Menghayati perempuan Bali lewat Tarian Bumi

Tarian Bumi oleh Oka Rusmini

 

Judul: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan kedua, Juni 2013)
Desain Cover:Supriatno
ISBN: 978-979-22-9705-8

— WARNING! —
Beberapa penjelasan di review ini mengandung spoiler
— READ ON YOUR OWN RISK! —

Tarian Bumi adalah novel yang bercerita tentang perempuan Bali. Bukan (sekedar) perempuan Bali yang memiliki mata bundar dan cantik, yang sedang menari sambil melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, seperti yang sering kita temui di televisi. Tapi perempuan Bali yang sesungguhnya.

The Story

Novel ini berfokus pada kehidupan dua wanita, Luh Sekar (yang nantinya berganti nama menjadi Jero Kenanga) dan Ida Ayu Telaga Pidada, anaknya. Cerita dibuka dengan cerita mengenai Telaga, yang kemudian mengambil alur maju dan mundur (campuran) untuk menelusuri kisah-kisah perempuan lain di sekitarnya. Bagi Telaga sendiri, ada tiga wanita yang menjadi peta dalam hidupnya, yaitu Ida Ayu Sagra Pidada (neneknya, yang di buku akan sering kita jumpai dengan sebutan nenek atau Tuniang –sebutan untuk Nenek dari kasta brahmana–), Luh Sekar (atau Jero Kenanga) ibunya, serta Luh Kambren guru menarinya.

Semua dimulai oleh Luh Sekar, perempuan Bali yang terlahir dari kasta Sudra yang berambisi untuk berpindah kasta menjadi brahmana. Bukan tanpa alasan, Luh Sekar sudah muak dipandang sebelah mata dan selalu dihina oleh masyarakat. semua karena bapaknya adalah salah seorang anggota PKI yang sudah diringkus oleh pemerintah saat itu. Kepergian bapaknya membuat hidup Sekar dan ibunya (Luh Dalem) menjadi semakin sengsara. Nasib buruk seolah selalu menghinggapi hidup mereka. Mulai dari Luh Dalem yang diperkosa, mengalami kebutaan, hingga harus melahirkan dua anak nakal (bernama Luh Kerta dan Kerti) yang sebenarnya kehadirannya tak diinginkan.

Karena itu, dengan ambisi yang menyala-nyala dan tekad yang kuat Sekar berusaha memperbaiki nasib dan hidupnya sendiri. Sekar berusaha keras dan mati-matian untuk menjadi penari terbaik. Ini dilihat sebagai salah satu cara untuk bisa menaikkan derajatnya. Benar dugaannya, salah seorang lelaki dari kasta Brahmana terpoikat pada Sekar. Dia adalah Ida Bagus Ngurah Pidada.

Sekar menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada dan berhasil masuk ke griya (sebutan untuk rumah tangga keluarga kasta brahmana). Dengan meningkatnya kastanya sebagai istri seorang brahmana, namanya harus diganti menjadi Jero Kenanga. Menikah dengan Ngurah tak hanya membuat Sekar harus kehilangan namanya, tetapi juga seluruh kehidupannya. Dia tak lagi boleh terlalu sering mengunjungi ibunya di rumah, dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukannya ketika masih berkasta sudra. Meski begitu, kehidupan Sekar (Jero Kenanga) menjadi lebih rumit. Di luar dia diperlakukan seperti seorang brahmana, sementara di dalam griya dia masih diperlakukan selayaknya sudra karena dia bukan brahmana murni.

Dari pernikahan tersebut, lahirlah Ida Ayu Telaga Pidada. Telaga lahir sebagai keturunan brahmana, namun tetap dipandang sebelah mata karena tidak lahir dari perkawinan murni antara orang dari kasta brahmana dengan brahmana. Sekar memiliki obsesi yang kuat terhadap Telaga. Dia ingin Telaga menghargai semua usahanya untuk menjadikannya sebagai putri brahmana yang paling dihormati hingga karat ke-brahmana-annya tak diragukan lagi oleh siapapun.

Namun Telaga punya kehidupan dan cara hidupnya sendiri. Sejak kecil gadis itu sudah menaruh hati pada seorang lelaki sebayanya yang pandai melukis, yaitu Wayan Sasmitha. Wayan yang adalah seorang sudra juga menyukai Telaga. Mereka berdua sering menari bersama, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Hal ini tentunya menjadi ironi tersendiri bagi Sekar, karena usahanya untuk menjadi brahmana agar keturunannya bisa hidup terhormat justru dijatuhkan oleh putrinya sendiri dengan memilih seorang dari kasta sudra sebagai suaminya.

