Peluru, kisah perempuan dalam balutan isu sosial

10660360_10203175244136684_3905179281259689089_n©ksilananda

Judul Buku: Peluru (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Johar Dwiaji Putra
Penerbit: Ellunar Publisher
Penyunting: Tim Ellunar Publisher
Penata Letak dan Perancang Sampul: Hanung Norenza Putra
ISBN: 978-602-0805-04-7
Cetakan Pertama, April 2015

— SPOILER ALERT, EVERYONE, BUT NOT MUCH —

Peluru adalah sebuah Kumpulan Cerpen berisi 11 cerpen bertema perempuan. Setidaknya, itu yang saya baca dalam Sekapur Sirih dari penulis, Johar Dwiaji Putra. Ya, dalam buku solo perdananya ini Johar (atau biar akrab, mari kita sebut dia Jojo😀 ) memang memberikan 11 kisah dengan tokoh perempuan sebagai pusat gravitasi ceritanya meski pada beberapa cerpen tokoh utama dalah laki-laki.

Pertama kali, saya tertarik dengan sampul buku ini. Dengan judul ‘Peluru’ dan gambar sebuah peluru yang berdarah, saya sama sekali tak menyangka bahwa isinya tidak didominasi oleh kekerasan, ketegangan, dan aksi tembak-tembakan brutal sambil kejar-kejaran mobil ala mafia. Isinya, justru adalah cerita sehari-hari yang beberapa dibalut oleh percintaan dan justru bisa membuat pembacanya jadi merasa melankolis.

Harus diakui, Jojo (yang seorang pria) bisa cukup mulus dalam menulis menggunakan sudut pandang wanita dalam setiap ceritanya. Sayangnya, saya merasa tema perempuan yang luas kurang tergali sehingga tak muncul variasi cerita perempuan yang lebih kaya di dalamnya. Meski begitu, sementara tema perempuan sendiri kurang tergali, di sisi lain penulis juga menyuguhkan tema yang tak kalah menarik yaitu tentang isu sosial.

Beberapa cerpen di dalam Kumcer Peluru ini mampu menangkap masalah sosial dengan baik, seperti cerpen Secangkir Teh dan Amplop yang Menyertainya, Sang Bupati, Lamborghini, Selepas dari Braga Siang Itu, dan Peluru. Saya rasa cerpen-cerpen tersebut berangkat dari keresahan penulis sendiri dalam menangkap berita-berita terkait isu sosial di sekitarnya.

Cerpen yang saya sukai di antara cerpen yang lain adalah Secangkir Teh dan Amplop yang Menyertainya. Cerpen ini cukup efektif, tak bertele-tele, serta lugas dalam menampilkan masalah sosial pada pembaca. Secangkir Teh dan Amplop yang Menyertainya menceritakan tentang Rahma, seorang penjahit, yang nuraninya terusik ketika banyak caleg yang melakukan ‘serangan fajar’ ke rumahnya. Bagaimana Rahma menanggapinya? Cari tahu sendiri dengan membaca kumcer ini, hehe…😛

Anyway, kumcer Peluru ini dijual secara indie, jadi kemungkinan belum akan tersebar di toko-toko buku. Kalau kamu penasaran dan ingin beli, bisa langsung cekidot di sini😀

– S –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s