Jawaban Singkat Buat Pak Ustadz

tweet FS

“Bila wanita habiskan untuk anaknya 3 jam sedangkan kantor 8 jam, lebih layak disebut ibu ataukah karyawan? :D”
– Felix Siauw –

Sebenarnya itu tweet lama, dari tanggal 28 Mei 2013, tapi saya baru baca tadi dari salah satu postingan di Facebook. Dan saya tersenyum membacanya. Saya ingat ibu saya, dan sebuah cerita yang beberapa bulan lalu saya dengar dari ayah.

Ibu saya bekerja sebagai guru sejak muda, sejak beliau belum menikah hingga sekarang. Waktu kecil, saya sudah sering ditinggal bekerja dan dititipkan di rumah nenek. Ketika saya sudah masuk usia sekolah, ibu bekerja dari pukul tujuh pagi sampai jam lima sore. Itu masih mending… dari cerita ayah, dulu waktu saya masih bayi, ibu bahkan bekerja di tiga tempat sekaligus.

Sampai sini, Pak Ustadz jangan buru-buru merasa kasihan pada saya sebagai anak yang ditinggal-tinggal ibunya kerja. Karena seharusnya, Pak Ustadz lebih kasihan pada ibu saya. Karena ketika itu, di awal-awal pernikahan yang masih serba susah, ibu saya harus bekerja keras, berpindah-pindah mengajar di tiga sekolah yang berbeda, untuk menghidupi saya dan keluarganya.

Saya kutipkan cerita ayah saya waktu itu, yang masih menempel kuat di ingatan saya:

“Bisa kamu bayangkan betapa capeknya ibumu itu, harus bolak-balik dari SD, SMP, SMA, setiap hari. Tapi setiap dia pulang dan menyusuimu, dia sama sekali tidak terlihat lelah. Dia akan terlihat bersemangat lagi. Karena kamu adalah sumber penghiburan dan kekuatannya. Dan dia tahu, semua yang dia lakukan itu demi kamu, demi keluarganya.”

Saya cuma bisa tersenyum sambil menahan haru, soalnya malu kalo mewek di depan ayah. Lalu saya bayangkan kalau ibu saya baca pertanyaan Pak Ustadz di atas. Apa ndak sedih ibu saya?

Pak Ustadz, ibu saya memang menghabiskan banyak waktunya di sekolah. Mengurus, mengajar, mendidik anak-anak orang lain. Tapi saya yakin, tak ada sedetik pun yang terlewatkan dalam hidupnya, di mana beliau tak memikirkan anaknya.

Dan untuk itu, Pak Ustadz… ibu saya lebih dari layak untuk disebut sebagai ibu.. tanpa walaupun, tanpa meski atau tetapi🙂

– S –

PS: Selamat untuk semua ibu di dunia. Kalian semua hebat. Sudah jangan berdebat soal ibu bekerja, tidak bekerja, soal melahirkan normal, caesar, mengadopsi anak, atau IVF, soal ASI ekslusif atau dibantu sufor. Setiap ibu berbeda. Setiap ibu istimewa🙂

31 thoughts on “Jawaban Singkat Buat Pak Ustadz

  1. SETUJU🙂

    Tweet-kan wae ke Pak Ustadznya, Mbak🙂

    Tapi perlu diingat. Bahwa isu yang dibawa Pak Ustadz pun bener. Karena jaman sekarang banyak juga ibu-ibu yang cuma ngejar karir tapi ga peduli suami ama anak. Ga heran kalau isu perceraian jadi semakin sering terdengar kan🙂

    Kalau bisa karir + keluarga imbang semua mah super dah. Aku juga mau jadi ibu yg sanggup kayak gitu🙂 Kaya ibunya Mbak

    Cheers

  2. Hi mba. Salam ya buat ibunya mba yg super duper keren. Ibu saya pun begitu..🙂 Saya setuju mba, bahwa setiap ibu berbeda. Setiap ibu istimewa. In Syaa Allah mba, ibu yg super duper keren seperti ibunya mba dan ibu saya tidak akan sedih jika membaca postingan pak ustadz, karna memang, itu bukan ditujukan untuk para ibu yg masih, dan selalu menyadari perannya sbg seorang ibu..🙂
    Wallahu alam..

  3. Andai para laki2 bisa memenuhi semua kebutuhan keluarganya..
    Nggak males waktu muda..
    Nggak foya waktu muda..
    Nggak Membuang waktu percuma..
    Biar kebutuhan ekonomi mapan ketika berkeluarga..
    Biar nggak mikirin cicilan dan hutang dimana2..

    Yang sdh terlanjur, ayo didik anak kita supaya berguna..
    Agar kelak tak perlu sprt kita..
    Biar para ibu bisa lebih banyak waktu dgn anaknya..
    Karena setiap ibu istimewa..

  4. Nafkah kn tanggung jawab suami.. Sebelum menginjak pernikahan. Harus dipikir dahulu matang2 mengenai lehidupan mendatang.
    Brani berbuat brani bertangung jawab

  5. Mungkin yang dimaksud beda konteksnya.
    Bisa dibedakan antara benar benar membutuhkan atau mengejar kepuasan diri sendiri.

