[Semacam Review] The Devil and Miss Prym

Judul buku: The Devil and Miss Prym (Iblis dan Miss Prym)
Penulis: Paul Coelho
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: keempat (April 2011)
Alih Bahasa: Rosi L. Simamora
ISBN: 978 -979 – 22 – 6834 – 8
halaman: 256 hlm; 20 cm

— THIS REVIEW DOESN’T CONTAIN MUCH SPOILER —
but still… read on your own risk :p

“Apakah sebenarnya manusia itu baik atau jahat?”

Seorang pria asing datang ke Viscos bersama iblis di sisinya. Di desa terpencil yang dipenuhi kedamaian dan kehidupan yang stagnan itu, si pria asing ingin mencari jawaban dari pertanyaan di atas. Di sana dia bertemu dengan seorang gadis bernama Chantal Prym, seorang gadis yatim piatu yang sudah tak sabar ingin keluar dari Viscos dan mengubah hidupnya. Pria itu pun menyusun rencana dan permainan untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya.

Pria itu menawarkan sebuah permainan, dan Miss Prym memegang peran penting di dalamnya. Begini kesepakatan yang diajukannya pada penduduk desa:

“Pria itu memiliki 10 batang emas yang akan diberikannya pada penduduk desa, jika penduduk desa mau melanggar satu dari Sepuluh Perintah Allah, yaitu larangan ‘Jangan Membunuh’. Jika penduduk desa membunuh satu orang saja dalam waktu tujuh hari, maka mereka akan mendapatkan 10 batang emas yang bisa dibagi rata.

Saat penduduk desa yang terlihat baik dan lembut ternyata bisa membunuh satu orang demi mendapatkan 10 batang emas, berarti jawaban dari pertanyaan pria itu adalah bahwa semua orang di dunia ini pada dasarnya jahat dan pasti akan gagal ketika ditimpa cobaan dan godaan. Namun jika penduduk desa tak membunuh siapapun dan mengabaikan 10 batang emas itu, berarti pada dasarnya semua manusia baik.”

Tugas Miss Prym adalah menjadi juru bicara si pria asing, dan sebagai imbalannya dia akan mendapatkan satu batang emas. Di sini, Miss Prym dan penduduk desa mengalami pergulatan batin. Apakah mereka akan mengorbankan satu orang demi 10 batang emas yang bisa menyelamatkan kelangsungan hidup Viscos? Atau justru mengabaikannya? Supaya gaik spoler, mending dibaca sendiri kelanjutannya. Buku ini lumayan tipis kok, jadi akan lebih menyenangkan kalau ditelusuri sendiri😀

Tentang Baik dan Jahat

The Devil and Miss Prym adalah buku ketiga trilogi And on The Seventh Day milik Paulo Coelho. Buku pertama By the River Piedra I Sat Down and Wept, saya belum baca dan belum punya. Buku keduanya adalah Veronika Decides to Die yang sudah pernah saya review sebelumnya. Saya lebih suka kisah di dalam dua buku trilogi ini dan The Alchemist dibandingkan dengan buku Coelho lain yang berisi pengalaman pribadinya seperti Aleph dan The Pilgrimage.

Jika dalam Veronika, Coelho menjabarkan apa yang terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan kematian, maka dalam buku ini Coelho membahas hal yang sebenarnya cukup sederhana, tetapi tak habis untuk direnungkan, yaitu: apakah sesungguhnya manusia itu baik atau jahat? Apakah by design, kita ini baik atau jahat. Jawaban pertanyaan yang terlihat sepele ini tentu memiliki imbas besar pada perilaku dan cara pandang seseorang.

Kalau manusia memang diciptakan jahat, maka berarti semua kejahatan yang dilakukan oleh manusia adalah hal yang wajar. Sementara jika manusia diciptakan baik, berarti sebenarnya tak ada orang jahat di dunia ini. Atau justru kita terlahir dengan dua sisi? Coelho sendiri telah memberikan jawaban menurut versinya di akhir buku ini. Nanti saya kutipkan, tapi sebelumnya saya mau bagi-bagi quotes yang saya sukai dulu di buku ini😀

“Tentang sifat manusia. Aku menemukan bahwa jika dihadapkan pada percobaan, kita selalu gagal. Jika diberikan kondisi yang tepat, setiap manusia di muka bumi ini akan bersedia melakukan kejahatan.” (hlm. 27)

“Awalnya hanya ada sekelumit ketidakadilan di dunia ini, tapi orang-orang yang hadir setelahnya menambahkan bagian masing-masing. Mereka selalu berpikir ketidakadilan yang mereka perbuat itu sangat kecil dan sepele. Tapi lihatlah bagaimana keadaannya sekarang ini.” (hlm. 69)

“Kapan pun Anda ingin mencapai sesuatu, bukalah mata Anda lebar-lebar, bukalah pikiran Anda, dan pastikan Anda tahu benar apa yang Anda inginkan. Tak seorang pun bisa membidik sasaran dengan mata terpejam.” (hlm. 72)

“Ada dua macam orang bodoh — yang tidak bertindak ketika diancam, dan yang mengira sedang bertindak karena telah melontarkan ancaman.” (hlm. 80)

Setelah membaca beberapa buku Coelho, saya menyadari bahwa penulis yang satu ini punya kecenderungan menceramahi pembacanya, hehe… buku-buku Coelho berusaha memberikan wejangan pada pembaca melalui kisah yang ada di dalamnya. Ya, Coelho memang mengajak kita berpikir ulang tentang banyak hal melalui hal yang dialami tokohnya. Tetapi dalam penjabarannya, Coelho lebih banyak bicara daripada menunjukkan.

