Apa kabar, Mbak? Saya kangen…

Baru-baru ini, ada satu video kampanye yang sedang heboh di FB. Judulnya “Mums and Maids #igivedayoff”. Dari judulnya sudah kelihatan, video ini membandingkan pengetahuan seorang ibu dengan pembantu rumah tangga (PRT) mengenai anak-anak yang mereka asuh. Video dan artikel selengkapnya lihat di sini.

Dalam video ini, diungkap hasil survei bahwa 74 persen PRT lebih mengenal anak-anak yang mereka asuh, ketimbang ibunya sendiri. Kesimpulan cepatnya adalah bahwa PRT lebih perhatian pada anak-anak tersebut dibanding ibu mereka. Mencengangkan? Saya pikir tidak. Setidaknya buat saya, ini bukan hal yang baru.

Anyway, yang membuat video ini menjadi viral dan kontroversial adalah banyaknya orang yang menganggap video ini mempermalukan ibu dan merendahkan peran mereka bagi anak. FYI, video ini dibuat sebagai bentuk kampanye bagi para buruh migran di hari buruh 1 Mei nanti, agar mereka diberikan satu hari libur sesuai dengan hak kerja mereka. Dibuat sedemikian rupa agar para orang tua melihat keputusan memberi hari libur untuk PRT mereka sebagai kesempatan untuk menjadi lebih dekat pada anak-anak.

Oke… saya tak ingin berpanjang lebar tentang videonya dalam post kali ini. Hanya saja, video ini tiba-tiba membuat saya kangen pada mbak-mbak yang dulu ikut mengasuh saya (bergantian) di rumah. Nama mereka Mbak Ut dan Mbak Sal. Ah iya, saya adalah anak yang juga tumbuh besar dengan dampingan para mbak yang membantu pekerjaan rumah. Tugas mereka bukan buat ngasuh saya, tapi untuk membantu pekerjaan di rumah karena kedua orang tua saya bekerja.

Apa saya adalah salah satu anak dalam video itu? Yang jadi lebih dekat dengan PRT daripada dengan ibu saya sendiri? Mmmm… dengan PD saya katakan: I’m not. Saya sangat dekat dengan Mbak Ut dan Mbak Sal dengan cara yang berbeda dengan kedekatan saya dengan ibu saya. Sebenarnya ada tiga pengasuh dalam rentang hidup saya sejauh ini, tapi yang satunya mengasuh saya sejak sangat kecil dan berhenti sebelum saya SD, jadi saya tak begitu mengingatnya.

Mbak Ut mengasuh saya sejak SD. Saya tidur satu kamar dengannya, pakai dipan susun. Sementara Mbak Sal mengasuh saya ketika saya mulai beranjak remaja. Keduanya mengajarkan banyak hal pada saya. Ada beberapa hal yang akan selalu saya ingat dari masing-masing mereka. Ini contoh kecilnya…

Mbak Ut mengajari saya menata tempat tidur saya sendiri. Melipat selimut, merapikan seprei, membersihkannya dengan tebak, membereskan barang-barang yang tergeletak di atasnya. Suatu ketika, Mbak Ut harus pulang lama karena alasan yang saya tidak ingat, kemungkinan pas Hari Raya Idul Fitri. Lalu, ketika dia kembali ke rumah, saat dia berjalan di gang, saya berlari ke arahnya dengan wajah gembira, sambil berteriak.

“Mbak Ut! Aku sudah bisa membersihkan kamarku sendiri! Aku melipat selimut dan merapikan sepreiku sendiri sekarang!”

Saya sungguh bangga dan ingin dia tahu hal itu. Bahwa apa yang diajarkannya pada saya sudah berhasil dilakukan. Konyol sekali ya?😀 Tapi itu yang membuat saya tak bisa lupa. Dialah orang yang mengajari saya membereskan kamar saya sendiri.

Mbak Sal? Beda lagi ceritanya. Waktu itu saya lagi rebel-rebelnya jadi remaja. Saya nakal sekali pas kelas 2 SMP, dan hubungan saya dengan ibu sempat jauh. Mbak Sal yang penyabar jadi semacam partner in crime. Soalnya dia sama sekali tak pernah memarahi saya, walaupun saya memang sering bikin salah dan kena omel ibu, hehe.

