Pada Sebuah Perjalanan

kursi sebelahku masih kosong, entah ada dimana belahan hatiku
di kaca jendela bus yang kutumpangi, hanya ada bulir-bulir gerimis menunggui senja
ke manakah waktu menuju, mungkin kelok jalan dan lampu-lampu trotoar yang tahu
kursi sebelahku sudah terisi, tapi sepertinya ia lahir dari generasi patah hati
di cermin kecil yang terus-menerus ia pegangi, kulihat tetes gerimis dari lentik bulu matanya
saat kutanya kenapa, ia hanya memalingkan wajah ke kaca jendela
di luar, lalu-lalang kendaraan tampak sibuk berkejaran untuk saling meninggalkan
kutinggalkan kursi itu, juga yang duduk di sampingku
— perempuan berbulu mata lentik yang lahir dari generasi patah hati —
sebelumnya, di empat jam perjalanan yang membosankan kami memutuskan berbagi beberapa hal:
tentang mendung yang mencekam, gerimis yang menggigil, juga hujan yang menggenang
saat akan berpisah, kulihat ia kembali mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya
ah, tiba-tiba senja menjelma kekosongan-kekosongan.

– pria iseng sendiri –
(dari 21 Februari 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s