Dia Datang Lagi

Ketukan itu awalnya menyapa saya lewat headphone. Tuk… tuk… begitu, pelan saja. Tapi kemudian ketukan itu berpindah ke layar komputer, meja kerja, kursi, dan terakhir mendarat begitu saja di punggung saya.

Tuk… tuk… sekarang rasanya seperti colekan oleh sebuah jari mungil. Saya menoleh perlahan dan menemukan sepasang mata bulat yang kelelahan, lengkap dengan hidung bangir di antara sepasang pipi tirus, dan bibir kecil yang mengatup rapat. Itu adalah wajah yang pernah saya kenal, yang hampir saja saya lupakan.

“Dia bukan gadis cilik, dia adalah sebuah simbol.” Itu yang pernah saya katakan pada sahabat saya, entah kapan, barangkali dua tahun yang lalu.

Dan saya sedang melihat pada simbol itu lagi. Kapan terakhir kali saya meluangkan waktu untuk menemuinya? Rasanya sudah lama dia saya abaikan. Saya jadi merasa bersalah, terutama saat melihat wajahnya yang seolah menunjukkan betapa seringnya dia dikecewaan oleh harapan. Oleh harapan pada saya tentunya. Saya tepuk kepalanya ringan, saya gosok-gosok sampai poni dan anak-anak rambut di dahinya sedikit berantakan. Seulas senyum muncul di wajahnya.

“Maaf ya, Riri…”

Kali ini akan kuselesaikan…  kau belum hilang harapan padaku kan?🙂

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s