Entrok, Kisah Dua Perempuan Dalam Tumpukan Isu dan Ambisi

Entrok adalah BH, kutang, kain yang digunakan perempuan untuk menutup payudara mereka. Tapi novel ini bukan semata tentang entrok. Di dalamnya ada cerita dua perempuan beda generasi yang dibumbui berbagai isu, mulai dari feminisme, opresi tentara dan pemerintah, hingga PKI.

Cover Novel Entrok karya Okky Madasari (pict credit @ksilananda)
Cover Novel Entrok karya Okky Madasari (pict credit @ksilananda)

Judul buku: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, Maret 2015
ISBN: 978-979-22-5589-8
Dimensi: 288 halaman, 20 cm
Desain sampul: Restu Ratnaningtyas

== WARNING ==
THIS REVIEW CONTAIN LOTS OF SPOILER

Setelah beberapa bulan diperam, dibaca ulang, dicoret-coret ulang, dan lain sebagainya… akhirnya ditulis juga review buku ini di blog. Entrok menarik minat saya karena dua alasan: 1) Judulnya yang singkat dan bikin penasaran, 2) Ini adalah novel pertama Okky Madasari, pemenang Khatulistiwa Literary Awards 2012. Semakin lama saya semakin tertarik untuk mengamati novel-novel dari penulis perempuan Indonesia dan sepertinya Entrok adalah pembuka yang tepat untuk mulai berkenalan dengan karya seorang Okky Madasari🙂

Baiklah, mari mulai dengan gambaran singkat tentang buku ini.

Novel ini bercerita tentang Sumarni dan Rahayu, pasangan ibu-anak yang sangat bertolak belakang dan semakin asing dengan satu sama lain. Sumarni (selanjutnya disebut Marni), seorang perempuan Jawa asal Desa Singget yang masih hidup dengan berbagai tradisinya, termasuk menyembah para leluhur. Marni seorang perempuan tangguh yang bersedia bekerja keras demi bertahan hidup. Apapun akan dilakukannya selama tidak menipu, membunuh, dan mencuri. Semua demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi Rahayu, anaknya.

Sementara itu di lain sisi Rahayu adalah anak yang lahir dari generasi baru dan sudah mengenyam bangku sekolah. Di sana dia diajarkan mengenal Tuhan yang ternyata sangat berbeda dengan apa yang dianut oleh ibunya. Di mata Rahayu, ibunya adalah orang yang sesat. Di mata Marni, Rahayu adalah anak yang tak punya hati.

Tapi Entrok bukan hanya tentang perbedaan sudut pandang dua generasi. Novel ini menyuguhkan lebih dari itu. Di dalamnya terdapat berbagai isu yang saling tumpang tindih, menyelimuti kisah hidup Marni dan Rahayu. Mulai dari isu feminisme, sosial budaya, opresi tentara dan pemerintah pada masa itu, PKI, Pemilu, Petrus, dan lain sebagainya. Dengan mengambil setting Desa Singget dan Yogyakarta pada tahun 1950 – 1994, tak aneh bila ada banyak konflik sosial yang tercatat dalam Entrok.

Dua Perempuan, Dua Generasi, Dua Sudut Pandang

Jangan tertipu, meski judulnya Entrok, buku ini tak akan terlalu banyak bicara tentang entrok. Tapi jika boleh dikatakan, semua ini memang berawal dari keinginan Marni untuk membeli entrok. Entrok adalah sebutan untuk BH, kutang, kain yang dipakai perempuan untuk menutupi payudara mereka. Ketika mulai tumbuh dewasa dan mendapatkan haid pertamanya, Marni terobsesi untuk membeli entrok demi menutupi payudaranya yang ‘mringkili’. Tapi entrok saat itu adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Hal inilah yang membuat Marni bekerja keras agar bisa membeli entrok. Dari obsesinya itu, Marni mulai banyak berpikir dan mengalami sendiri kehidupan sebagai perempuan yang masih dianggap lemah dan lebih rendah dari lelaki.

Marni pun berjuang demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dia tak ingin anaknya harus menjalani hidup kekurangan seperti dirinya atau menjadi kuli seperti bapaknya. Usaha ini terbukti berhasil karena Rahayu, anaknya, menjadi generasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan tak perlu khawatir tentang uang. Rahayu bisa bersekolah dan mendapat pendidikan yang layak. Namun justru di situlah masalah mulai muncul.

