Maryam: Sebuah Gugatan yang Mengambang

Novel ini bercerita tentang orang-orang Ahmadiyah melalui mata Maryam, wanita yang terlahir dan dibesarkan sebagai seorang Ahmadi, tapi kemudian menjadi non-Ahmadi dan lalu memutuskan kembali jadi bagian dari kelompok Ahmadi dengan iman yang masih dipertanyakan. Pertanyaan saya untuk novel ini hanya satu: Kenapa harus Maryam?

Cover Novel Maryam karya Okky Madasari (pict cerdit: @ksilananda)
Cover Novel Maryam karya Okky Madasari
(pict credit: @ksilananda)

Judul buku: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kedua, Februari 2013
Tebal: 280 halaman, 20 cm
ISBN: 978-979-22-8009-8
Ilustrasi sampul: Restu Ratnaningtyas
Desain sampul: Marcel A.W

— WARNING —
THIS REVIEW CONTAIN LOTS OF SPOILER

Maryam adalah novel kedua milik Okky Madasari yang saya baca. Harusnya saya menulis review Entrok dulu, tapi catatan untuk Entrok masih harus dirapikan dan saya masih malas :p Lagipula dengan statusnya sebagai Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012 dan isu yang diangkat di dalamnya, Maryam terlihat lebih menarik untuk dibahas duluan.

“Novel rasa feature.”

Itu yang pertama kali ada dalam benak saya ketika membaca bab-bab awal Maryam. Di tiga bab awal novel ini, saya dibawa berlari menyusuri kenangan Maryam, kenangan tentang orang tuanya, tentang kehidupannya di Surabaya dan Jakarta, patah hatinya pada Gamal, pernikahannya yang kandas dengan Alam, tentang pengusiran keluarganya, dan lainnya. Maryam seperti seorang wartawan yang sedang mengumpulkan penggalan-penggalan kisah di lapangan untuk kemudian disajikan pada pembaca dengan bahasa yang lebih personal. Mirip feature bersambung tentang pengungsi Rohingya di Aceh yang saya baca di Jawa Pos. Bedanya feature itu fakta, sementara Maryam adalah fiksi — yang walaupun bisa jadi berangkat dari fakta, tetap saja fiksi –.

Kisah hidup Maryam yang panjang diceritakan sekelebat-kelebat, secara maraton, minim penghayatan. Alhasil, saya membacanya dengan datar saja, seperti membaca sebuah laporan yang didramatisir. Baru di bab 4, setelah alur berubah maju, ritme cerita mulai melambat. Di sini saya baru bisa menikmati perjalanan kisah Maryam, keluarganya, dan orang-orang Ahmadi yang terusir dari kampung halamannya.

Meski tetap saja, Maryam gagal membuat saya terharu dan bersimpati lebih dalam pada orang-orang Ahmadi yang tertindas dalam buku ini. Awalnya saya curiga, kegagalan itu tak disebabkan oleh cara penulisan Okky, melainkan karena kondisi saya sendiri yang sedang pening akibat cikungunya ketika membacanya. Bisa jadi otak dan saraf simpatik saya sedang tak bekerja dengan prima. Mungkin saja. Tapi selain itu, ada dua penjelasan mengapa Maryam tak bisa menggerakkan saya untuk berempati lebih pada isu yang diangkatnya:

#1 Jarak yang diatur oleh Okky Madasari

Seorang penulis berhak meletakkan sebuah kisah dalam bingkai yang dipilihnya. Dan Okky sangat berhati-hati mementukan jarak saat menulis tentang Ahmadiyah. Ini terlihat dari sudut pandang yang dipilihnya: Sudut pandang orang ketiga serba tahu dan Maryam sebagai tokoh utamanya.

Secara keseluruhan, penulis bercerita tentang mereka yang terusir dari rumah dan kampung halaman mereka sendiri. Mereka, bukan aku atau kita. Mereka: Maryam, keluarganya, dan orang-orang Ahmadiyah. Kisah mereka pun dikisahkan dalam berbagai batasan.

Penulis ingin menunjukkan ketidakadilan dan penindasan yang dialami oleh orang-orang Ahmadiyah, tetapi tak mengijinkan pembaca mengintip lebih jauh. Penulis ingin membahas perjalanan hidup orang Ahmadi, tapi tak ingin membahas keyakinannya. Penulis ingin pembaca bersimpati dengan penderitaan orang-orang Ahmadi, tetapi tak memberikan gambaran yang jelas mengenai Ahmadiyah. Kita dipaksa untuk ‘membaca’ Ahmadiyah hanya lewat kacamata kemanusiaan dan hukum. Soal Ahmadiyah itu apa dan bagaimana bisa dianggap sesat, jangan cari jawabannya di novel ini.

Penulis mengajukan protes atas apa yang terjadi pada para Ahmadi tanpa membahas perihal Ahmadiyah itu sendiri. Di mata saya, ini membuat Maryam tak ubahnya seperti sebuah gugatan yang masih mengambang.

