Review: Katarsis, when a psycho meets a psycho

Di luar dugaan, ternyata bisa menghabiskan buku ini dalam sekali duduk… (ini karena terlalu asyik atau emang nganggur?). Sadly, saya jarang sekali bisa sangat terkesan dengan buku yang bisa saya habiskan sekali duduk.

Sebelum membacanya saya tertarik dengan covernya yang eye-catching dan bikin penasaran, selamat Staven Andersen yang men-desain cover dan ilustrasinya😀

katarsis
cover katarsis

Judul buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Desan dan Ilustrasi Cover: Staven Andersen
Cetakan pertama, April 2013
ISBN: 978 – 979 – 22 – 9466 – 8

— WARNING! Beberapa penjelasan di review ini mengandung spoiler. —
— READ ON YOUR OWN RISK. —

Ada beberapa catatan yang saya buat ketika membaca buku ini. Saya selalu bikin catatan atau coret-coretan kecil memang pas baca buku, cuma kadang nggak saya tulis rapi jadi review dan gak disubmit ke goodreads :p

*Pertama adalah tentang Tara Johandi*
Tokoh utama dalam buku ini yang digambarkan psycho. Oke, tokoh yang psycho memang memberikan ketertarikan tersendiri, terutama jika jelas alasan kelainannya dia apa. Cuma, sejak awal buku ini dan melihat ke-psycho-an si Tara, saya gak bisa berhenti mikir “Tara ini sebenernya kenapa?” Faktor psikologis apa yang bikin dia psycho sejak lahir, bahkan sejak dia balita dan belum bisa menyebut nama orang tuanya?

Pas masuk RSJ sih Tara memang mengalami halusinasi yang tidak-tidak seperti mencium bau mint, melihat monster, kotak kayu perkakas, dan lainnya, tapi kalo mau dibilang dia mengalami schizophrenia kok kayaknya aneh… karena bukannya schizo itu munculnya sejak kecil? Sementara dengan fakta bahwa Tara sepertinya memang sudah punya bibit-bibit kejam dan sadis sejak lahir… dan tak adanya penjelasan tentang kelainan Tara ini, saya mau gak mau jadi ingin setuju sama Bara (ayahnya) bahwa Tara memang mungkin terlahir sebagai ‘anak setan’, wkwkwk… (sorry Tar, jangan bunuh saya)

*Tentang Ello dan POV*
Sesungguhnya saya juga heran sama kelainannya Ello. Di sini ceritanya dia punya kelainan tak bisa merasakan sakit (Congenital Insensitivity to Pain – CItP), dan itu berpengaruh pada kepribadiannya. Menurut saya wajar kalo kelainan itu berpengaruh pada kepribadiannya, tapi apa iya kelainannya itu juga berpengaruh pada kejiwaannya dan bikin dia jadi suka bunuh orang? Menurut saya, penulis kurang menjelaskan latar belakang Ello. Yang kita tahu, Ello itu gak bisa merasakan rasa sakit, suka melukai dirinya sendiri, dan suka membunuh orang (karena sejak pertama dimunculkan dalam versi dewasa, Ello baru saja membunuh wanita dan membuangnya ke sungai). Nah… kenapa bisa begitu? Kasusnya sama kayak Tara nih.

Untuk POV, saya gak merasakan adanya perbedaan antara ELlo dan Tara. Bagaimana cara mereka berbicara, apa yang mereka pikirkan, kayaknya hampir sama… padahal perbedaan ini krusial, karena keduanya hampir punya emosi ‘angst’ yang hampir sama. Mereka berdua punya gangguan mental, mereka biasa berhalusinasi, dan bicara tentang membunuh adalah hal yaang bisa saja dilakukan oleh mereka berdua. Cuma bentuk halusinasinya saja yang berbeda, dan pengalaman membunuhnya. Tapi ketika itu tak disebut, kadang di awal-awal saya sering bingung ini lagi ngikutin Tara atau Ello.

*Tentang waktu dan lokasi*
Di buku ini tak ada informasi jelas tentang waktu dan lokasi. Bisa jadi agar unsur thriller dan misterinya terasa. Tapi menurut saya, waktu dan lokasi justru bisa dimanfaatkan untuk memancing pembaca agar penasaran atau setidaknya mencari-cari sendiri benang merah dari misteri yang ditawarkan dalam buku ini. Gak adanya keterangan dan penggambaran yang jelas tentang lokasi juga kadang membuat saya kesulitan membayangkan adegannya.

Bahkan ada adegan ketika Tara menempel di tembok dan melihat paman dan bibinya masuk ke kamarnya. Saya gak bisa membayangkan, tembok mana? Bagaimana bisa dia melihat paman dan bibinya yang ada di dalam rumah? Super vision?

*Tentang plot*
Entah saya sendiri, atau ada yang juga merasakan, mungkin ini terkait dengan waktu dan lokasi tadi… tapi menurut saya plot dalam cerita ini sering melompat dan putus. Ada hal-hal aneh yang tidak dijelaskan, atau dijelaskan di sesi lainnya yang jauh setelah adegan itu, tapi udah nggak nyambung. Misalkan saja tentang kotak perkakas berisi gadis mirip Tara yang dikirim ke rumah sakit tempat Tara dirawat. Siapa yang mengirim? Ello? Bukannya waktu itu dia belum ketemu Tara? Heru dan Arif? Bukankah waktu itu mereka juga belum ketemu? Ini bisa jadi nggak aneh dan masuk akal jika ada keterangan waktunya.

*Tentang gaya bahasa dan ide cerita*
Walaupun saya sempat kehilangan minat membaca buku ini di halaman 140, tapi menurut saya gaya bahasa Anastasia Aemilia mengalir dan cukup memikat. Ini salah satu penyebab saya membetahkan diri untuk membacanya sampai habis dalam sekali duduk, meski ada beberapa halaman yang saya baca super cepat karena membosankan. Saya juga mendedikasikan satu tambahan bintang untuk ide ceritanya. Ide cerita semacam ini masih jarang digarap di Indonesia, dan saya sangat berterima kasih karena di dalamnya gak ada cinta-cintaan… setidaknya mengobati kejenuhan saya dengan segala novel cinta-cintaan yang beredar saat ini.

Overall.. saya memberinya tiga bintang karena gaya bahasanya yang mengalir, ide ceritanya yang tak biasa, dan keseriusan penulisnya menggarap novel thriller psychology semacam ini. Seriously, menulis semacam ini gak mudah memang, selain penggambaran yang meyakinkan, menegangkan, dan lainnya, penulis harus bisa menyajikan fakta yang kuat dan believable. Menurut saya Anastasia Aemilia lumayan berhasil lah… walaupun di sana sini Katarsis tak jarang membuat dahi saya berkerut dan nggak membuat saya merasakan thriller atau misterinya (untuk yang ini mungkin saya yang aneh), hehehe… piss!😀

Anyway… kenapa buku ini diberi judul Katarsis ya?

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s