akhirnya si Sheriff tua tak cukup cepat untuk menyelamatkan orang tak bersalah yang berusaha dilindunginya.

Saya bisa merasakan bagaimana Sheriff Tom Bell merasa dirinya sudah tak layak lagi bertugas. Para penjahat sudah lebih lincah dan lebih pintar, serta lebih brutal darinya. Well, that’s why buku ini diberi judul No Country for Old Men, bukan? :p

Awalnya saya kesulitan membayangkan setting tempat di buku ini. Tapi ya saya karang-karang aja lah dalam imajinasi. Ternyata pas liat filmnya, beda jauuuuh sama imajinasi saya, hahaha… maklum gak pernah ke perbatasan Texas-Meksiko :p jadi di sela-sela baca buku ini, saya juga nonton filmnya, biar lebih mudah membayangkan adegan di dalamnya.

Terlepas dari bikin sakit mata tadi, buku ini bagus. Pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya adalah, semua hal yang kamu miliki bisa berubah hanya dalam hitungan hari, hanya karena satu perbuatan. Kalau ada truk pick up yang dipenuhi mayat dan ada koper berisi uang di dalamnya, jangan diambil! hahaha…

Kalo mata gak siap capek, mungkin lebih baik baca versi English… walaupun gak yakin juga di versi English akan ada tanda petiknya untuk setiap dialog. Tapi saran saya, nikmati saja… pelan-pelan, kalo capek ditinggal dulu, diselingi liat filmnya juga boleh :p

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s