Kenapa harus #LoveWin dan #StraightPride?

Sekitar akhir bulan Juni lalu warna pelangi bertebaran di media sosial. Bahkan wordpress mengganti headernya yang biasanya cuma biru polos menjadi berpelangi. Ada apa ini? Saya pikir dunia maya sedang dijajah Nyan Cat. Tapi ternyata enggak. Biang keladinya ternyata adalah Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di seluruh negara bagiannya.

Bersamaan dengan pelangi yang mencolok mata, perayaan keputusan Obama itu juga dibarengi dengan populernya hashtag #LoveWin yang artinya ‘cinta menang’.

credit: kodiakpaws.deviantart
Nyan Cat tidak bersalah… (pict credit: kodiakpaws.deviantart)

Dan sudah pasti, keputusan ini mengundang kontroversi, gak cuma dari warga Amerika tapi juga dunia. Masyarakat di jagad maya Indonesia, seperti biasa, jelas gak mau ketinggalan berkomentar dan menaggapi ini. Termasuk hashtag #LoveWin yang kemudian mendapatkan tanggapan berupa hashtag tandingan yaitu #StraightPride yang tak kalah populer di kalangan anti-gay dan masyarakat yang menolak dilegalkannya pernikahan sesama jenis. Dua hashtag itu sebenarnya membuat dahi saya mengernyit.

Iya, saya mau bahas hashtag-nya aja. Kalo soal kontroversinya udah banyak yang bahas. Mainstream :p

Monopoli cinta dalam #LoveWin

Saya rasa hashtag #LoveWin terlalu berlebihan untuk digunakan dalam perayaan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat. Dengan menggunakan kata ‘love’ dalam perayaan ini, entah kenapa saya merasa kata ‘cinta’ sedang dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Bukannya cinta itu bersifat universal dan bisa menjadi milik siapa saja? Sejak kapan pelegalan pernikahan sesama jenis sama artinya dengan kemenangan cinta. Cintanya siapa? Cinta yang mana? Yang ditinggal 12 tahun sama Rangga?

Meski kata ‘love’ sendiri barangkali digunakan agar perayaan legalitas pernikahan sesama jenis jadi terlihat lebih ‘indah’, tetapi di sisi lain kata ‘love’ jadi punya konotasi negatif bagi orang yang menolak pernikahan sesama jenis. Hingga ada juga anti-LGBT yang ingin mengutak-atik kata ‘love’ agar bisa bermakna negatif dan menurutnya sesuai bagi para LGBT dan hashtag mereka. Ada.

love
l?v/
noun
noun: love; plural noun: loves
1. an intense feeling of deep affection. “babies fill parents with intense feelings of love”
2. a person or thing that one loves. “she was the love of his life”
verb
verb: love; 3rd person present: loves; past tense: loved; past participle: loved; gerund or present participle: loving
1. feel a deep romantic or sexual attachment to (someone).

Love is not win yet. Jika cinta benar-benar sudah menang, seharusnya tidak ada lagi yang namanya kebencian. Tapi nyatanya hashtag #LoveWin justru memicu kontroversi, hujatan, saling cemooh, dan argumen panas di sana-sini. Jadi sebenarnya, ini kemenangan cinta yang mana?

Yang jelas, ini adalah kemenangan para LGBT yang (katanya) telah lama memperjuangkan hak asasi mereka untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat beserta segala hak pasangan menikah yang sebelumnya gak mereka miliki. Ini kemenangan kelompok. Hanya saja, nama cinta ikut tercatut dengan sengaja.

Selain itu, kata ‘win’ di dalamnya juga membuat hashtag #LoveWin menjadi provokatif. Karena kata ‘win’ yang berarti ‘menang’ sangat berhubungan erat dengan kata ‘lose’ yang artinya kalah. Jika dikatakan ada yang menang, otomatis ada pihak yang kalah. Ini menjadi semacam pertandingan atau bahkan perang. Ketika pelegalan pernikahan gay dianggap sebagai sebuah kemenangan, otomatis lawannya, yaitu para anti-gay dan masyarakat yang menolak legalitas pernikahan sesama jenis mengalami kekalahan.

Jadinya hashtag #LoveWin bukan hanya terlihat sebagai bentuk perayaan atas pernikahan sesama jenis yang akhirnya diakui secara hukum, tetapi juga sebuah olok-olok pada pihak lawan yang selama ini berusaha mencegah terjadinya pelegalan pernikahan sesama jenis. Dan barangkali ini juga yang akhirnya memicu hashtag tandingan #StraightPride yang tak kalah janggal dengan #LoveWin.

