November, give me some waves!

November has lot of things that makes me excited… NaNoWrimo, NaBloPoMo (yang sudah gagal karena saya baru ngepos di tanggal 3), and many more. Dari postingan blog yang saya follow banyak yang udah bikin tantangan seru untuk bulan November, seperti nonton film secara maraton, baca buku maraton, dan lainnya. Awalnya saya mau bikin gituan juga, challenge myself selama sebulan ini, entah apa… tapi sampe tanggal 1 November belum nemu juga ide yang menarik dan masuk akal untuk dilakukan.

Akhirnya tanggal satu kemarin malah jalan-jalan ke Toga dan beli 3 novel. Salah satunya Supernova 5: Gelombang. Gelombang yang sudah ramai diperbincangkan, yang menurut salah satu postingan blog yang saya baca, sudah disiapkan dengan marketing yang ciamik baik secara offline maupun online. Iya, gelombang yang itu.

I’m not always buy Dee’s book, but when I do… I do it because I’m in love with the symbol on its cover. Ini penampakannya.

10334286_10202212313664024_6006828509567529795_nCover buku Supernova 5: Gelombang karya Dee Lestari

I don’t know, the simplicity just capture my eyes (and my heart). Waktu itu saya mikir, bahkan kalau nantinya isi novel ini membuat saya kecewa saya gak akan menyesal membelinya. All’s just because of THAT symbol. Oke, jadi mari kita berlanjut ke isinya🙂

Seri Supernova yang satu ini berpusat pada seorang pria asal Batak bernama Alfa Sagala. The name reminds me to someone (yes, I’m looking at you, my blogger friend). Alfa yang sejak kecil sudah memiliki otak cerdas (tak rugi orang tuanya memberinya nama Thomas Alfa Edison) dan memiliki kelebihan lain yang membuatnya berbeda dari manusia kebanyakan. Bermula dari rumahnya di Sianjur Mula-Mula, nasib menyeret Alfa berpetualangan hingga ke Jakarta, Hoboken, New York, lalu ke Tibet, dan kembali ke Indonesia (di akhir cerita).

Alfa punya masalah dengan tidur. He’s an insomniac, but a glorified insomniac (meminjam istilah dr Nicky Evans). Alfa bukannya tak bisa tidur, tapi dia tak mau tidur. Ada sesuatu yang selalu menunggu dan berusaha membunuhnya dalam mimpi. Tubuh Alfa memiliki mekanisme bunuh diri ketika dia tertidur. Setelah lama melarikan diri dari tidur, suatu ketika Alfa mau tak mau harus menghadapi mimpinya sendiri. Di sanalah dia kemudian menemukan semua jawaban terkait kenanehan yang dialaminya dalam tidur dan menemukan dirinya sendiri.

Untuk yang mengikuti seri Supernova, buku ini akan memberikan gambaran –meski menurut saya terbatas dan tak lengkap– tentang kaitan KPBJ, Petir, Akar, dan Partikel. Juga sedikit disinggung tentang tokoh Supernova lain seperti Bodhi, Kell, Bintang Jatuh, dan lainnya.

Saya membacanya dalam waktu dua hari. Not really 48 hours karena saya tinggal beraktivitas yang lain. Cukup cepat dan sempat terhenti di pertengahan karena saya mulai bosan. Salah satu hal yang membuat saya bosan adalah karena saya menunggu ada apa sebenarnya dengan mimpi-mimpi Alfa. Tapi perihal tidur dan mimpi tak banyak dibahas atau diungkap hingga hampir sepertiga bagian terakhir.

What I like about this book:

– Kemahiran Dee menyuguhkan tempat, lokasi, suasana, bahkan menggambarkan budaya dan bahasa setempat sudah tak perlu diragukan lagi. Mulai dari Sianjur Mula-Mula, Jakarta, Hoboken yang keras dengan budaya berbeda di setiap unitnya, dan Tibet. Ini tak lepas dari ketekunan Dee melakukan riset menurut saya… two thumbs up! And as expected from Dee🙂

– Cerita yang mengalir. Ya, walaupun sempat bosan, tapi cara Dee bernarasi tetap mengalir dan enak untuk diikuti. Sejak lama saya sudah menyukai cara Dee bercerita, meski saya lebih suka dengan gayanya dalam bentuk cerpen atau cerita setengah panjang seperti Madre dan Filosofi Kopi daripada seri Supernova.

