Untukmu yang Pernah Terluka, Yuk #BeraniLebih Terbuka

Lomba Blog #BeraniLebih

Awalnya saya berpikir tulisan ini akan membahas tentang pengalaman personal saya dan upaya saya untuk #BeraniLebih. Tetapi ketika bicara tentang terluka, rasanya bukan saya saja yang pernah mengalaminya. Saya yakin hampir semua orang di dunia ini pernah terluka. Jadi, kenapa saya tidak bicara tentang kita saja, kita semua yang pernah terluka. Tentu, luka kita berbeda-beda, tapi bukankah tak perlu mengalami hal yang sama untuk tahu rasanya sakit dan terluka?

Konon, luka yang paling sakit datang dari orang yang paling dekat. Orang yang kita percaya, dan seringkali justru orang yang paling mengenal kita. Karena itu, kebanyakan orang akan menutup diri setelah terluka. Membangun pagar yang sangat tinggi, kokoh, berduri, untuk memastikan tak akan ada lagi yang bisa menyakiti mereka. Pagar itu tak akan pernah dibuka, meski sudah banyak yang datang mengetuk. Sebab di dalamnya kita merasa aman. Sebab dengan tidak membuka pagar, tak akan ada lagi yang bisa membuat kita terluka. Bukankah begitu?

Saya begitu. Dan yang saya sadari, berlindung di balik benteng kokoh itu tak membuat segalanya lebih baik. Kau akan tetap dilingkupi rasa takut dan juga kesendirian. Sampai kemudian seseorang datang mengetuk pintu, membawa sebongkah harapan. Kau ingin mempercayainya tapi juga takut kembali terluka. Harapan menjadi sesuatu yang berbahaya dan tak ingin kau percaya. Di sini, saya akan bilang: Cobalah untuk #BeraniLebih terbuka.

Saya tahu, membuka diri sama dengan menunjukkan sisi lemah kita dan memberi mereka kesempatan untuk membuat luka baru. Terbuka akan membuat mereka melihat sisi diri kita yang paling rapuh. Melihat bekas luka yang sama sekali tak cantik, atau barangkali juga masih bernanah. Kita takut kecewa setelah memutuskan untuk terbuka.

Membuka diri memang bukan hal mudah, dan bagi beberapa dari kita bisa jadi sangat menakutkan. Tapi cobalah untuk lebih berani membuka diri. Beranilah, meski risikonya adalah dilukai sekali lagi.

Saya sendiri sedang berusaha untuk #BeraniLebih terbuka. Ketakutan itu masih kerap datang, bersama cemas, kadang dengan rasa insecure yang berlebihan. Saya juga sedang berusaha #BeraniLebih terbuka untuk menerima luka.

Seseorang yang istimewa, yang juga sedang berusaha terbuka seperti saya, pernah mengatakan bahwa luka dan suka sejatinya tak jauh berbeda. Jangan takut pada luka, meski rasanya sangat sakit dan bahkan bisa membuatmu trauma. Anggap saja luka adalah seorang guru yang kejam. Yang suka marah, membentak, atau menghukum dengan galak, tapi juga membuat kita pintar. Yang kita benci, tapi terkadang juga patut kita syukuri.

Lebih beranilah untuk terbuka dan terluka. Jangan biarkan ketakutan pada luka menghalangimu mendapatkan kebahagiaan yang sepantasnya, dengan orang yang seharusnya. Memang tak mudah. Karena itu pelan-pelan saja, tak apa. Sampai sekarang pun saya masih berusaha untuk #BeraniLebih terbuka. Kamu, bagaimana?

***

Tulisan 431 kata ini diikutsertakan dalam Lomba Tulisan Pendek #BeraniLebih oleh Light of Women.

Facebook: Kun Sila Ananda
Twitter: @ksilananda

5 thoughts on “Untukmu yang Pernah Terluka, Yuk #BeraniLebih Terbuka

      1. Nah, makanya itu…
        Serem kan, klu harus ngulitin muka sendiri…
        (Topengnya bukan cuma menyatu, tapi benar² jadi kulit!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s