Novel ini kemudian diakhiri dengan keputusan Telaga untuk melakukan Patiwangi, yaitu ritual penurunan kasta, dari seorang brahmana menjadi sudra.

Tentang perempuan

Menurut saya, Tarian Bumi adalah novel yang kaya. Di dalamnya kita bisa menemukan banyak sekali adat dan budaya Bali yang ditampilkan secara apa adanya. Dibuka secara gamblang. Telanjang. Meski begitu, novel ini lebih fokus pada adat yang berkaitan dengan kasta dan peran perempuan dalam masyarakat Bali.

Ada bermacam-macam ‘jenis’ perempuan Bali yang ditampilkan dalam novel milik Oka Rusmini ini. Mulai dari Luh Sekar (Jero Kenanga), Luh Kenten (sahabatnya), Ida Ayu Sagra Pidada (nenek Telaga), Ida Ayu Telaga Pidada, Luh Kambren, Luh Sadri (adik Wayan), Luh Dalem (nenek Telaga dari pihak ibu), Luh Gumbreg (ibu Wayan), Luh Dampar, dan lainnya. Masing-masing nama perempuan di atas pun bukan sekedar tempelan saja. Mereka memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sementara lelaki Bali hanya ditampilkan sesekali, dan seringkali dibahas dari pandangan perempuan tokoh-tokoh dalam novel ini.

Masing-masing perempuan dalam novel ini membawa kisahnya sendiri yang berkaitan dengan adat. Seringkali mereka berperan sebagai korban dari adat Bali yang dipandang terlalu ketat dan kejam, seperti ketika Luh Dalem (ibu Luh Sekar) meninggal karena terpeleset di sungai dan hanyut. Kematian Luh Dalem disebut sebagai salah pati, kematian yang salah secara adat hingga mayat Luh Dalem yang sudah membusuk tidak dibolehkan masuk ke rumah. Mayat Luh Dalem harus dikubur dulu selama 42 hari, baru boleh diabenkan. Sekar yang sudah berubah nama menjadi Jero Kenanga pun tak diperkenankan untuk melihat, bahkan untuk memandikan atau menyentuh ibunya. Ini karena dia sudah menjadi seorang brahmana dan ibunya adalah seorang sudra.

Jika dilihat dengan mata awam, ini tentu tidak manusiawi. Terutama jika mayat harus disemayamkan di jalan raya dan tak boleh masuk ke rumah. Semuanya karena adat. Jika adat tidak dilaksanakan, maka masyarakat bisa terkena imbasnya berupa wabah. Namun apa boleh buat, itulah adat. Sekar harus tunduk padanya. (h.82)

Oka Rusmini juga tak segan membagi pendapatnya mengenai perempuan Bali melalui pandangan dan dialog-dialog dari para tokohnya. Beberapa di antaranya adalah:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka labih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringat mereka adalah api. Dari keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Merekapun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.” (h.25)

“Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu?” (h.32)

Kutipan yang terakhir menunjukkan bahwa perempuan Bali dilihat sebagai makhluk anomali. Di satu sisi mereka memiliki kemampuan bekerja keras untuk menghidupi keluarga, memiliki tubuh yang dipuja-puja pria, dan kecantikan yang membuat pria tergila-gila. Namun di sisi lain, perempuan lemah terhadap pujian pria dan dianggap sebagai makhluk tak berotak yang bisa dimanfaatkan.

Pendapat mengenai wanita ini sedikit banyak mengingatkan saya pada kutipan yang saya baca di belakang buku Sarinah, milik Bung Karno. Menurutnya banyak orang yang melihat wanita sebagai makhluk yang dipuja dan diagungkan, tetapi tetap dianggap sebagai ‘second sex’ yang lebih rendah dibandingkan pria, dan dianggap bodoh.

Lalu, bagaimana dengan pria? Dalam novel ini menurut saya Oka Rusmini bersikap sedikit tak adil pada para pria di Bali. Dalam penggambarannya melalui tokoh-tokoh di dalamnya seperti ayah Telaga (Ida Bagus Ngurah Pidada) dan Putu Sarma (suami Luh Sadri), kebanyakan lelaki digambarkan sebagai makhluk dengan nafsu binatang yang hanya melihat wanita sebagai objek pemuas nafsu belaka. Meski juga ada lelaki lain yang baik seperti Ida Bagus Ketu Pidada dan Wayan Sasmitha.

