Tentang Sepasang Mata

Kapan pertama kali kau sadar bahwa matanya begitu cantik?

Barangkali sejak awal, ketika sepasang mata itu menemukanmu pertama kali di tengah lalu lalang manusia pada sebuah tempat persinggahan yang ramai. Ketika dia bilang matanya sudah bisa mengenalimu dari jauh.

Itu adalah malam bulan Juni yang sedikit lembap. Udara hangat, tapi hujan turun rintik-rintik. Kau ingat dengan jelas hingga ke hari dan tanggalnya, sebab setelahnya Juni menjadi bulan favoritmu yang ketiga. Waktu itu, kau melihat sepasang mata sendu yang tersenyum malu-malu. Kau juga langsung tersenyum lebar ketika melihatnya.

“Halo sepasang mata sendu, apa kabar? Tak usah malu… kau terlihat tampan,” barangkali itu yang diucapkan matamu pada matanya.

Kau tahu matamu yang setengah menonjol itu memang sedikit blak-blakan. Dan barangkali tatapanmu itu juga yang membuat sepasang mata itu spontan menunduk, lebih malu daripada sebelumnya. Kau putuskan segera bahwa mata itu semakin terlihat menarik saat terlihat gugup.

Sementara padamu, kegugupan datang terlambat. Baru muncul ketika sepasang mata itu ganti melihatmu dan mengajak bicara. Waktu itu kau belum tahu apa yang bisa dilakukan sepasang mata yang awalnya terlihat salah tingkah itu padamu.

Kau baru tahu ketika kalian sedang makan bersama dan saling bercanda. Melihat mata itu terlalu lama ternyata bisa mengikis isi otakmu perlahan. Saat tertawa, kau lihat kerutan-kerutan tipis muncul pada pinggir matanya. Nantinya, setelah membaca ulang novel Arundhati Roy yang kesekian kalinya, kau akan menyebut kerutan itu sebagai ‘twinkle’. Kerutan yang menandakan perasaan bahagia. Kerutan yang seringkali kau nikmati diam-diam ketika melihatnya tersenyum.

Ketika dia terus memaksamu makan dan melihatmu dengan matanya yang terus tersenyum itu kau belum sadar apa yang terjadi pada otakmu. Ada tumpukan cerita yang kau simpan dan siap kau muntahkan ketika bertemu dengannya. Dan saat dia bertanya: “Kau mau cerita apa?”

BAM! Kepalamu kosong. Cerita-cerita yang sudah kau susun itu entah ada di mana. Dan mata itu penyebabnya.

Kapan pertama kali kau sadar bahwa matanya terlalu cantik untuk ukuran seorang lelaki?

Barangkali sejak kau harus memandangi fotonya berlama-lama sambil membuat sketsa lukisannya. Untuk yang satu ini, sebenarnya dia sudah mengingatkanmu. “Jangan terlalu serius melihati fotoku saat akan menggambar, nanti kau jatuh cinta.” Sekarang kau sering tersenyum saat mengingatnya. Pria itu tak tahu bahwa itu sudah terjadi lama sebelum kau mengagumi matanya :-p

Dalam beberapa waktu, kau menyadari bahwa mata yang dalam dengan bulu mata lentik itu tak hanya cantik, tapi juga berpotensi mengkhianati pemiliknya. Saat melihat pria itu berbicara atau berdebat, belum lagi ketika kesal dan marah, kau akan melihat orang yang keras kepala. Tapi saat kau melihat matanya, kau akan tahu bahwa di balik cangkang yang keras itu tersembunyi perasaan yang lebih halus dari beludru.

Seiring waktu berjalan, kau juga mulai menemukan bahwa matanya adalah banyak hal

Dia bisa menjadi kumpulan kode yang meminta segera kau pecahkan. Sebuah labirin penuh rahasia dan petualangan. Pada satu waktu, mata itu akan bercerita panjang lebar tentang perasaan yang tengah berusaha disembunyikan oleh pemiliknya.

Di waktu-waktu tertentu, mata itu menjelma jadi sekumpulan sunyi yang tak bisa kau mengerti. Lalu di waktu-waktu lainnya, sepasang matanya adalah permukaan danau yang teduh. Yang membuatmu tak ingin melakukan apa-apa lagi kecuali untuk melihatinya saja berlama-lama🙂

Sepasang mata itu adalah penanda yang selalu kau cari di akhir perjalanan ‘pulang’. Dan twinkle yang muncul setelahnya adalah sebuah pelukan selamat datang yang hangat. Kau sudah sampai di rumah.

Mata itu juga seringkali mengecohmu. Seperti ketika dia berusaha menyembunyikan segumpal resah dalam twinkle-twinkle dan lekukan senyum yang manis. Kau sering merasa tak adil, sebab matamu sama sekali bukan tipe pengecoh. Sebenarnya ada yang lebih tak adil lagi, yaitu fakta bahwa matamu juga bukan tipe mata perayu seperti matanya.

Oh ya, meski mungkin tak dimaksudkan, tapi sepasang mata itu sungguh perayu yang ulung. Itulah kenapa, nanti setelah kau menyadarinya, kau akan selalu menghindari matanya setiap kali marah. Bukan karena kau tak sudi melihatnya, tapi karena hanya dengan melihat matanya saja kemarahanmu akan melumer sedikit demi sedikit, dan kau jadi tak bisa merasa kesal berlama-lama padanya.

Masih ada banyak hal yang tak kau tahu tentangnya. Tapi kau sudah tahu satu hal yang pasti. Menurutmu, tentu akan sangat menyenangkan bisa menemukan sepasang mata itu saat kau membuka mata, setiap pagi, sepanjang sisa hidupmu🙂

– S –
selamat ulang tahun
pemilik twinkle termanis sedunia🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s