books that changed me #1: The God of Small Things

The God of Small Things
The God of Small Things – Arundhati Roy

 Judul: The God of Small Things — Yang Maha Kecil
Penulis: Arundhati Roy
Penerjemah: A. Rahartati Bambang Haryo
Pengantar: Melani Budianta
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia (Cetakan kelima, 2009)
Desain sampul: pasardesain.com
ISBN: 978-979-461-402-0

Anna Quindlen dalam bukunya “How Reading Changed My Life” pernah menulis bahwa sebuah buku bisa dibaca berulang-ulang tapi tak akan berubah. Kitalah yang berubah. Menurut saya, buku-buku yang kita baca sedikit banyak memang mengubah diri kita. Beberapa hanya dalam tataran pengetahuan, namun lainnya bisa berkaitan dengan cara pandang dan pemahaman.

The God of Small Things adalah salah satu buku yang telah mengubah diri saya. Sejak menemukan buku ini bertahun-tahun lalu di rak Perpustakaan Umum Kota, saya sudah yakin bahwa buku ini tak akan selesai dibaca satu kali dan seharusnya dimiliki untuk bisa bebas dibaca berulang-ulang. Dan kemarin, ketika menemukan buku ini lagi di rak toko buku Togamas, saya langsung menyambarnya tanpa pikir panjang. Buku ini juga yang membuat saya berpikir tentang buku-buku lain yang telah mempengaruhi dan mengubah diri saya dan mendorong saya menulis post berjudul “books that changed me” yang nantinya akan berbentuk serial.

Tentang buku The God of Small Things

Novel ini adalah karya perdana Arundhati Roy, seorang penulis asal India, yang langsung memberikan gebrakan sekaligus memunculkan kontroversi sejak diterbitkan pada tahun 1996. Buku ini mendapat sanjungan setinggi langit sekaligus cercaan dan kritik pedas dari banyak pihak. Beberapa penghargaan yang diberikan pada buku ini adalah hadiah Booker McConnel dan Booker Prize pada tahun 1997. Di sisi lain, buku ini juga pernah digugat oleh seorang pengacara India karena adanya adegan seks yang dipandang jorok oleh mereka.

Well… saya tidak tahu menahu tentang kontroversi dan gebrakan yang dibuat oleh buku ini. Saya hanya (kebetulan) menemukannya di pojokan sebuah rak dalam perpustakaan, barangkali dalam tidur panjangnya yang sunyi. Plastik pembungkusnya sudah kusam dan bolong di sana-sini, pun kertasnya yang sudah berubah kekuningan. Tapi mata saya tersihir oleh judul yang tertera di bagian depan. The God of Little Things — Yang Maha Kecil.

Entah berapa hari atau berapa dudukan yang saya habiskan untuk membaca buku ini pertama kali, saya sudah lupa. Tapi pada kesan pertama itu saya sudah tahu bahwa buku ini rumit. Seperti sebuah terowongan panjang bekas galian tambang yang sudah ditinggalkan dan berubah menjadi tempatmu bermain bersama teman-teman. Kau mungkin sudah sering melihatnya dan mengenal seluk beluknya, tapi kau percaya terowongan itu masih menyembunyikan banyak hal baru untuk ditemukan. Kau sudah mengenal setiap sudut gelap dan terangnya, tapi ketika keluar dari sana kau bersumpah pasti masih ada yang terlewatkan.

Dan semua itulah yang membuat kau ingin kembali, kembali, dan kembali lagi pada buku ini.

Buku ini berisi banyak hal. Itulah kenapa buku ini tak cukup dibaca sekali. Tentang diskriminasi, Dewa Besar dan Sang Maha Kecil yang tersingkir. Tentang budaya, ras, ideologi, budaya, perempuan, seksualitas, dan cinta. Saya sendiri menemukan hal yang berbeda-beda setiap kali membacanya. Satu kali saya berfokus pada cara penceritaan Arundhati Roy yang berputar-putar dari satu potongan cerita ke potongan cerita lain, yang oleh Melani Budianta disebut struktur mozaik dan spiral. Lain kali saya berfokus pada konsistensi Roy dalam menyuguhkan hal-hal kecil, seolah penulis tak ingin mengkhianati judul bukunya sendiri.