Rahayu yang dibesarkan dalam era berbeda memiliki sudut pandang dan cara berpikirnya sendiri. Dia sudah diajar tentang tuhan, tentang menyembah Gusti Allah dan bukannya menyembah leluhur atau Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Rahayu semakin membenci ibunya ketika segala tradisi yang dilakukan oleh sang ibu membuatnya dituduh memelihara tuyul dan jadi bulan-bulanan di sekolah. Cara berpikir Rahayu semakin jauh bertolak belakang dengan ibunya ketika dia merantau untuk kuliah di Yogyakarta.

Kisah Marni dan Rahayu disajikan menggunakan sudut pandang orang pertama ‘aku’ yang bagus dan lancar. Menurut saya cara penceritaan ini memang sangat cocok untuk bisa mengajak pembaca merasakan apa yang dialami oleh tokoh-tokohnya sekaligus memahami cara berpikir si tokoh. Apalagi dalam Entrok, kedua tokoh utama ini memiliki pandangan dan cara berpikir yang berbeda.

Sayangnya, penggunaan sudut pandang orang pertama ‘aku’ biasanya membuat banyak penulis terpeleset menggunakan mulut tokoh-tokohnya untuk mengungkapkan opini penulis sendiri. Selain terpeleset dengan meminjam mulut tokoh sebagai corong opini penulis, penggunaan sudut pandang pertama ‘aku’ yang digunakan untuk dua tokoh berbeda juga seringkali menyebabkan jumping. Dengan sudut pandang ‘aku’ seharusnya tokoh yang satu tak akan mengetahui perasaan dan pemikiran tokoh lain, juga apa yang terjadi pada tokoh ‘aku’ lainnya ketika dia tak ada di sana. Tapi di novel ini, seringkali Rahayu sebagai ‘aku’ menceritakan perasaan dan pemikiran ibunya. Bahkan bisa bercerita tentang apa yang dialami ibunya dengan detail sementara dia tidak ada di sana.

Contohnya pada halaman 76, ketika Marni dan suaminya berada di Koramil untuk menemui Komandan Sumadi. Rahayu bisa bercerita dengan sangat detail apa yang terjadi pada ibu dan ayahnya di sana, sementara dia sendiri sedang tak berada di sana. Bagaimana bisa?

Penulis juga sempat ‘terpeleset’ ketika stereotip tentang Cina yang baik muncul di halaman 112. Sejak awal cerita tak dikisahkan ada warga keturunan Tionghoa yang bersikap buruk atau jahat pada Marni. Tetapi tiba-tiba saja di halaman itu Marni bisa menyebutkan konsep ‘Cina yang baik’. Memangnya sudah berapa banyak orang Cina yang Marni kenal, dan berapa banyak yang tak baik.

Feminisme dalam Entrok

Seperti penulis perempuan lainnya, tak mengagetkan ketika Okky Madasari juga mengangkat isu tentang perempuan dan feminisme dalam novel ini. Berbagai gambaran tentang penindasan terhadap perempuan, tokoh-tokoh perempuan yang diperlakukan tak adil, dipersalahkan, diselingkuhi, dianggap rendah, dan harus selalu tunduk pada laki-laki banyak bertebaran dalam Entrok.

Coba cek halaman 18, 26 – 29, 34, 46, 114 – 115, dan 240. Kalian akan menemukan beberapa contoh kekerasan pada perempuan, seperti istri yang masih sering dipukuli oleh suami meski sudah bekerja keras mencari makan. Istri yang diselingkuhi, tapi ternyata masih bertekuk lutut juga di hadapan suaminya. Perempuan yang menyalahkan diri sendiri ketika suami mereka berselingkuh dan lebih memilih kawin dengan kledek atau penari.

Di mata Marni, perempuan pada zamannya selalu kalah dari lelaki. Ketika para suami berselingkuh, itu adalah kesalahan perempuan karena tak bisa memuaskan hasrat seksual lelakinya. Ketika sang suami selingkuh, si perempuan justru akan menyalahkan perempuan lain sebagai perebut suami, alih-alih menyalahkan lelakinya. Perempuan digambarkan begitu pasrahnya dalam rengkuhan suami mereka.

