Suatu Malam

sering aku mencarimu di suatu malam
antara kerlip bintang dan sinar bulan
pada tangisan anak anak yang lapar
karena terlalu lama menunggu di depan kompor
yang memasak sekerat singkong

aku terus mencarimu di suatu malam
antara jam tujuh hingga waktu subuh
pada jeritan perempuan di klab malam
karena habis melayani pelanggan
uangnya masih diembat majikan

kau tak pernah ketemu di suatu malam
hingga malam sudah berganti siang
pada rintihan tertahan orang orang terbuang
karena malam hari mereka membuat tempat tinggal
pagi pagi sudah dibongkar
sedang mereka tak kuat lagi melawan

aku sudah lelah mencarimu di suatu malam
kini aku berharap kau yang menyapa duluan
bukan lagi tangisan kelaparan
bukan lagi jeritan perempuan
bukan lagi rintihan tertahan
atau bukan lagi suara suara mengharukan

sampai kapan kau akan terus membiarkan
suara suara itu yang menggantikan
lalu mengalahkan dirimu sendiri
tidakkah kau merindukan namamu yang terdengar
di suatu malam yang tenang dan damai
mulai hari ini

– pria iseng sendiri –
(dari 1 September 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s