(Bukan) Surat Terbuka Untuk Calon Suamiku

Dear calon suamiku,

Jika kau membaca ini, ketahuilah, bahwa sebenarnya aku tak menulis surat ini untukmu. Hehe… aku bercanda. Kau adalah orang yang kutuju dalam surat ini. Tapi sebelum kau kecewa karena surat ini tak ada romantis-romantisnya, kuberitahu bahwa surat ini bukan murni tentangmu atau tentang kita :p

Surat ini terinspirasi oleh surat terbuka seorang perempuan untuk calon suaminya di masa depan. Aku membacanya di salah satu website anak muda paling ‘hip’ saat ini. Kau tahu, surat itu romantis sekali. Dan jika boleh kukatakan, sangat ‘imajinatif’.

Banyak perempuan yang berkomentar bahwa surat itu sungguh manis dan membuat hampir semua wanita ingin segera bertemu jodoh mereka lalu langsung menikah setelahnya. Menurutku, suratnya memang manis. Tapi yang membuat para perempuan itu meleleh bukan hanya suratnya, melainan sosok calon suami yang digambarkannya dalam surat itu.

Kebanyakan perempuan punya tipe lelaki ideal yang ingin mereka jadikan pasangan hidup. Dan surat terbuka itu memberikan sedikit gambaran mengenai lelaki ideal seperti apa yang diinginkan oleh penulisnya. Dia tak sedang menulis surat untuk lelaki sembarangan, tetapi untuk lelaki yang sesuai dengan gambaran dalam pikirannya, yang kemudian disebutnya sebagai calon suami. Mengikuti caranya membuat surat, kupikir akan ada banyak versi ‘calon suami’ bergantung dari khayalan masing-masing perempuan.

Seorang perempuan yang membayangkan calon suaminya sebagai seorang karyawan bank mungkin akan menulis: “Halo calon suamiku, sedang apa? Kubayangkan kau sedang bekerja keras melayani nasabah yang bertanya tentang cicilan rumah dengan senyum manis yang selalu terkembang…”

Perempuan lain yang ingin memiliki calon suami seorang pilot mungkin akan menulis: “Aku tak sabar untuk membantumu mematut seragam setiap pagi dan membuatmu terlihat lebih ganteng 300 persen.” atau “Barangkali nanti kita tak akan sempat berkirim kabar karena kau selalu sibuk singgah ke berbagai belahan dunia, sementara aku sibuk mengurus anak-anak kita di rumah, sembari tak putus mendoakan keselamatanmu.”

Jika dilanjutkan, bisa jadi akan ada lebih dari seratus juta kemungkinan bentuk ‘surat terbuka untuk calon suamiku’ yang sangat-sangat manis di internet.

Setelah membaca itu aku jadi memikirkanmu dan jadi sedikit merasa bersalah kenapa dulu aku tak pernah menulis surat untukmu, calon suamiku. Ya, rasa bersalahnya sedikit saja, karena aku tak benar-benar merasa bersalah :p Kau mungkin berpikir: “Kenapa perempuan yang suka menulis sambil meracau dan seringkali memaksa kekasihnya membaca surat-suratnya itu justru tak pernah menulis pada calon suaminya?”

Jika kau tidak berpikir begitu, maka bagus. Tapi jika kau sempat berpikir begitu, maka biarkan aku membela diri dan menjelaskan mengapa aku tak pernah menulis surat seperti itu untukmu.

Faktanya adalah, aku tak pernah membayangkan seperti apa dirimu. Ya, bahkan konon di masa-masa kejombloanku yang dipenuhi aksi bullying oleh teman sekantor, atau sebelum itu, di masa-masa aku masih sangat penasaran denganmu, aku tak pernah berani berpikir dengan detail seperti apa calon suamiku nanti.

Apakah kau sedang sibuk bekerja di depan layar komputer? Sedang sibuk bekerja di perkebunan sawit? Sedang berkeliaran di jalanan untuk memburu berita tentang cicak vs buaya? Sedang termangu tak ada ide di depan kanvas lukismu? Atau justru sedang tidur siang karena semalam kau lembur mengoprek seperangkat kode dalam program yang kau buat? Aku sama sekali tak menebak-nebak.

Hanya satu hal yang pernah kupikirkan, dan hanya sekali saja kupikirkan tahun 2012 lalu: “Sedang apa kau di malam tahun baru? Sedang kesepiankah? Atau justru sedang bersama seseorang yang saat itu kau cintai dan juga mencintaimu?” Jawabannya? Kuserahkan pada semesta…

Ini bukan karena aku kurang imajinatif, kau tahu itu. Bukan juga karena aku terlalu realistis. Justru aku tak ingin menebak karena sadar akan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi. Dan, calon suamiku… maaf jika dulunya aku tak menggunakan imajinasiku –yang kadang berlebihan– untuk membayangkanmu. Aku hanya tak ingin terburu-buru menulis surat untuk calon suami yang belum pernah kutemui dan memenuhinya dengan harapan-harapanku sendiri.