Tapi Marni berbeda. Melalui Marni, Okky mencoba mendobrak gambaran perempuan yang lemah, yang bertekuk lutut pada suami, dan tak bisa berbuat apa-apa. Marni ditunjukkan sebagai perempuan kuat yang bisa menghidupi dirinya sendiri melalui kerja keras. Dalam kesehariannya, dia bahkan tak membutuhkan Teja untuk mengatur bisnis dan perputaran uangnya. Karena Teja digambarkan sebagai suami yang pasif, tak mengerti cara mencari uang, dan hanya tahu cara bersenang-senang dengan kledek.

Cara Okky menggambarkan feminisme melalui Marni sering saya jumpai pada novel perempuan penulis lainnya yang juga mengangkat isu perempuan dan feminisme. Dan inilah yang memunculkan pertanyaan dalam benak saya: Kenapa untuk mengangkat derajat perempuan, feminisme harus digambarkan dengan ekstrem? Tokoh Marni dibuat menjadi sangat kuat dan dominan, seolah untuk membalas dominasi para lelaki yang ada di lingkungannya. Marni digambarkan tak butuh pria, dan bahkan tak menikmati seks dengan suaminya sendiri.

Adegan Marni tak menikmati seks dengan Teja adalah salah satu yang membuat dahi saya berkernyit. Alasan Marni tak menyukai berhubungan badan dengan Teja seperti dibuat-buat karena sejak awal Marni diperlihatkan menyukai Teja.

“Sorot mata Teja mengantarkanku ke kerajaan yang indah, megah, dikelilingi taman bunga.” (halaman 41)

“Kutinggalkan Teja yang masih berdiri di tempatnya. Entah apa yang masih dipikirkannya. Sekarang malah aku terus memikirkannya… Diam-diam sebenarnya aku suka padanya.” (halaman 44)

Marni memang memiliki sedikit kebencian pada Teja. Tapi bukan karena tak menyukainya. Alasannya adalah karena materi. Marni ragu untuk menikah karena takut tak bisa memenuhi kebutuhannya. Marni takut kawin karena takut sengsara. Alasan materi seharusnya tak bisa dijadikan sebab mengapa Marni tak menikmati berhubungan seksual dengan Teja suaminya.

Saya curiga hal ini dipaksakan penulis demi menunjukkan sisi feminisme Marni. Hal-hal yang dibutuhkan perempuan dari laki-laki, seperti seks, mengalami penurunan nilai -jika tak dihilangkan sama sekali-. Seperti Marni yang menolak menikmati seks bersama Teja. Dari sudut pandang Marni, peran pria menjadi sangat sedikit dan kecil sehingga perempuan bisa hidup tanpa pria jika mereka mau. Pria digambarkan sebagai sosok yang lemah, bodoh, hanya mengandalkan otot, dan hanya peduli pada hal-hal yang berkaitan dengan nafsu dan urusan selangkangan.

Uniknya, sosok Marni yang kuat dan seolah tak butuh pria justru ‘terbanting’ oleh sosok Rahayu. Sebagai perempuan, anaknya itu justru rela dijadikan istri kedua dan bahkan akan menjadi istri keempat dari seorang kiai. Rahayu yang ‘agamis’ melihat lelaki sebagai pemimpin dan perempuan sebagai pengikut. Dia lebih mudah kagum dan takluk pada lelaki yang menurutnya bisa dijadikan panutan.

Opresi dan Kekerasan

Saya tak ingin protes terhadap cara Okky Madasari menggambarkan opresi dan kekerasan dalam Entrok. Okky menceritakan opresi pemerintah, pemerasan, dan kekerasan pada masyarakat bersama segala detailnya dengan sangat baik. Saya cuma ingin berbagi pendapat perihal kekerasan dalam kasus Kentut Kali Manggis.

Pada bab Kentut Kali Manggis diceritakan beberapa tukang becak yang disiksa oleh tentara karena tak sengaja kentut ketika diusir. Tukang becak itu direndam di sungai pada malam hari yang dingin, ditampar, dan dipukul saat melawan. Iya, dilihat dari manapun adegan ini penuh kekerasan dan tidak manusiawi. Tapi menurut saya penulis lupa untuk menempatkan konteks kekerasan itu pada zamannya.