That’s why… tak sedikit orang yang mengantuk dan bosan ketika membaca buku Coelho dan menganggap bukunya tak semenarik itu untuk menjadi karya fenomenal *ngelirik SO*. Saya sendiri sering mendapati kalimat-kalimat wejangan panjang yang sebenarnya berasal dari Coelho, namun meminjam mulut tokoh-tokohnya. However, saya sangat menikmati dongeng-dongeng yang ada dalam bukunya.

Ya, Coelho suka menyelipkan dongeng-dongeng dalam bukunya. Dalam buku ini juga terdapat beberapa dongeng menarik yang bisa dijadikan pelajaran, atau bahkan diceritakan lagi nantinya pada anak-anak kita sebagai dongeng pengantar tidur. Ini beberapa daftar dongeng yang ada dalam buku The Devil and Miss Prym.

– Dongeng tentang Leonardo da Vinci yang membuat lukisan Perjamuan Terakhir (hlm. 54 -55)

– Dongeng tentang Ahab yang menyuruh anaknya membeli garam (hlm. 68 – 69)

– Dongeng tentang tiang gantungan yang dibuat Ahab untuk menakuti para penjahat (hlm. 100 – 103)

– Dongeng tentang penunggang kuda yang mampir ke Surga dan Neraka (hlm. 128 – 130)

Dan dongeng terakhir adalah percakapan antara Ahab, penjahat paling kejam di Viscos, dan Savin, seorang yang dianggap suci oleh penduduk Viscos. Percakapan keduanya ini sekaligus akan menjawab pertanyaan tentang jahat dan baik yang sudah saya janjikan di atas tadi.

Karena sekarang saya lagi baik, I’ll rewrite the story for you… :p

Ahab langsung mengasah pisau ketika tahu Savin ingin menginap bersamanya. Ahab berencana membunuh Savin saat tertidur, namun sebelum itu mereka bercakap-cakap. Ahab menantang Savin dengan beberapa pertanyaan.

.

“Jika malam ini pelacur tercantik desa ini datang kemari, apakah kau akan sanggup memandangnya dan menganggapnya tidak cantik dan tidak menggoda?”

.

“Tidak, tapi aku akan mengendalikan diriku,” sahut Savin.

.

“Dan jika aku menawarimu setumpuk kepingan uang emas agar kau meninggalkan guamu di gunung dan bergabung dengan kami, sanggupkan kau memandang emas itu dan menganggapnya batu kerikil?”

.

“Tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku.”

.

“Dan jika kau dicari-cari oleh dua bersaudara, yang satu membencimu dan yang lain menganggapmu suci, sanggupkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya?”

.

“Itu benar-benar sulit, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan memperlakukan mereka dengan sama.”

Orang asing itu mengerti bahwa Savin dan Ahab memiliki naluri yang sama — Baik dan Jahat bertarung di hati mereka, sama seperti di dalam semua jiwa yang ada di muka bumi ini. Ketika Ahab menyadari Savin tidak berbeda dengan dirinya, dia pun menyadari dirinya tidak berbeda dengan Savin.

.

Semuanya hanya masalah pengendalian diri. Dan pilihan. Tidak kurang, tidak lebih.

Dear readers, dulu saya pun pernah bertanya-tanya kenapa manusia harus diciptakan dengan nafsu dan akal. Jika kita diciptakan untuk beribadah, lantas kenapa kita tak dibuat seperti malaikat saja yang hanya akal dan tak punya nafsu. Malaikat yang tak memiliki nafsu akan lebih mudah menuruti perintah Tuhan karena begitulah dia diciptakan. Sementara hewan, tak akan ada yang menyalahkan hewan jika hidup mereka hanya diisi makan, tidur, dan kawin, karena begitulah mereka diciptakan. Hanya nafsu tanpa akal.

Sementara kita dibekali keduanya. Akal untuk patuh dan nafsu untuk berbuat semaunya sendiri. Jika para ahli agama menganggap kedua sisi ini membuat manusia sebagai makhluk yang sempurna. Menurut saya, kedua sisi ini justru membuat manusia jadi makhluk yang complicated. Menjadi manusia adalah perjuangan untuk mengendalikan kedua sisi itu setiap waktu.

Kadang Jahat yang akan menang, kadang juga Baik. Tapi setelah membaca kisah Ahab dan Savin, setidaknya kita memahami lebih baik lagi. Bahwa sebenarnya semua manusia sama. Sama-sama berjuang mengendalikan malaikat dan iblis dalam diri mereka sendiri. Ketika melihat orang yang berbuat jahat, setidaknya sekarang kita bisa melihat lebih baik: bahwa mereka dan kita tak jauh berbeda. Ini hanya masalah pilihan dan pengendalian diri.

Dan semua orang (termasuk kita) masih bisa mengubah pilihan di sisi mana mereka berada, hingga waktu pulang tiba.

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s