Dia yang mengajarkan saya membaca surat Yasin sampai lancar, membantu saya menghapalnya. Dia mengajar saya bahasa Madura yang sepotong-sepotong. Karena dulunya dia pernah bekerja di pabrik roti yang karyawannya kebanyakan orang Madura, hehe… eh, pelajaran itu menempel lho di kepala saya, walaupun cuma sedikit, dan walaupun terbukti gak berguna juga kalo dipake ngomong sama orang Madura *ngelirik SO* wkwkwkwk :p

Yang paling tak bisa saya lupa dari Mbak Sal adalah kejadian pada suatu hari, kemungkinan pas saya SMA, ketika saya pulang sekolah dan akan menyeberang jalan di depan gang rumah saya. Karena teledor, saya gak noleh kanan-kiri sampe akhirnya hampir ketabrak motor. Saya jatuh, tapi gak kenapa-kenapa sih. Semua tetangga yang melihat heboh dan mendatangi saya.

Mereka tanya, “kamu gapapa?” bertubi-tubi, sementara saya masih shock dan gak bisa bilang apa-apa. Ada nenek saya yang menanyai apa saya baik-baik saja. Badan saya gemetar. Saya ingin menangis, tapi tak bisa. Ibu saya belum pulang kerja. Lalu ketika masuk rumah dan melihat Mbak Sal tangis saya langsung pecah. Saya langsung menghambur ke arahnya, merangkulnya, sambil menangis. Yang saya ingat, pelukannya nyaman dan membuat saya merasa aman.

Saya menyayangi mereka. Kalau dikaitkan dengan video di atas, apa itu berarti saya tidak sayang ibu saya? Tentu tidak. Sejak dulu, setiap kali demam dan tidak masuk sekolah atau kerja, saya selalu mencari ibu. Setiap kali ada hal yang mengganjal atau ada masalah, saya selalu mencari pelukan ibu. Setelah dipeluk ibu, saya merasa masalah saya lebih enteng, saya pasti bisa mengatasinya. Waktu ibu naik haji, saya tidur di kamarnya… berharap menemukan sisa-sisa aroma ibu, sebab saya tak bisa tidur selama berhari-hari, merindukannya.

Video di atas tak bisa digeneralisir. Saya bayangkan, ibu saya pasti sedih kalau menontonnya. Untuk ibu yang sudah mati-matian bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya, tak punya waktu dengan anak adalah hal yang menyakitkan bagi mereka. Video di atas bisa jadi justru membuat mereka sakit hati.

Lagipula, dekat dengan mbak-mbak yang mengasuh saya bukan berarti saya tidak dekat dengan ibu saya. Saya menyayangi ketiga perempuan itu dalam konteks berbeda. Contohnya, ketika mendapat mens pertama yang saya cari adalah ibu. Saya menghubungi ibu di kantor, meski di rumah ada mbak Sal. Tapi ketika mendapat surat cinta pertama, saya menggosipkannya dengan mbak Sal dan sama sekali tak cerita pada ibu, sampai bertahun-tahun setelahnya, hehe. Mbak-mbak itu adalah teman, sahabat saya. Dan selamanya, ibu saya hanya satu orang, ya ibu saya yang itu.

Saya sayang mbak-mbak pengasuh saya, bahkan sampai sekarang. Kadang mereka masih sering berkunjung saat Lebaran, dan gantian saya yang mengasuh anak mereka, walaupun sebentar saja. Tapi ibu, tentu punya tempat berbeda. Dia menempati sebagian besar hati saya🙂

Ah… jadi pingin jalan-jalan ke Turen, mengunjungi Mbak Ut dan Mbak Sal. Saya rindu tidur satu kamar lagi, tertawa cekikikan bersama sambil mendengar cerita-cerita mereka tentang pria yang mereka cintai. Dicubit waktu saya jail, atau didiamkan ketika nakal saya sudah keterlaluan, hehe.

Mbak-mbak, apa kabar sekarang? Saya kangen… ajari saya lebih banyak bahasa Madura dong! Hahaha…😀

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s