Bangsa kita konon adalah bangsa yang keras dan memang penuh kekerasan dalam praktiknya. Ayah saya bercerita bahwa pada masanya, jika ada hansip yang mangkir dari tugas jaga, keesokan harinya mereka juga akan dihukum dengan direndam dalam sungai pada malam hari. Jangankan ditabok tentara, ibu saya saja pada masa kecil dan remajanya kenyang dipukuli rotan oleh kakek saya hanya karena kesalahan sepele.

Jadi saya berpikir bahwa urusan ditampar, dipukul, dan direndam dalam sungai yang terjadi di Kali Manggis bukanlah peristiwa yang luar biasa hingga bisa membangkitkan amarah warga dan memicu terjadinya demo.

Tumpukan Isu dalam Entrok

Dalam hal pengangkatan isu sosial, Entrok adalah novel yang kaya. Saya mengacungkan dua jempol untuk upaya penulis menyelipkan banyak isu dalam Entrok. Mulai dari Pemilu, warga yang dituduh menjadi PKI, aksi Petrus yang membawa banyak korban tak dikenal, peristiwa Waduk Kedungombo, KB, dan lainnya. Isu-isu sosial dan konflik dalam buku ini sungguh banyak hingga membuat saya terengah-engah di halaman 133.

Iya, isu yang saling tumpang tindih membuat buku ini menjadi berat. Pasalnya, masing-masing isu itu sendiri bukanlah isu yang enteng. Satu isu yang konsisten adalah mengenai opresi dari pemerintah dan kekerasan. Tapi selebihnya hanya diceritakan sekelebatan dalam hidup si tokoh. Saya jadi sering kehilangan fokus karena mengira bahwa isu-isu tersebut akan ada kelanjutannya dalam kehidupan si tokoh.

Saya berpikir barangkali ini dilatari oleh pengetahuan penulis yang sangat banyak tentang peristiwa-peristiwa tersebut. Saya seperti melihat ambisi penulis untuk memasukkan pengetahuannya mengenai latar tempat dan waktu hidup si tokoh, dan berusaha memampatkan semua isu itu sekaligus dalam novel Entrok. Yah, upayanya memampatkan isu dan memasukkannya memang berhasil, tapi eksekusinya membuat saya sebagai pembaca merasa bahwa banyaknya isu yang hanya dibahas sekelebat-kelebat itu membuat novel ini jadi sedikit melelahkan.

Bagaimanapun, Entrok adalah salah satu buku bagus yang sebaiknya dibaca oleh anak-anak muda. Entrok bisa menjadi pemicu yang membuat pembaca tertarik untuk kembali mengulik tentang apa yang terjadi di Indonesia pada rentang waktu 1950 – 1999. Novel ini bisa memunculkan banyak pertanyaan dan membuat anak muda menggali sejarah indonesia sekali lagi. Ada hal yang belum selesai, dan lebih banyak lagi yang harus diurai dari sejarah bangsa ini.

– S –

9 thoughts on “Entrok, Kisah Dua Perempuan Dalam Tumpukan Isu dan Ambisi

    1. belilaah…😀
      tapi stok di Gramed Malang kayaknya udah tipis, di Matos malah udah sold out tinggal Maryam aja bukunya Okky.. coba cek di Gramed Basra atau pesen aja di web-nya, hehe..

  1. Mungkin Okky kepingin memberikan sebuah dunia bagi tokoh dalam bukunya. Dunia yang lengkap, yang berputar, berdinamika sebagaimana dunia tempat kita berada, sehingga isu yang ditampilkan agak bertumpuk, beberapa kejadian kadang tidak bisa dicerna akal sehat seperti orang yang bisa tahu situasi padahal tidak ada di sana :hehe.
    Review ini bagi saya menyeramkan karena lengkap dan sangat kritis. Keren sekali :hehe. Sebagai (orang yang mengaku) penulis, belajar dari bagaimana tanggapan orang terhadap hasil karya penulis lain membuat saya jadi tahu bagaimana berimajinasi dalam marka logika yang putus-putus, kayak jalan yang lurus :)). Terima kasih ya :hehe.

    1. Iya, isu yang numpuk itu bisa jadi karena setting waktunya juga panjang, antara 1950 – 1999, konflik pada rentang waktu itu emang banyak sih, hehe.. review gini kok dibilang serem sih? bagian mananya? :))
      terima kasih juga ya Gara🙂

      1. Bagi saya secara keseluruhan ini menyeramkan, tidak tahu kesannya hebat banget Mbak review-nya :hehe. Yep, sama-sama :hihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s