Lelaki dan Kalah Itu

(1)

dari pantai, deru angin dan gemuruh ombak seakan
mengisyaratkan bahwa tidak sesederhana senyum nelayan
itu, p, untuk memahami hati seseorang.
sebab ia selalu sunyi dalam segala penjuru dan tetap
saja rahasia bagi orang lain dari mana asal rindu datang.
p, meski kapal-kapal ada tambatan di tepian,
masih saja sunyi yang mengalahkan diriku dari segala
kemungkinan untuk melabuhkan harapan.
aku membawa ikan-ikan rindu, p, tapi ragu
pada siapa akan kuhidangkan.
padahal matahari sudah mulai tenggelam dan
membatasi jarak pandang.

(2)

aku tahu, p, kuncup keraguan selalu datang karena
memang malam sudah terlalu lama tertusuk hujan.
dan aku selalu tersesat dalam
pengembaraan-pengembaraan panjang.
tak ada ruang buat air mata, p, hanya sedikit luka
tersisa di antara prahara-prahara.
ah, p, tanpamu tak ada lagi dunia dan perjalanan ini
kuakhiri dengan sia-sia.
aku mengejar bulan, p, kuintip diam-diam.
tapi ia selalu sembunyi di balik awan bisu dan kesunyian.
p, detak jam dinding adalah bukti dari letih pencarian.
sedang dirimu adalah puisi tak terbaca dari negeri khayalan.

(3)

p, kini selalu kemarau yang melintas di hatiku
dan menumbuhkan semacam tanaman liar yang
tak ingin kusemai.
bukan bunga dari segala indah bunga yang kuinginkan.
meski hujan menggenang di luar tubuhku dan menyuburkan
harap, tapi selalu kandas dalam ngilu cemas waktu.
hujan yang kunginkan hanya benar-benar menginginkan
tubuhku, p.
sedang kemarau yang kutolak memaksa masuk melalui
pori-pori dan benar-benar tinggal di hatiku.
rupanya musim tidak pernah bersahabat dengan angan
dan inginku, membuatnya tumbuh sekaligus binasa yang
tak sudah-sudah, di mana aku ada yakin juga ragu.

(4)

tak ada dan tidak perlu ada air mata karena cinta, p.
aku tidak lagi menangis karena ditinggalkan, dikhianati,
atau karena dikalahkan.
musim telah lama gugur, pohon-pohon pasti meranggas,
dan tanah bisa retak.
aku sudah terlalu tua, p, sudah tidak punya
cukup waktu untuk menangisinya.
aku sudah gila dengan sakitnya cinta dan dengan
segala keyakinannya.
p, kita seperti bertemunya sungai dan muara, yang
bisa saling mengisi sekaligus bisa saling melepaskan,
dan di hatiku tak tersisa kebencian.
maka jangan takut salah menerka, p, batas
antara mimpi dan kenyataan.

(5)

aku ingin belajar pada sisa-sisa dan sia-sia
kekalahan, p.
meski kadang alam sendiri sudah menyerah putus asa.
aku mencoba kuat dan bersemangat muda, meski kau
selalu acuh dan perkasa saja.
sebab padaku ada menunggu!
biar musim, bunga, rumput, ilalang, dan kau
biar ragu, biar terbakar segala waktu dan rindu.
biar pada aku yang lemah aku yang jatuh, terbakar
angan tertunggu ingin.
sebab ia pasti membuncah dan menumbuh tunas-tunas baru,
sebelum jemu menyerbu dan semuanya kuyu layu.

– pria iseng sendiri –
(dari 22 Juli 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s