it’s empty

“Kenapa kau diam saja? Bicaralah!” Suara lelaki di seberang telepon mengiba. “Apa kau membenciku? Katakanlah sesuatu!”

Kemudian kudengar sesengguknya. Lelaki itu menangis. Ayahku, menangis.

Tapi aku bergeming. Tak satu kata pun meluncur dari mulutku. Tidak untuk memakinya atau menenangkannya. Tak ada. Kepala dan hatiku kosong. Aku sungguh tak punya apapun untuk dikatakan.

Kupikir saat itu aku menemukan sisi diriku yang baru. Dia. Sisi yang dingin dan keras, berdiri seperti patung dengan ekspresi kosong dan tatapan hampa. Diriku –yang waktu itu baru genap 17 tahun– seperti tembok baja yang tak tertembus. Tak punya belas kasihan. Hatinya kebas, tak lagi bisa merasa. Dia sungguh sudah tak punya apa-apa.

Kukira itulah wujud terburukku. Bagian diriku yang kupikir hanya akan kutemui sekali seumur hidup. Tapi ternyata dugaanku salah. Beberapa waktu lalu, aku kembali menjadi dia. Dan aku tak tahu bagaimana cara kembali ke diriku yang semula.

– S –
(dari Juli 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s