15 Menit bersama penjual bakmi

Saya belum tahu namanya, pemuda itu. Tapi rasanya saya tak perlu tahu. Badannya ceking, tak lebih tinggi dari saya. Meski gurat-gurat di wajah membuatnya terlihat lebih tua, tapi saya yakin usianya masih sangat muda. Mungkin sekitar dua puluh dua, dua puluh satu, atau bahkan belum sampai dua puluh tahun. Wajahnya masih terlihat kekanak-kanakan, mengingatkan saya pada salah seorang rekan di kantor yang usianya baru delapan belas.

Tangannya masih belum cekatan mengiris sayur, pun ketika dia terlihat sedikit ragu saat menaburkan garam dan bumbu dari sendok kecil ke dalam wajan. Pemuda yang sedang saya perhatikan itu adalah seorang penjual bakmi di pinggir jalan.

Karena di rumah tak ada makanan, saya keliling mencari penjual makanan di sekitar kampung. Dari jauh, saya lihat pemuda ini bersama gerobak hijaunya, menunggu pelanggan. Biasanya, penjual-penjual bakmi gerobak semacam itu menunggu pelanggan sambil bermain telepon genggam. Tapi dia tidak. Pemuda itu hanya duduk diam memandangi jalanan di depannya. Entah apa yang menarik dari jalanan itu. Akhirnya saya memutuskan, saya akan membeli bakmi darinya saja.

“Mas, bakmi satu ya… dibungkus,” kata saya yang disambut dengan anggukan dan senyuman darinya.

Dari caranya memasak, saya yakin dia masih belajar. Mungkin ini hari ketiganya berjualan, atau bahkan hari pertamanya. Saya sempat dibuat heran ketika melihatnya memutar-mutar kubis yang akan diiris, entah apa maksudnya. Ketika mengucurkan campuran telur pada wajan, dia juga terlihat sangat berhati-hati. Tingkahnya sebagai penjual bakmi sungguh diragukan. Dari bau masakannya, saya menduga-duga seperti apa rasanya nanti.

Tapi setelah melihat wajahnya, keraguan saya pada masakannya sedikit hilang. Bukan, wajahnya tak terlihat seperti koki handal macam chef Juna atau chef Vindex. Wajahnya adalah wajah yang penuh kesungguhan. Seolah dia tahu bahwa dia memang belum mahir memasak, tapi dia tengah mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia tahu dia sedang belajar.

Saya jadi ingat seorang penjual bakmi yang dulu suka keliling di sekitar rumah. Sekarang dia sudah punya berpuluh-puluh langganan dan membuka warung bakmi sendiri di rumahnya. Saya jadi berpikir, bapak itu dulunya pasti juga pernah seperti pemuda ini. Masih belajar membuat bakmi.

Pemikiran itu tiba-tiba saja membuat saya ingin jadi pelanggan remaja ini. Mungkin lusa, minggu depan, dua minggu lagi, sebulan, saya akan membeli bakminya lagi. Berkala.

Saya ingin jadi orang yang merasakan perubahan rasa pada bakminya. Suatu hari nanti, yang saya yakin masih lama, saya ingin melihat dia yang sudah mahir memasak bakmi dan nasi goreng. Yang tangannya sudah tak gemetaran saat menaburkan garam, yang sudah tak memutar-mutar kubis dengan wajah bingung sebelum mengirisnya.

Saat itu saya akan jadi orang yang diam-diam merayakan keberhasilannya. Meski tak pakai tepukan di punggung, meski tak pakai high five, atau pujian yang akan membuatnya tersanjung.

Tapi sebelum itu, semoga dia tak menyerah. Meski pembeli yang sekarang kemungkinan tak akan menyukai rasa masakannya. Semoga dia terus belajar hingga kemampuannya membaik. Hingga pembeli mulai berdatangan menjadi pelanggannya.

Semoga dia tak berhenti meski saya yakin akan ada waktu ketika dia kecewa dengan kemampuannya sendiri.

Di perjalanan pulang ayah saya bilang: “Anak itu masih belajar ya? Masih kecil gitu?”

Saya setengah tertawa, menyadari kalau sedari tadi bukan saya saja yang memperhatikan ‘keanehan’ remaja penjual bakmi itu. Lalu kata saya: “Iya, tapi gapapa kan? Namanya berproses. Semua orang yang sudah ahli juga pasti pernah jadi orang yang gak becus sebelumnya.”

Setelah sampai rumah, saya memakan bakmi seharga tujuh ribu itu sampai habis. Dan rasanya, jangan ditanya… sama persis dengan dugaan saya😀

#meski tak membuat bakmi, saya juga masih berproses

2 thoughts on “15 Menit bersama penjual bakmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s