Bukan berarti aku takut kecewa ketika harapanku tak sesuai dengan dirimu nantinya. Tapi begini… aku ingin menikah denganmu, bukan dengan konsep calon suami yang ada dalam kepalaku. Karena itu sejak dulu aku tak pernah membayang-bayangkan seperti apa dirimu, profesi apa yang akan kau geluti, apakah kau suka mendaki, apakah kau seorang idealis, apakah kau suka hal-hal sederhana seperti makan di warung pinggir jalan, atau justru lebih suka makan di restoran mewah yang membuatku selalu kikuk ketika memasukinya, apakah kau pria penyayang dan penurut, atau justru lelaki cuek, pemberontak, keras kepala, dan selalu membuatku merasa seperti sedang berhadapan dengan kuda liar.

Aku tak ingin berandai-andai kau seperti apa, hingga kau ada di hadapanku. Hingga kita saling berinteraksi dalam sebuah jangka waktu tertentu. Hingga kita menyadari bahwa kita memang diperuntukkan untuk satu sama lain.  Karena setelah kita membuka lapisan demi lapisan diri yang semula tak kita ketahui, kita akan mulai berpikir bahwa barangkali… barangkali saja… alasan keberadaanmu di dunia sesuai dengan alasan penciptaanku di muka bumi ini. Aku tahu aku tak perlu berandai-andai… hanya perlu bersabar hingga saatnya datang.

Dan jika pun aku harus menulis surat untukmu, calon suamiku, surat itu hanya akan berisi satu hal. Satu hal saja yang harus kau camkan seumur hidupmu: “Bersetialah.”

Nantinya kita akan melewati tak hanya ombak besar dan karang yang tinggi, tak hanya badai petir atau panas kekeringan yang menahun. Kita tak hanya akan diuji dengan hal-hal yang sulit, tetapi juga digoda oleh banyaknya belokan yang tersamar. Apapun itu, di masa tinggi dan rendah, hanya satu yang kuminta. Kumohon… bersetialah sejak dalam hati dan pikiran.

Satu permintaan itu saja kurasa sudah cukup. Sebab jika urusan bersetia sudah selesai, tak akan ada urusan lain yang tak bisa kita hadapi bersama-sama. Termasuk jika kita bertengkar karena kebiasaan burukmu dan kebiasaan burukku, watak burukmu dan watak burukku, kekuranganmu dan kekuranganku, monster dalam dirimu dan monster dalam diriku. Selama kita masih bisa berbahagia dengan saling mensyukuri keberadaan satu sama lain, kita akan baik-baik saja.

Monster-monster kita itu, sesekali bisa kita kumpulkan di ruang keluarga, lalu kita ajak minum teh bersama sambil menonton sinetron. Ya, harus sinetron, Sayang… karena kita sama-sama tak suka nonton sinetron. Jadi dengan nonton sinetron, setidaknya kita bisa kembali menemukan satu kesepakatan di antara sekian ketidaksepakatan saat bertengkar sebelumnya. Setelah itu kita akan lupa dengan hal-hal yang membuat kita bertengkar dan (sekali lagi) bersepakat bahwa bercinta jauh lebih baik daripada nonton sinetron. Bagaimana? Aku tahu kau pasti setuju😀

Jadi, kuharap kau mengerti kenapa aku tak pernah menulis surat semacam itu untukmu sebelumnya. Aku lebih suka menulis surat tentang perjalanan yang sudah kita lalui bersama, tentang waktu-waktu singkat yang menyenangkan dan ingin kuulang, tentang pertengkaran-pertengkaran yang kita lewati, tentang penjelasan-penjelasan yang tak selesai kuucapkan sebab aku lebih lancar menulis daripada berbicara soal perasaan. Biarkan aku menulis surat-surat itu saja, bukan surat berisi konsep ideal yang kuharapkan ada pada seorang pria yang kusebut calon suami.

dariku,
calon istrimu

NB: tunggu surat-suratku selanjutnya, yang tentu saja tak lagi terbuka. Dan seperti yang sudah-sudah, aku akan memaksamu membacanya :p

3 thoughts on “(Bukan) Surat Terbuka Untuk Calon Suamiku

  1. Dari artikel hipwee itu, satu kalimat yang bikin sedikit haru cuma yang ini “Pria yang namanya tak pernah alpa kusebut di tiap sujud dan tangkupan tangan.”
    Sedang dari surat yang ini, saya suka semuanya.😀

    1. Bagian itu sweet memang, tapi justru mengundang tanya Kak Mol. Gimana bisa nyebut nama kalo ketemu sama kenalan aja belum? 😀

      btw, inti surat ini cuma di bagian ini kok >> “aku ingin menikah denganmu, bukan dengan konsep calon suami yang ada dalam kepalaku.” karena kupikir bisa jadi dia yang ada di kenyataan jauh lebih baik dari apa yang kita andai-andaikan, hehehe… anw, terima kasih sudah suka suratku Kak Mol😀

      1. Iya, aku ngeh kok maksud kak Sila yang itu. Justru karena alasan itu juga aku bilang surat ini aku suka.

        Soal artikel di Hipwee itu, ah, entahlah..hahaha, perasaan kalo yang dari bagian awal-awalnya, dia seakan sudah tau orangnya siapa (mungkin pacarnya) tapi kok ya bagian bawahnya dia jadi ga kenal lagi. Ga ngerti. Hehe..:D *duh, ga penting banget ya yang kubahas, hehe *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s