Pada pembacaan lain saya akan berfokus pada cara Roy membuat deskripsi cerita. Dalam banyak hal, cara Roy menulis deskripsi mempengaruhi cara saya membuat cerita pada awal-awal ketika pertama kali saya membaca buku ini. Cara berceritanya yang khas dan intens, menurut saya, sangat mudah menular pada orang yang membacanya, meski metafora-metafora unik yang digunakannya orisinil dan tak akan mudah ditiru.

Dewa Besar dan Yang Maha Kecil

Buku ini menunjukkan adanya pertentangan antara Yang Besar dan Yang Kecil. Roy menggambarkan aturan-aturan, kepercayaan, dan anggapan mainstream sebagai Dewa Besar yang dipatuhi oleh kebanyakan orang. Seperti pembagian ras, kasta, budaya asing yang didewa-dewakan oleh masyarakat lokal. Dewa Besar yang pada dampaknya akan memunculkan golongan terpinggirkan, Yang Maha Kecil.

Rahel, Estha, dan Ammu (serta Valutha, nantinya) adalah tiga tokoh sentral dalam novel ini. Merekalah golongan yang terpinggirkan dalam keluarga besar mereka dan masyarakat di sekitarnya. Ammu seorang janda, anak dari pemilik pabrik yang kemudian jatuh cinta pada Valutha, pria yang berasal dari golongan ‘untouchable’, kasta rendahan yang sebaiknya tak pernah disentuh.

“Bahwa semua itu bermula pada hari-hari ketika Hukum Cinta dibuat. Hukum yang menentukan siapa yang harus dicintai, dan bagaimana caranya. Dan seberapa banyak.” (The God of Small Things – hal 40).

Sementara Rahel dan Estha adalah kembar dizygotic yang seolah saling menyatu. Hingga Rahel bisa memiliki ingatan dari kembarannya dan merasakan apa yang terjadi dalam diri kembarannya. Begitu juga Estha. Ketika Estha kehilangan suaranya dan memilih untuk diam selamanya, kekalutan itu membentuk kekosongan dalam mata Rahel. Pada akhir cerita digambarkan bagaimana Rahel dan Estha saling memeluk dalam keadaan seperti sepasang kekasih. Hingga akhirnya mereka juga barangkali dianggap melanggar Hukum Cinta itu sendiri.

“Mereka adalah dua orang asing yang bertemu dalam perjumpaan kesempatan. Mereka saling mengenal satu sama lain sebelum dimulainya kehidupan, Tak banyak yang dapat dikatakan siapapun, untuk menjelaskan yang akan terjadi selanjutnya.” (The God of Small Things, 401).

Ada banyak hal yang bisa ditawarkan oleh buku ini, dan cuplikan di atas tak ada apa-apanya dibandingkan dengan keseluruhan isinya. Saking padatnya, dua topik dalam buku ini (tentang Anglofilia dan Paradoks) bahkan telah dibahas dalam tesis oleh dua mahasiswa S2 Program Kesusastraan, Program Pascasarjana UI tahun 2000.

Saya sendiri belum sampai pada kesimpulan tentang buku ini. Dan entah kenapa saya merasa tak akan sanggup membuat review tentang isinya secara keseluruhan. Buku ini masih serupa terowongan yang menawarkan banyak kemungkinan penjelajahan, dan saya adalah anak yang sedang bermain di dalamnya, berharap keasyikan menjelajah dan mencari dalam terowongan ini tak akan berakhir, meski hari sudah maghrib dan ibu saya sudah berteriak menyuruh pulang, hehe…😀

Try to read it and explore it yourself, atau bagi pengalaman kalian saat membacanya dengan saya jika sudah🙂

– S –

8 thoughts on “books that changed me #1: The God of Small Things

      1. saya dulu baca itu sekitar 2 tahun lalu, jadi agak lupa jalan ceritanya.pokoknya kalo ga salah, ga suka soalnya banyak adegan perzinahannya gitu. bagus sih, tapi males banget.
        masih mending jatuhnya kapal van der wijk, meskipun tragis, tapi romannya masuk banget.so sweet! hehe

        thats my opinion though :3

      2. mmm… seingatku memang ada adegan panasnya, tapi gak banyak. sebenernya banyak yang bisa digali dari sisi kritik sosial dan budaya dalam novel ini, aku gak terlalu fokus pada adegan panasnya soalnya, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s