misalnya begini…

Misalnya begini…

Ada seseorang (sebut saja si A) yang memiliki pikiran cemerlang dan ide-ide yang hebat, tetapi hanya dikenal oleh sedikit orang. Sementara ada orang lain (yang ini kita sebut si B) yang ide dan pikirannya biasa-biasa saja, tetapi memiliki jaringan yang luas. Seringkali, si B membaca ide-ide yang ditulis oleh si A, kemudian (katakanlah) menjadi terinspirasi lalu menuliskannya lagi dengan bahasanya sendiri. Melalui tulisan-tulisannya ini, si B menjadi sangat dikenal dan dikagumi, atau bahkan membuatnya menjadi sumber inspirasi. Sementara sumber ide brilian yang sesungguhnya masih tersembunyi di balik tembok, terus berproduksi tanpa menyadari bahwa ide-idenya telah berkeliaran di luar sana lewat tangan lain.

Berdasarkan kronologi di atas, apa yang akan kalian pikirkan? Kemungkinan orang-orang akan terpecah menjadi beberapa kelompok pemikiran:

1. Kelompok yang berpikir bahwa ini adalah hal yang tidak adil. Mereka menganggap bahwa si B bisa sukses tidak dengan kemampuannya sendiri, melainkan dengan ‘mencuri’ ide orang lain. Ketenarannya palsu belaka. Cih!

2. Kelompok yang menyayangkan kebodohan A karena kurang bergaul. Please… di era seperti ini jaringan sangat penting. Mengurung diri di balik tembok terbukti tak akan menghasilkan apa-apa. Bukan salah si B jika kemudian menggunakan idenya. Ini hanya salah satu bentuk kecerdikan dari B sendiri.

3. Kelompok yang suka berandai-andai akan berpikir bahwa, barangkali… barangkali saja… yang sebenarnya terjadi adalah A dan B sama-sama tak bersalah dan tak mempermasalahkan kronologi di atas. A tak peduli jika idenya dipakai oleh si B selama dia merasa nyaman dalam lindungan temboknya dan tetap tak dikenal. Barangkali si A tak butuh disanjung atau dianggap jenius, apalagi dijadikan sumber inspirasi. Dan barangkali… (sekali lagi) barangkali… si B justru adalah penolongnya. Melalui si B, ide-ide si A bisa dikenal dan dimanfaatkan oleh orang yang lebih banyak.

4. Kelompok yang berpikir bahwa A dan B sama-sama tak bersalah karena semuanya sudah menjadi kehendak Tuhan. Kenapa? Bisa jadi, semata-mata karena Tuhan tak mengizinkan ide-ide brilian itu hanya dimiliki oleh satu kepala. Apalagi kepala yang introvert macam si A.

5. Kelompok yang berpikir bahwa kronologi di atas hanya ceracauan belaka dan tak mau repot-repot berpikir lebih lanjut. Lagipula dia curiga A dan B hanya fiksi dalam kepala penulis postingan ini, jadi tak usah bingung. Lebih baik kemampuan otak kita digunakan untuk hal yang lebih nyata.

6. Kelompok lain yang memiliki pendapat lain tentang kronologi di atas.

Saya termasuk kelompok yang kurang kerjaan dan berandai-andai seandainya ada kasus seperti di atas, kemudian mengira-ngira tentang apa yang kemungkinan akan dipikirkan oleh banyak orang ketika mengalami atau mendapati kasus semacam itu. Setelah itu, karena masih kurang kerjaan, kelompok ini akan menuliskannya dan memposting penganda-andaiannya di blog🙂

– S –

5 thoughts on “misalnya begini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s