Sebuah Pengkhianatan

“Sebelum melakukan sebuah kesalahan.
Sebelum memikirkan apa risiko yang akan kita dapatkan.
Pikirkan dulu siapa yang akan kita kecewakan.”

Siang itu pintu rumahnya diketuk seseorang. Ketukan yang terasa tak wajar, tergesa dan penuh tuntutan. Perempuan itu setengah berlari ke arah pintu depan. Saat pintu dibuka, seorang pria bertubuh tegap muncul di hadapannya. Di belakang pria itu masih ada beberapa orang lagi yang berperawakan sama, dengan ekspresi wajah yang tak jauh berbeda. Sama-sama penuh ketegasan.

“Selamat siang Bu, saya dari kepolisian. Saya mencari &$#%@ (nama anaknya).”

Detak jantungnya seolah berhenti sejenak. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah: “Ini ada apa Pak? Anak saya kenapa Pak?”

Selanjutnya, pria-pria tadi langsung meringsek masuk. Sementara si ibu masih terbengong-bengong. Lama-lama tatapan bingungnya berubah menjadi takut. Khawatir. Tiba-tiba dia ingat anaknya tengah terlelap di kamar.

Pria-pria tadi sudah menemukan anaknya dan membangunkannya dengan paksa. Wajah perempuan itu semakin pias. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Pak, anak saya salah apa? Anak saya nggak pernah macem-macem, Pak…”

Pria-pria tadi tak menggubris pertanyaannya karena lebih sibuk menangkap si anak dan menanyainya dengan suara keras.

“Nak, kamu habis ngapain?” kini tatapannya berpindah ke si anak. Tangannya memegang lengan anaknya, sedikit mencengkeram.

“Tenang Bu, anaknya kita bawa dulu ya… tenang dulu ya Bu. Anaknya akan kita periksa di kantor.” Seorang polwan maju dan berusaha menenangkan si ibu, sekaligus berusaha menjauhkan si ibu dari anaknya.

“Saya ikut aja Mbak… ini kenapa anak saya?”

Pria-pria tadi menyebut beberapa nama. Salah satunya adalah nama korban. Bersama nama-nama yang telah disebut tadi, anaknya disebut sebagai salah satu tersangka pemerkosaan.

“Itu siapa? Kamu kenal mereka? Kamu nggak ikut-ikutan kan, Nak?”

Si anak hanya bisa menunduk. Sementara tangan ibunya yang mencengkeram keras lengannya terlepas, berganti dengan cengkeraman pria-pria dari kepolisian yang berusaha menggiringnya ke mobil.

“Jangan dibawa dulu anak saya Pak…”

Polwan yang berwajah lembut kembali menenangkan sang ibu, menghalanginya agar tak mengganggu proses penangkapan pelaku, yang tak lain adalah anaknya sendiri.

“Nak!” Sang ibu berusaha meronta, tapi anaknya sudah dibawa pergi. “Kamu jelasin dulu ke ibu, Nak…”

Tangis sang ibu –yang sejak tadi sudah berusaha ditahan– pun pecah.

***

Malam tadi, saya menonton cuplikan adegan di atas pada sebuah stasiun televisi swasta. Di mata saya adegan di atas bukan sekedar proses penangkapan pelaku oleh pihak berwajib, tetapi juga proses terbongkarnya sebuah pengkhianatan. Dan sang ibu adalah pihak yang telah dikhianati kepercayaannya.

Saya pikir… sang ibu lebih berhak atas penjelasan anaknya, sebelum si anak ‘harus’ menjelaskan pada pihak berwajib.

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s