Review: Veronika (tak) Memutuskan Mati

Veronika Memutuskan Mati
Veronika Memutuskan Mati – Paulo Coelho

Judul: Veronika Memutuskan Mati
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Lina Jusuf
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: keempat, November 2006
Perancang Sampul: Rully Susanto
ISBN: 979-91-0025-9
Jumlah halaman: viii + 258 hlm.; 15 cm x 19 cm

— THIS REVIEW CONTAIN NOT TOO MUCH SPOILER —

Tidak. Sebenarnya sejak awal Veronika memutuskan untuk mati. Lebih tepatnya untuk bunuh diri. Karena ternyata, bahkan kematian adalah hal yang perlu diusahakan, dan belum tentu didapatkan meski seseorang sudah memutuskan untuk mati. Sama seperti yang dialami oleh Veronika.

Veronika adalah seorang gadis asal Slovenia yang ingin bunuh diri. Oh, dia tidak bunuh diri karena patah hati seperti yang banyak dilakukan remaja atau anak muda saat ini. Bukan juga karena tak lulus ujian atau mengidap sakit yang tak bisa disembuhkan. Veronika ingin mengakhiri hidupnya karena merasa bosan. Hidupnya begitu-begitu saja. Setiap hari dia menjalani hidup yang sama. Bekerja di perpustakaan, makan siang di taman, lalu kembali lagi, pulang, dan tidur. Begitu setiap hari. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri saja hidupnya.

Tentang buku Veronika Memutuskan Mati (Veronika Decides to Die)

Buku ini diawali usaha Veronika untuk bunuh diri dengan menelan pil tidur. Tapi ternyata gagal. Akibatnya, dia malah dimasukkan ke Villete, sebuah rumah sakit jiwa di Slovenia, karena dianggap tidak waras. Sesampainya di Villete, dia diberitahu bahwa usaha bunuh dirinya membuat jantungnya rusak, dan tak lama lagi dia akan mati. Mungkin lima hari lagi.

Awalnya Veronika tak peduli. Dia memang ingin mati, jadi tak masalah menunggu sampai lima hari lagi. Namun suasana di rumah sakit jiwa, tempat di mana seharusnya orang-orang gila berada (tapi ternyata tidak) membuatnya berubah. Veronika dipaksa berpikir ulang tentang hidupnya dan keinginannya untuk mati.

Perlahan Veronika menemukan lagi alasan untuk kembali hidup. Menjalani hidupnya secara berbeda. Namun terlambat, karena dia divonis akan segera mati. Di sinilah saat ketika Veronika kemudian memperlakukan setiap hari yang dimilikinya sebagai sebuah keajaiban. Memperlakukan setiap hari seolah itu adalah hari terakhir yang dimilikinya, karena memang dia bisa mati kapan saja.

Seperti bukunya yang lain, di beberapa bagian buku ini Paulo Coelho menyisipkan beberapa filosofi terkait dengan kebebasan manusia untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Pesan yang sama juga saya tangkap dari The Alchemist. Namun buku ini lebih berfokus pada arti hidup, kematian, dan dorongan bagi kita semua untuk berani bersikap sedikit ‘gila’. Karena kita tak diciptakan untuk normal-normal saja dan tak diciptakan untuk seragam dengan manusia lainnya. Dan seperti The Alchemist, buku ini juga berhasil memprovokasi pikiran saya. Thanks for making me thinking a lot of crazy things, Paulo🙂

Di ending buku ini, saya menemukan twist yang sangat manis dan tidak diduga. Saya pikir… ah, tak usah saya katakanlah, nanti jadi spoiler. Lebih baik kalian baca sendiri dan temukan twistnya di halaman-halaman terakhir😀

Tentang bunuh diri

Buku ini datang setelah beberapa hari sebelumnya saya memikirkan tentang bunuh diri. Saya bukan ingin bunuh diri, tapi sekedar berpikir tentang alasan banyak orang ingin mengakhiri hidupnya. Ketika seseorang melakukan bunuh diri, atau percobaan bunuh diri, pertanyaan pertama yang muncul di kepala semua orang rata-rata adalah: “Kenapa?”

Apa alasannya hingga dia memutuskan untuk bunuh diri? Apa yang membuatnya ingin mati?