Dengan gambaran buruk tentang pria Bali ini, menjadi wajar ketika salah satu tokoh novel ini memutuskan untuk membenci laki-laki dan menjadi lebih suka pada wanita. Kemunculan tokoh lesbian dalam novel ini sebenarnya tak pas jika dianggap sebagai protes terhadap adat Bali, melainkan pada pandangan umum masyarakat. Hingga saat ini tak hanya di Bali, bahkan di seluruh dunia, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah hal yang tak bisa diterima sebagai sesuatu yang ‘normal’. Namun, berdasarkan kecurigaan saya, kemunculan lesbian dalam novel ini berdasar pada kemuakan pada sikap lelaki Bali dan perilaku mereka yang kurang ajar secara terang-terangan terhadap perempuan.

Tentang Kasta

Ya, masyarakat Bali menganut sistem kasta antara lain adalah kasta sudra yang paling rendah, waisya, ksatria, dan brahmana yang paling tinggi. Perilaku masing-masing kasta jauh berbeda bagai bumi dan langit. Misalkan orang dari kasta sudra tak diperkenankan makan bersama orang dari kasta brahmana. Orang kasta brahmana tidak boleh diberikan makanan sisa. Kontak fisik adalah hal yang sangat dihindari. Sebagaimana Luh Dalem yang kemudian tak berani menyentuh Sekar setelah namanya berubah menjadi Jero Kenanga, meski dia adalah ibunya sendiri.

Bahkan penyebutan panggilan keluarga seperti nenek pun berbeda antara keluarga kasta sudra dengan brahmana. Keluarga kasta sudra memanggil nenek dengan panggilan ‘Odah’ sementara kasta brahmana memanggil nenek dengan panggilan ‘Tuniang’. Orang kasta sudra yang memanggil kasta brahmana harus menggunakan ‘Ratu’ seperti yang dilakukan Luh Kambren pada Telaga. Kambren memanggil muridnya itu dengan sebutan ‘Tugeg’ kependekan dari ‘Ratu Jegeg’. Sebutan untuk rumah kasta brahmana dengan sudra berbeda, begitu juga dengan tempat sembahyang yang mereka gunakan.

Ditunjukkan juga bahwa perpindahan seorang dari satu kasta ke kasta lain bukan hal yang mudah. Tak semudah ganti kaos kaki setiap dua hari sekali. Apalagi ganti celana dalam tiga kali sehari. Terlihat bagaimana Luh Sekar masih dianggap sebagai seorang sudra di kalangan griya, dan bagaimana Telaga harus bersusah payah menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga sudra bersama Wayan.

Pada akhirnya, Telaga memilih untuk menjadi sudra karena menurutnya kasta hanyalah kasta. Dalam pengalamannya ada orang kasta brahmana yang bisa bertingkah lebih sudra daripada seorang sudra seperti ayahnya. Selain itu juga ada seorang sudra yang luar biasa seperti Luh Dalem.

Kritik terhadap pemerintah

Seperti yang saya katakan di awal, buku Tarian Bumi sangat kaya. Tak hanya membahas tentang adat dan perempuan, Oka Rusmini juga menyelipkan kritik terhadap para pegiat seni dan pemerinth melalui Luh Kambren.

Luh Kambren adalah seorang penari berbakat yang sudah menerima banyak penghargaan. Namun perempuan ini masih tak bisa hidup sejahtera. Yang didapatkannya hanya piagam, tanpa harapan hidup yang layak dari pemerintah. Bahkan di akhir hayatnya Luh Kambren mati sendirian, membusuk dalam rumahnya yang sempit. Kambren juga menyentil bagaimana dirinya selalu dijadikan objek tulisan oleh para penulis, namun tak pernah mendapatkan timbal balik yang berarti.

“Tugeg tahu sendiri, tiang tidak pernah ingin pergi ke Jakarta, atau bersalaman dengan gubernur. Kalau hanya mendapat seratus-dua ratus ribu, untuk apa? Dulu tiang berpikir, berpuluh-puluh piagam yang tiang sendiri tidak tahu namanya ini mampu menanggung masa tua tiang. nyatanya tidak! Dulu semua tiang simpan rapi. Tapi setelah tahu t8idak mendatangkan hasil seperti yang tiang inginkan, tiang pakai menutup gedek tiang yang bolong. Lalu bingkainya untuk menambal atap yang bocor.” (h.106).

‘Mengadili’ budaya

Menulis tentang budaya sebuah daerah memang selalu menarik. Terutama ketika budaya daerah lain jauh berbeda dengan budaya yang membesarkan kita. Melihat budaya yang berbeda, kadang kita akan ‘gatal’ untuk berkomentar, lebih jauh lagi untuk mengritik dan mengadili. Namun mengadili budaya tak pernah mudah dan layak.

