tidak dengan sederhana

Aku ingin mencintaimu.

Tidak dengan sederhana seperti kata Sapardi, tapi seutuhnya.
Aku ingin mencintai kau dan ruang-ruang dalam kepalamu yang penuh rahasia.
Juga kau dan seluruh kenangan tentang perempuan-perempuan lama,
yang entah tinggal di sudut hatimu yang mana.

Aku ingin mencintai kau dan semua rasa rendah diri yang tertutupi sikap berani.
Serta kau dan bekas-bekas luka yang justru membuatmu perkasa.
Kau dan kesenduan sepasang mata di raut wajahmu yang tegar.
Dan kau beserta segala ketakutan yang membuat dadamu bergetar.

Keinginan ini terlalu berlebihan, bisa jadi.
Terutama karena hari masih terlalu pagi.
Sementara kita tak lebih tua dari kecambah pada kapas basah
yang baru menggeliat terkena hangat matahari.
Dan ‘seutuhnya’ mungkin baru kita temukan nanti.

Barangkali jauh di masa yang akan datang,
ketika kau menggendong anak kita yang ketiga.
Atau saat kepalamu memutih dan kita mulai menua.
Mungkin juga ketika aku tengah menungguimu di ujung usia.
Atau justru sebaliknya, ketika kau tengah mengawasiku meregang nyawa,
seperti Dewangga dalam cerpen Martin Aleida.

Atau mungkin, tak akan ada ‘seutuhnya’ hingga waktu mengalahkan kita.
Karena manusia begitu rumit hingga kadang tak menyadari keutuhan diri mereka.
Tapi tak apa… karena aku hanya ingin mencintaimu.
Tidak dengan sederhana seperti kata Sapardi, tapi seutuhnya.

Kau, dirimu yang tersembunyi, juga sisi yang belum kutemui…

๐Ÿ™‚

– S –
*untuk lelaki yang sukanya iseng sendiri*

8 thoughts on “tidak dengan sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s