Tapi kemudian saya teringat sebuah cuplikan adegan dalam film serial Jepang yang berjudul “Love Shuffle”. Dalam serial itu ada seorang gadis bernama Kairi yang ingin sekali bunuh diri dan sudah berulang kali mencoba mengakhiri hidupnya. Kairi pernah ditanya oleh seorang wanita: “Kairi-chan, kenapa kau ingin mati?” Tahu jawaban Kairi? Gadis itu justru balik bertanya: “Kenapa kau ingin hidup?”

Ya, ketika ada orang yang ingin bunuh diri, semua sibuk bertanya apa yang membuatnya ingin mati. Padahal sesungguhnya bukan mati saja yang butuh alasan. Hidup juga. Sama seperti mempertanyakan mengapa seseorang ingin mati di dunia ini, mereka seharusnya juga bertanya mengapa masih ingin bertahan hidup di dunia.

Orang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri tentu punya alasan. Tak mungkin memutuskan untuk mengakhiri hal sepenting dan sebesar ‘hidup’ tanpa alasan yang kuat. Menemukan alasan untuk mati sesungguhnya sama dengan menemukan alasan untuk bertahan hidup. Bukankah orang ingin bunuh diri karena merasa sudah tak punya alasan untuk hidup.

Seperti halnya orang yang tak bisa ‘iseng bunuh diri’, maka seharusnya kita juga tak bisa ‘sekedar hidup’.

Dalam buku ini, Paulo Coelho membuat kita kembali berpikir, melalui tokoh Veronika, mengenai alasan untuk hidup. Ketika kau tahu kematian sudah ada di depan mata, kau akan mulai berpikir tentang apa yang selama ini sudah kau lakukan. Apakah kau sudah melakukan yang terbaik, semaksimal mungkin, dan siap menerima kematian dengan tangan terbuka dan senyum yang terkembang? Nyatanya Veronika belum siap.

Ketika tahu usianya tinggal lima hari lagi, Veronika baru sadar bahwa dirinya sendiri lah yang membuat kehidupannya menjadi membosankan. Bukan ibunya, ayahnya, atau siapapun di sekitarnya. Veronika selalu punya pilihan untuk menjalani hidupnya seperti yang dia mau, dan dia memilih untuk menjalaninya dengan cara yang membosankan, atau ‘normal’ seperti yang diinginkan banyak orang.

Di rumah sakit jiwa, dia bebas bersikap seperti orang gila, tanpa penghakiman. Karena orang gila sudah wajar bersikap tidak wajar. Dia lebih bebas menjadi dirinya apa-adanya, tanpa takut dianggap tidak normal, seperti yang dialaminya selama ini ketika berada di hadapan masyarakat. Kadang, kita memang takut bersikap sedikit ‘gila’, karena takut dianggap aneh, tak sama, atau benar-benar gila oleh orang-orang di sekitar kita.

Tentang menjadi gila

Gila itu apa? Menurut Zedka, salah satu tokoh dalam buku ini, gila adalah ketika seseorang bertindak atau beprikir berbeda dari orang lain. Orang yang memiliki skizofrenia, maniak, psikopat, akan dianggap gila. Begitu juga Einstein yang mengatakan bahwa tidak ada waktu atau ruang, yang ada hanya kombinasi keduanya. Atau Columbus yang bersikukuh bahwa di sisi lain dunia terdapat benua, bukan jurang. Atau Edmund Hillary, yang yakin manusia bisa sampai ke puncak Everest (hlm.41). Mereka juga dianggap gila pada masanya.

Akan saya tuliskan kembali cerita dari Zedka untuk Veronika pada halaman 42-43 buku ini. Cerita pendek ini sangat menarik dan barangkali bisa membuat kita berpikir.

“Seorang tukang sihir yang sangat ampuh, yang ingin menghancurkan seluruh kerajaan, memasukkan ramuan ajaib ke dalam sumur tempat semua orang minum. Siapapun yang meminum air itu akan menjadi gila.

Keesokan harinya, semua orang minum dari sumur itu dan menjadi gila, kecuali raja dan keluarganya yang minum dari sumur lain. Raja sangat cemas dan berusaha mengendalikan masyarakat dengan mengeluarkan aturan yang menyangkut keamanan dan kesehatan umum. Namun polisi dan kepala polisi sudah meminum air dari sumur beracun itu, sehingga mereka berpikir aturan yang dibuat oleh raja itu aneh, dan mereka pun mengabaikannya.