Untungnya Tarian Bumi ditulis oleh Oka Rusmini yang adalah perempuan Bali. Sehingga novel ini bisa dilihat sebagai ‘protes’ dari dalam, dari pelaku kebudayaan itu sendiri. Seperti halnya Arundhati Roy yang mengritik budaya India, budaya miliknya sendiri. Bayangkan jika penulis tidak berasal dari budayanya, meski mengenal dengan baik budaya tersebut? Bisa jadi kritikannya menjadi tak valid atau bahkan berubah menjadi sebuah pelecehan terhadap kebudayaan.

Meski begitu, mengadili budaya menurut saya memang tak mudah. Budaya dan adat telah mengakar kuat dalam bumi tempat kita berpijak. Kita bahkan dibesarkan dengan budaya. Adat dan cara berperilaku berdasarkan budaya telah tumbuh subur bahkan sebelum kita lahir. Kita besar bersama kebudayaan. Ya, kebudayaan masing-masing, sesuai tempat kita besar dan mendewasa.

Dalam sebuah budaya akan selalu ada orang-orang yang muncul dan mempertanyakan budaya mereka sendiri. Misalkan, mengapa harus ada kasta? Mengapa kedudukan manusia harus dilihat berbeda? Mengapa kita harus melakukan ritual ini dan itu yang secara logika tampak tak masuk akal? Namun di sisi lain, ada orang yang sangat menghargai budaya mereka sebagai cara hidup yang sakral dan seharusnya tak lekang oleh zaman. Golongan inilah yang membuat budaya dan nilai adat terus tumbuh subur dan lestari hingga ke anak cucu.

Lantas, kita harus bagaimana jika berhubungan dengan budaya? Saya tak tahu. Saya menghormati kebudayaan orang lain, namun juga merasa bahwa pada titik-titik tertentu, budaya yang merugikan dan memandang rendah martabat manusia seharusnya dihentikan.

Tempo pernah mencatat: “Novel ini dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih feodal. Dalam konteks adat-istiadat Bali, Tarian Bumi dipandang sebagai sebuah pemberontakan terhadap adat.” (Tempo, 9 Mei 2004)”

Menurut saya sendiri, upaya Oka Rusmini untuk membuka dengan gamblang keadaan perempuan Bali melalui novel ini memang bisa dianggap sebagai pemberontakan. Namun jika dicermati, dalam novel ini segala jenis pemberontakan yang dilakukan tokohnya selalu berakhir pada kekalahan.

Luh Sekar yang telah berhasil menjadi seorang Jero Kenanga masih dianggap sebagai sudra oleh orang griya. Luh Dalem dan Kambren yang mati mengenaskan. Telaga yang memilih menikah dengan pria sudra dan pada akhirnya harus melepas gelar brahmananya.

Selain itu, Tarian Bumi saja tak cukup untuk ‘melihat’ budaya Bali secara keseluruhan. Novel ini memang membuka mata banyak orang untuk mengenali lebih dalam hal perempuan Bali dan lingkungan mereka. Namun masih banyak aspek dari Bali yang tak ada dalam novel ini.

***

Baiklah, saya rasa postingan ini sudah terlalu panjang. Terima kasih sudah mau membaca cerocosan saya setelah membaca Tarian Bumi😀 Saya suka novel ini. Jalinan ceritanya, pembangunan tokoh dan karakternya, kekayaan informasi serta berbagai macam kritik yang ada di dalamnya. Novel seperti ini yang membuat pandangan kita menjadi lebih luas. Tapi novel ini terlalu cepat berakhir. Bagi saya, novel ini belum selesai :p

Oh iya, ngomong-ngomong, sebaiknya novel ini dibaca oleh yang berusia 18 tahun ke atas. Meski tak memberikan deskripsi yang vulgar seperti novel-novel Ayu Utami, Djenar, dan Eka Kurniawan, tetapi banyak unsur seksualitas yang dibahas dalam novel ini.

Last, saya akan memberikan kutipan berupa nasihat dari Ida Ayu Sagra Pidada (nenek Telaga). Nasihat ini sungguh cocok bagi para perempuan yang belum-akan-dan sudah jatuh cinta😀

“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.” (h. 21)

– S –

PS: terima kasih untuk bukunya, Mas eMWe… (titik dua strip bintang, hahaha…)😀

6 thoughts on “Menghayati perempuan Bali lewat Tarian Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s