Tak ada kebanggaan pada #Straightpride

Saat pertama kali membacanya, kata ‘pride’ dalam hashtag ini langsung memancing kerutan di kening saya. Straight Pride, kebanggaan menjadi seorang ‘straight’ atau heteroseksual. Saya langsung mempertanyakan, apakah menjadi heteroseksual adalah hal yang pernah saya banggakan? Ini sama anehnya dengan ‘Ginger Pride’ yang ada di luar negeri itu. Di mana orang-orang mengaku merasa bangga karena memiliki rambut berwarna ginger atau warna jahe kayak Garfield Pangeran Harry sejak lahir.

Oke, mari tengok arti harfiah pride sejenak saja.

pride
prid/
noun noun: pride; plural noun: prides
1. a feeling or deep pleasure or satisfaction derived from one’s own achievements, the achievements of those with whom one is closely associated, or from qualities or possessions that are widely admired.
verb
verb: pride; 3rd person present: prides; past tense: prided; past participle: prided; gerund or present participle: priding
1. be especially proud of a particular quality or skill.

A satisfaction from one’s own achievements, from qualities or possessions that are widely admired. Be espescially proud or particular quality or skill.

Apakah menjadi heteroseksual adalah achievement, quality, atau skill yang membuatnya layak dibanggakan? Well, guess what? It’s not. Straight Pride sebenarnya adalah istilah yang digunakan pada akhir 1980-an dan awal 1990-an sebagai strategi politik. Straight Pride memang bukan tentang kebanggaan, karena istilah ini digunakan untuk balik mengolok-olok istilah Gay Pride yang diusung oleh aktivis LGBT pada tahun 1970-an.

Saya gak ikutan pasang hashtag #StraightPride, karena bagi saya menjadi straight bukanlah sesuatu untuk dibanggakan dengan maksud mengintimidasi dan menyerang para gay. Terutama kalau alasan ‘pride’-nya hanya karena kita bisa ‘membuat anak’ sementara para gay tidak bisa. Seperti penekanan salah satu gambar #Straightpride yang berbunyi “Remember, you exist because your parents were straight.”

Itu adalah alasan yang terlalu dangkal dan konyol untuk berbangga diri. Bagaimana dengan orang straight yang mandul dan gak bisa punya anak? Apa #Straightpride jadi gak berlaku untuk mereka? Please… bedakan antara pride dengan kemampuan biologis.

Lagipula, untuk apa memasang #Straightpride demi sekedar merendahkan dan menghina para LGBT? Setelah kalian sukses membuat mereka terhina, lalu apa? Apa karena merasa terhina kemudian mereka bertobat? Seringnya tidak. Serangan semacam ini hanya akan menumbuhkan sikap defensif, kebencian, sekaligus menjadi alasan penggunaan HAM sebagai alat perlindungan diri.

Think again. Jika kalian seorang heteroseksual yang cuma bisa menyerang dan menghujat para LGBT, don’t be too proud on being straight. Kalau kalian punya teman yang LGBT, kalian akan mengerti bahwa daripada membuat mereka terhina dengan menghujat atau menyerang mereka habis-habisan, kalian akan lebih memilih untuk mengajak mereka berdiskusi dan membuat mereka menelaah kembali orientasi seksual mereka berdasarkan dengan hukum agama yang mereka anut.

Well, I hope you got the point. It’s just my two cents, tapi semoga lain kali gak ada lagi hashtag lebay macam #LoveWin dan #Straightpride ini. Dan tolong jangan bawa-bawa HAM dalam perkara LGBT. Karena konsep HAM, seperti hashtag-hashtag tadi, seringkali juga overrated.

– S –

7 thoughts on “Kenapa harus #LoveWin dan #StraightPride?

  1. Wawawa ini tulisan yang bernas banget! Keren keren keren! Akhirnya di tulisan ini saya menemukan pemecahan, “mengajak mereka berdiskusi dan menelaah kembali orientasi seksual mereka berdasarkan hukum agama yang mereka anut”. Ya, memang begitulah yang mesti kita lakukan, tidak mendukung atau menghujat, hanya mengajak semua pihak untuk berpikir kembali dan saling mendengarkan, bahasa kerennya “audi et alteram partem” #bleh.

    Tanpa sebab yang jelas saya suka banget dengan tulisan ini. Lugas dan bernas :)). Btw, salam kenal!

    1. waaa.. bernas di bagian mananya? ini sekedar opini aja kok, hehe.. ya soalnya jengah aja lihat interaksi di sosmed yang saling serang tanpa ending yang solutif🙂

      salam kenal juga Gara, terima kasih sudah mampir😀

      1. Habisnya penyampaiannya bagus banget kalau menurut saya, langsung ke sasaran gitu :hehe.
        Yep, sama-sama :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s