Ketika mendengar tentang aturan tersebut, rakyat kerajaan itu merasa yakin raja sudah gila, sehingga memberi perintah yang tak masuk akal. Mereka mendatangi istana dan meminta raja turun tahta. Merasa putus asa, raja pun siap turun tahta. Namun ratu mencegahnya dan berkata: “Ayo kita minum dari sumur umum. Dengan demikian kita akan berlaku sama seperti mereka.

Mereka pun melakukannya: Raja dan ratu minum air gila, dan seketika mereka pun melantur. Rakyat berubah pikiran: sekarang raja menjsadi bijak, mengapa ia tak dibiarkan saja memimpin? Negeri itu pun hidup dengan damai, meskipun rakyatnya berlaku berbeda dengan rakyat negeri tentangga. Dan raja memimpin sampai akhir hayatnya.”

Lantas, apa yang sebenarnya disebut gila? Barangkali gila, seperti juga kewarasan dan apa yang disebut normal, hanyalah sebuah konsensus. Rakyat menganggap rajanya gila karena berperilaku dan berpikir berbeda dari kebanyakan orang. Padahal justru raja lah yang masih waras.

Buku ini tak hanya membuat Anda mempertanyakan arti menjalani hidup, tetapi juga tentang kewarasan diri Anda sendiri. Yakin Anda benar-benar waras? Jangan-jangan kita semua adalah masyarakat yang telah meminum air dari sumur beracun, dan mereka yang kita sebut ‘gila’ atau ‘tak waras’ itu sesungguhnya lebih waras dari diri kita.😀

Buku ini akan membuat Anda (atau barangkali saya saja) ingin melakukan sedikit kegilaan dalam hidup. Kegilaan dalam taraf tertentu kadang memang dibutuhkan. Konon, justru orang-orang ‘gila’ lah yang bisa mengubah dunia. Karena mereka melihat apa yang tak bisa dilihat, serta berpikir apa yang tak terpikirkan oleh orang ‘waras’. Yah, bukankah orang-orang ‘gila’ memang seperti itu?😉

Di akhir review ini saya akan berbagi beberapa kutipan dari buku Paulo Coelho yang cukup menarik.

” Kita semua, apapun bentuknya, adalah gila.” (hlm. 78)

“Apa yang membuat orang benci diri sendiri? Sifat pengecut barangkali. Atau mungkin takut bertindak salah, atau tidak dapat memenuhi harapan orang lain.” (hlm. 82)

“Itulah yang harus kalian lakukan; tetap dalam keadan gila, tetapi bersikap seperti orang normal. Bersiaplah menanggung risiko karena kalian berbeda dengan orang lain, tetapi belajarlah melakukan semua itu tanpa menarik perhatian orang.” (hlm. 126)

“Menurutku, bila seseorang yang cuma punya sisa hidup sedikit saja mau menghabiskan waktunya untuk duduk di samping ranjang, memandangi lelaki yang sedang tidur, pastilah itu karena cinta. Apalagi bila saat itu orang tersebut terkena serangan jantung, dan tetap duduk tenang agar senantiasa berada di dekat lelaki itu, maka menurutku cinta seperti itu berpotensi untuk berkembang.” (hlm. 201)

“Karena kami berdua gila, seperti mereka yang pertama kali menemukan cinta.” (hlm. 204)

“Aku lahir di dunia ini untuk mengalami berbagai hal: mencoba bunuh diri, menghancurkan jantungku, bertemu denganmu, mendatangi istana ini, dan membuatmu memahat wajahku dalam jiwamu. Inilah satu-satunya alasan mengapa aku hadir di dunia: untuk mengembalikanmu ke jalur yang telah kamu tinggalkan. Jangan membuatku merasa hidupku sia-sia.” (hlm.252)

Sesungguhnya kutipan terakhir sempat membuat saya berpikir lama. Bagaimana Veronika bisa dengan tegas mengatakan alasannya hadir di dunia ini, dengan jelas, tanpa keraguan. Lantas bagaimana dengan saya, dengan kita. Apa alasan kita berada di dunia ini? Apa alasanmu untuk terus bertahan hidup?🙂

– S –

NB: Ketika membaca kutipan terakhir, di kepala saya muncul bayangan seseorang. Kalau dia membaca tulisan ini, dia pasti segera tahu bahwa seseorang itu dia. Barangkali, salah satu alasan saya berada di dunia ini adalah untuknya🙂

4 thoughts on “Review: Veronika (tak) Memutuskan Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s