Cerita (dan Kumpulan Foto) buat Para Kekasih

Camera 360

Judul: Cerita Buat Para Kekasih
Penulis: Agus Noor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Editor: Mirna Yulistiani
Foto & Layout isi: Adimodel
Desainer cover: Suprianto
ISBN: 978 – 602 – 03 – 0898 – 2

Saya ketemu buku ini di Toga Mas Yogyakarta. Cover dengan komposisi tulisan dan gambar yang tak biasa. Judulnya pun tak kalah menggoda: Cerita Buat Para Kekasih. Lalu nama penulisnya: Agus Noor. Rasanya tak salah jika saya langsung menyabet buku ini ke tas belanjaan. Setelahnya, saat ada kesempatan, saya langsung membuka buku ini dan membaca. Saya tak bisa bilang ‘puas’, tapi juga tak bisa lantas bilang ‘sangat kecewa’.

Kalau sudah banyak membaca cerpen Agus Noor (dan menyukainya), kalian akan merasa sangat akrab dengan cerpen-cerpen yang ada di dalamnya. Sebagian cerpen ini bernuansa ‘gelap’ dan surreal khas Agus Noor. Beberapa cerpen juga sepertinya sudah pernah saya baca, entah di koran, website, atau di buku kumpulan cerpen lain. Seperti Senja di Mata yang Buta, Matinya Seorang Demonstran, dan satu cerita berjudul Permainan Anak-anak.

Satu yang saya ingat adalah cerpen Requiem Kunang-Kunang. Saya sangat familiar dengan judul dan paragraf pembukanya. Cerpen ini dulu pernah dikritik oleh A.S Laksana karena keteledoran logika di dalamnya. Tapi sepertinya cerpen yang dimasukkan dalam buku ini sudah mengalami beberapa perubahan.

Dalam buku ini juga ada beberapa kalimat yang tampaknya sengaja dibuat Agus Noor mirip dengan kalimat milik penyair populer, seperti:

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan suara yang tak sempat diucapkan telepon genggam kepada kata, yang membuatnya bahagia.” (Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, hlm. 259), dan
.
“Malam Lebaran.
Telepon genggam di dalam kuburan.” (Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, hlm. 262)

Sekarang-sekarang ini, anak SMA saja pasti tahu kalimat pertama itu asalnya dari puisi Sapardi. Sementara yang kedua adalah puisi yang mirip dengan milik Sitor Situmorang. Entahlah, apa maksudnya Agus Noor memasukkan kalimat yang sudah diubah itu ke dalam cerpennya.

Yang tak biasa dalam kumcer ini adalah cara pengemasan dan panjang-pendek setiap cerita. Buku ini dibuatseolah seorang pria tengah menceritakan banyak cerita untuk kekasihnya. Sehingga sebelum menceritakan sebuah kisah, selalu ada pengantar di dalamnya. Jadi semacam cerita dalam cerita lah.

Sementara cerita-cerita di dalamnya tak mengikuti pakem ‘berapa kata sebuah tulisan bisa disebut cerpen’. Karena ada cerpen yang panjangnya berhalaman-halaman, ada yang hanya dua halaman, dua paragraf, dan yang paling pendek hanya satu paragraf!

Yeah… tak percaya? Cerita itu berjudul “Penjaga Kamar Mayat”. Begini bunyi satu paragraf itu:

“KEMARIN ia dipecat, karena kepergok tengah mencabuli mayat. Tadi pagi mati bunuh diri. Malam ini kulihat dia kembali masuk kerja. Duduk pucat terkantuk-kantuk di dekat pintu kamar mayat.”
TAMAT

Anyway… entah kenapa, jika dibaca berlama-lama saya bosan dengan cerpen-cerpen di dalamnya. Sepertinya semua cerita Agus Noor dalam buku ini memiliki nuansa yang sama, pola dan ‘rasa’ yang mirip-mirip. Cinta, pahit, getir, wanita, pembunuhan, mayat, kunang-kunang, hantu, kunang-kunang lagi…

Jadinya setelah nyampe di pertengahan saya mulai mengikutinya dengan ogah-ogahan, karena cerita-ceritanya mulai mirip. Kecuali Matinya Seorang Demonstran yang punya nuansa berbeda karena tak surreal dan tak ‘gelap’ dan ‘murung’. Tapi cerita yang itu pun sudah pernah saya baca. Dan saya pikir lagi, barangkali ceritanya tak akan jadi ‘sangat menarik’ kalau nama tokohnya bukan Eka Kurniawan dan Ratih Kumala.

I really try my best to enjoy this book. I really do. But even as much as I try to like the stories in it, saya masih terganggu dengan foto-foto di dalamnya. Berkali-kali saya berpikir, kenapa harus ada foto-foto ini di sini? No offense. Bukan berarti saya nggak suka lihat wajahnya Agus Noor atau melihatnya melakukan berbagai pose di dalam bukunya sendiri. Lagipula, mengutip lagu barunya Cita Citata: “Aku mah apa atuh?” Hanya satu pembaca di tengah jutaan pembaca setianya Agus Noor. Hehe… :p

Dan kalian bisa bilang: “Halaaah Sil, foto-foto aja lho… gak ngaruh ke kualitas cerpennya.”

Hello… ini tentang pengemasan dan penyajian produk. If it’s really doesn’t matter, kenapa di dunia ini harus ada profesi layouter dan setter. Seperti halnya ada alasan mengapa tak semua buku menaruh foto di dalamnya, tentu harus ada alasan kenapa ada seabrek foto di buku ini. Dan apapun alasannya, for me… I just don’t think it’s necessary. Saya tipe pembaca yang bisa menikmati cerpen tanpa harus melihat atau mengagumi wajah penulisnya beberapa halaman sekali. Dan lagi, foto-foto itu mengganggu imajinasi saya ketika membaca cerpen Agus Noor yang surreal dan misterius.

But however, kumpulan foto ini bisa menjadi bonus kalau kamu penggemar berat Agus Noor dan suka mengoleksi fotonya. You shouldn’t only enjoy the stories, tapi juga kumpulan foto di dalamnya. As for me… I’d have more fun if they just leave me alone with my own imagination for all the stories in this book :p

– S –

2 thoughts on “Cerita (dan Kumpulan Foto) buat Para Kekasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s