Saya sebagai pembaca yang neriman sih santai saja, walaupun agak menyayangkan juga kenapa perihal Ahmadiyah tak dijelaskan dengan detail. Padahal, jika penghayatan dan empati yang diharapkan dari membaca buku ini, detail-detail semacam itu bisa sangat membantu.

Pada novel ini, beberapa ciri Ahmadiyah diceritakan sekilas-sekilas. Seperti foto Ghulam Ahmad yang ditempel di dinding, orang-orang Ahmadiyah yang selalu sholat Jumat sendiri, tidak mau berbaur dengan jamaah Islam yang lain. Punya masjid sendiri, yang jika didatangi dan dipakai oleh orang non-Ahmadi, pengurus masjid akan langsung membasuhnya dengan air (halaman 65). Sudah banyak orang yang mengetahui bahwa kelompok Ahmadiyah memiliki kebiasaan semacam ini. Saya termasuk yang sudah tahu dan sebenarnya ingin tahu kenapa ada kebiasaan seperti itu. Menceritakannya secara sekilas justru memperlihatkan eksklusivitas Ahmadiyah. Dan tak adanya penjelasan malah membuat eksklusivitas itu terlihat seperti kesombongan.

Bukan berarti saya ingin Okky menunjukkan kecondongannya terhadap Ahmadiyah pada novel ini. Juga tak meminta penjelasan: Jadinya Ahmadiyah itu sesat atau enggak? Saya juga tak akan teriak-teriak propaganda kalau dalam buku ini Ahmadiyah ditunjukkan sebagai aliran Islam yang tidak sesat. Kalau itu yang terjadi, saya justru akan terkesima dengan novel ini. Karena novel ini bisa membuat saya mengintip sedikit saja tentang keyakinan orang-orang Ahmadiyah. Setidaknya, pembaca punya pengetahuan mengenai seperti apa Ahmadiyah dari dalam, dan empati bisa tumbuh lebih subur dari sana.

Konflik yang melatar belakangi pengusiran kelompok Ahmadiyah juga tidak ditelisik dengan detail. padahal di awal cerita sudah dijelaskan bahwa perbedaan “Islam” di masyarakat tak membawa masalah. Sampai kuliah, Maryam dan keluarganya aman dan hidup rukun dengan tetangganya. Maryam hanya merasa terancam ketika ada kata ‘sesat’ dalam buku pelajarannya terkait Ahmadiyah. Guru dan teman-temannya bersikap biasa saja. Masyarakat Gerupuk juga diceritakan sudah tahu bahwa “Islam” keluarga Maryam berbeda, tetapi mereka tak bersikap aneh-aneh, apalagi sampai mengusir. Masalah pengusiran terjadi tiba-tiba saja, serentak di beberapa daerah di Lombok.

Terkadang konflik dalam masyarakat yang melibatkan kelompok tertentu tidak hanya dipicu masalah keyakinan dan cap ‘aliran sesat’. Seringnya konflik semacam ini tercampur dengan masalah politis setempat, ekonomi, atau sentimen-sentimen lainnya. Hal tersembunyi seperti ini yang tak ada dalam Maryam. Padahal dalam percakapan salah satu tokohnya sudah disebutkan bahwa pengusiran dan kekerasan semacam ini terjadi tiba-tiba, tak biasanya, seolah ada yang memang sengaja menghasut. Tapi berhenti sampai di situ, tak ada upaya untuk menggalinya lebih lanjut.

Saya yakin, dengan latar belakang pekerjaannya, Okky bukannya tak tahu hal-hal semacam ini. Tapi ya, sekali lagi penulis telah menetapkan batasan-batasan dalam novelnya. Itu jarak yang sudah ditetapkan oleh penulis untuk pembaca Maryam. Jadi, marilah kita hargai dan hormati bingkai yang sudah susah payah diatur dengan banyak pertimbangan oleh Okky Madasari ini.

#2 Tokoh utama yang tidak simpatik

Sejujurnya, saya tidak bisa bersimpati pada Maryam. Bahkan ketika melihatnya sebagai salah satu orang Ahmadi yang terusir di beberapa bab akhir novel ini. Meski Maryam terlahir dan dibesarkan sebagai seorang Ahmadi dan menjadi Ahmadi yang taat hingga lulus kuliah, tetapi sejak awal novel ini saya melihat Maryam sebagai orang luar.

Maryam memang dibesarkan sebagai seorang Ahmadi, tapi kemudian memutuskan untuk menjadi non-Ahmadi saat menikah dengan Alam. Selanjutnya setelah bercerai Maryam ingin kembali pada keluarganya. Perkara iman, sebagai Ahmadi atau bukan, Maryam masih mengambang. Dia hanya kembali untuk menjadi bagian dari keluarganya yang Ahmadi, meski begitu Maryam sendiri diceritakan tak ingin kembali sebagai seorang Ahmadi. Maryam kembali bukan karena imannya, melainkan karena keluarganya (halaman 77 – 78).