– Dee jago menggarap karakter pria. Ini bukan hal yang gampang. Banyak penulis wanita kesulitan ‘menjadi’ pria ketika menulis tentang karakter pria. Ini membuat tulisan mereka tak meyakinkan dan seolah tak berubah sudut pandang meski dengan banyak karakter. Dee bukan salah satunya. Dia bisa ‘menjadi’ pria dalam Gelombang. Juga pria-pria lain dalam tulisannya, seperti Bodhi dalam Akar, Ben dalam Filosofi Kopi, Tansen di Madre, atau Mpret di Petir (yang konon pernah membuat saya jatuh cinta).

What makes me cringe:

– Meski narasi dalam buku ini indah dan lancar, saya bosan di tengah-tengah. Yang membuat saya bosan adalah alur yang terlalu lambat dan tak ada progress tentang mimpi. I know, cerita seputar Wall Street, kegemarannya bermusik dan manggung di Lithium, adalah hal yang bisa dianggap penting untuk membangun karakter Alfa Sagala. Tapi ada saat-saat saya berpikir bisa melewatkannya dan tak kehilangan apa-apa. Seperti salah satu scene ketika dia manggung di Lithium. I don’t think I’ll see Alfa Sagala differently even if i don’t see him singing and playing guitar on the stage.

– Alfa Sagala is too perfect for me. He is handsome (a Batak handsome, like his mother), even his friend call him a pretty boy. Dia punya otak cerdas yang bisa membuatnya diterima di tiga universitas Amerika sekaligus dengan beasiswa. Dia punya tubuh kuat yang disebut ibunya seperti tubuh kerbau, dan dia juga pintar main musik. Alfa Sagala only have one weakness: sleep.

– Ada bagian yang membuat saya sontak tertawa. Yaitu ketika pada sebuah pasar di Tibet seorang anak kecil mengambil kantong batunya dan Alfa refleks berkata “Copett!” dalam bahasa Indonesia. Refleksnya berteriak “copet” cukup aneh bagi saya. Dia sudah hidup delapan tahun di Amerika, even learn to talk like natives dan berhasil, tapi ketika kecopetan refleksnya tetap berkata ‘copet’ dalam bahasa Indonesia? Setiap hari dia sudah berbicara dalam bahasa Inggris, akan lebih wajar jika dia berteriak “Thief!” daripada “Copet!” well… unless he still think in Bahasa Indonesia, maka wajar kalo refleks otaknya begitu🙂

In the end… I enjoy the book, tapi sayangnya saya tak berhasil menemukan ‘gelombang’ di dalamnya. Perjalanan Alfa terasa lempeng-lempeng saja. Saya berharap ada gelombang besar di dalamnya yang akan menyeret saya ke tengah laut dan membuat saya tak bisa melupakan buku ini. But I don’t see any waves, bahkan gelombang kecil yang bikin saya agak takut naik perahu saja tidak saya rasakan.

Saya mulai berpikir bahwa jangan-jangan gelombang yang dimaksud di sini, seperti kata Kalden, hanyalah sebuah kode.  Barangkali gelombang dalam buku ini lebih pada ‘brainwave’ ketika kita tertidur (yang kemungkinan besar juga berkaitan dengan nama Alfa… gelombang Alfa otak?). Alfa adalah karakter yang menarik by design, but not a type that can make me fall in love. Still I’m waiting for the next book: Intelegensi Embun Pagi🙂

Membaca Gelombang yang lempeng-lempeng saja di awal bulan membuat saya berharap semoga November tidak ikut membosankan. At least, give me some waves of fun, November!

– S –

9 thoughts on “November, give me some waves!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s