Angst yang ditunjukkan Maryam pun terkadang saya rasa berlebihan. Seperti ketika dia tiba-tiba saja marah berkepanjangan saat melihat seorang dukun cabul akan dibakar massa (halaman 178). Maryam membandingkan aksi massa untuk membakar dukun cabul itu dengan pengusiran keluarganya. Saya pikir ini agak aneh. Walaupun kedua persitiwa itu sama-sama mengandung kekerasan dan main hakim sendiri oleh warga, serta adanya kemungkinan fitnah terhadap orang yang tak bersalah, bagaimana bisa Maryam menyamakan keluarganya dengan seorang dukun cabul?

Pemilihan Maryam sebagai tokoh utama oleh penulis juga menjadi pertanyaan besar bagi saya. Kenapa harus Maryam?

Novel ini bercerita tentang orang yang terusir karena imannya, sementara Maryam bukan seorang Ahmadi yang taat. Sejak menikah dengan Alam dan setelah bercerai, Maryam sudah kehilangan imannya sebagai Ahmadi. Selain itu, Maryam tak merasakan pengusiran pertama yang terjadi pada keluarganya. Maryam tak merasakan sendiri penderitaan keluarganya yang diusir oleh warga dan disebut sesat. Dia hanya tahu dari cerita orang-orang lain yang bukan keluarganya.

Pada saat pengusiran yang kedua pun, Maryam tak secara total terkena imbasnya. Saat orang tuanya beserta puluhan keluarga tinggal di pengungsian, Maryam masih bisa pulang bersama Umar dan ibu mertuanya. Dia masih punya tempat bernaung dan mengirimkan bantuan ke tempat pengungsian. For note, Mandalika tidak murni lahir di pengungsian sebab Maryam toh tak harus tinggal di pengungsian dengan berbagai fasilitas yang terbatas.

Di sisi lain, saya justru tertarik dengan Fatimah, adik Maryam. Fatimah menjadi saksi mata dari dua kali pengusiran yang dilakukan warga pada keluarganya. Pertama di Gerupuk saat dia remaja, dan kedua di Gegerung. Dia yang tahu rasanya diusir dari tanah kelahiran dan rumah, serta dituding-tuding sesat oleh warga. Dia harus meneruskan sekolah SMA sambil hidup di pengungsian. Fatimah juga mengalami penindasan di sekolah oleh guru agamanya. Nilai raportnya lima untuk mata pelajaran Agama, dan diluluskan dengan nilai minimal enam. Fatimah juga yang tahu bagaimana pergolakan batin yang terjadi di keluarganya ketika kakaknya memutuskan pergi. Bagaimana kesedihan yang dialami ayah dan ibunya dan bagaimana dia sering menangis karena merindukan Maryam. Kemudian, di akhir cerita Fatimah ternyata menikahi seorang non-Ahmadi dan masih bisa hidup rukun dengan suami dan keluarganya. Bukankah sisi cerita ini juga menarik untuk dibaca? Fatimah, menurut hemat saya, bisa menjadi tokoh yang lebih simpatik dan memikat pembaca.

Tapi, kembali lagi ke poin pertama, saya rasa pemilihan Maryam sebagai tokoh utama telah dipikirkan Okky dengan matang. Maryam sendiri berperan sebagai sebuah batasan atas cerita ini. Penulis memilih tokoh yang berjarak. Yang mengalami sekaligus tidak mengalami. Yang Ahmadi, tapi juga sekaligus tidak Ahmadi. Entah kenapa, barangkali ini berkaitan dengan netralitas tulisan dan tokoh utama.

Melalui novel ini, penulis seolah ingin berkata: “Saya nggak peduli Ahmadiyah itu seperti apa, atau apakah Ahmadiyah itu aliran sesat atau bukan. Yang jelas orang-orang Ahmadi sudah diperlakukan tidak adil dan mengalami penindasan. Secara kemanusiaan dan hukum, ini tidak benar.”

Sebagai pembaca saya hanya bisa manggut-manggut. Sambil menyimpan harap, barangkali suatu hari nanti saya bisa menemukan sebuah novel tentang seorang Ahmadi yang berjudul “Fatimah” :p

– S –

NB: Saya sangat suka covernya, tapi entah kenapa tak mencerminkan sosok “Maryam”

3 thoughts on “Maryam: Sebuah Gugatan yang Mengambang

  1. Reviewnya keren! Ulasan yang padat dan berisi, tapi lengkap. Mungkin benar apa yang Mbak sampaikan kalau Okky cuma menjadikan Ahmadi sebagai “baju” saja untuk konflik antarmanusia yang digambarkan dalam novel ini. Pun ketika ia memutuskan menjadikan Ahmadi sebagai “isi”, maka judul novel ini boleh jadi adalah “Fatimah”.
    Saya selalu suka membaca tulisanmu, keren banget gitu :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s