    Ada benarnya juga kalau yg dimaksud seperti yang sering terjadi sekarang, dimana demi keinginan atau ambisi diri sendiri, rela meninggalkan keluarga, padahal kebutuhannya sudah tercukupi.

    Ya, semua orang butuh mengaktualisasikan dirinya.
    Bagusnya seimbangkan. Ekonomi terpenuhi, keluarga, dan kita sendiri.

  6. pulang kantor jam 7 malem, 3 jam sama anak2 sampe jam 10 malem, cukup sih… eh tp suami berapa jam??
    yang pasti kalo ngantor, capek gk bsa ngebagi waktu buat suami dan anak2, jadi istri mending diem di rumah aja, kalau mau uang extra, dagang dirumah kek..😀

  7. Buat pak ustadz gak semua ekonomi ibu2 di indonesia mungkin seperti ibu/istri pak ustadz yg berkecukupan , mereka bgtu jg u/anak nya tercinta agar anaknya bisa minum susu dan makan dengan teratur .

  8. saya setuju mba….
    ini beda bidikan. Yang ust Felix maksud itu adalah ibu2 yang memntingkan karir. kalo menurut saya kalo jadi guru waktunya masih agak banyak dan biasanya justru profesi guru itu ibu2nya banyak yg masih peduli dengan anak2nya yang pengalamannya hampir sama.
    sayapun seorang guru, sebenernya suami saya pun menginginkan saya menjadi ibu RT dan mendidik anak2nya dirumah tapi kenapa saya bersikeras tidak mau dan memberi banyak alasan untuk tetap menjadi guru. karena saya yakin saya bisa mendidik anak2 di sekoalh tp tidak lupa akan kodrat sebagai ibu nantinya. karena menjadi guru pun adalah jalan saya menuju surga, salah satu ladang amal kita di dunia. dan saya yakin ibu mba2 sekalian ini ibu hebat yang ga hanya hebat urus RT dan anak2 sebagai kodratnya tp juga hebat dalam menuai diladang pahala sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi mari kita berpositive thinking dengan semua pendapat orang lain. kadang jika kita memikirkannya pasti akan banyak pro kontra dan malah membuat kita ber su’udzon.
    slam juga untuk ibu hebatnya mba2 semua🙂

    1. Maka dari itu sang Ustdaz harus menulis secara tepat, tidak ambigu dan terkesan menghakimi. Di tulisan terlihat mengeneralisasi seluruh ibu2 bekerja di dunia, maka dari itu tulisan ini semacam pembelaan atas konteks yg seharusnya dikecualikan oleh cuitan sang Ustadz.

    2. Kelemahan dari tulisan ini ada 2 :

      1. Tulisan pak Ust Felix itu ada di Twitter, terbatas 180 karakter. Kalau memotong dari postingan nomor 22, mungkin tidak ditemukan makna sebenernya. Dan anggaplah posting nomor 22 ini adalah pokok pesan dalam status ini, maka Twitter tidak akan mampu menjelaskan karena 180 karakter tadi.

      2. Sama seperti konteks yang disampaikan sdr/i esa, perlu difahami konteksnya.

  9. Alhamdulillah, mba kita punya ibu yg super dirumah juga ditempat kerja, saya pun menjalankan peran seperti yg ibu saya lakukan, bekerja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai ibu dan istri. Memang masing2 kita pasti py latar blkg berbeda kenapa sp harus bekerja, yg ptg tugas dan kewajiban sbg istri tdk di kesampingkan

  10. Setiap wanita punya kisahnya masing-masing, punya masalahnya masing-masing. Ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, pasti ada pertimbangannya. Jangan suka nge-judge berdasarkan sudut pandang kita sendiri, apalagi kalau kitanya juga ga tahu masalah orang lain yang kita judge itu. Ya begini inilah jika sebuah fenomena sosial yang kompleks hanya dipandang sekilas dari sudut pandang yang sempit, jadinya malah debat kusir.

  11. Saya mau sharing pengalaman saya pribadi yg bekerja dr gadis dgn jumlah lama bekerja 19,5 tahun, posisi managerial level, akhirnya mengambil keputusan utk berhenti bekerja dgn pertimbangan yg cukup lama, terutama karena takut kehilangan pendapatan. Alhamdulillah saya diberi amanah 5 anak. Pada akhirnya karena tuntutan pekerjaan, waktu ketemu dgn anak sangat2 kurang. Sampai pada satu titik saya bertanya kepada diri sendiri, bekal apa yang saya berikan kepada anak2 dan apa pertanggungjawaban saya nanti pada saat penghisaban. Selain itu saya menghitung nilai potensi yang hilang dari masing2 anak dibandingkan dgn gaji yang saya terima yg menurut saya sangat besar. Saat ini saya baru 3 tahun berhenti bekerja, Alhamdulillah dengan perjuangan yg cukup berat, mendidik anak2 untuk berdisiplin dari hal2 yg sangat kecil dan remeh, sdh bisa konsisten dilakukan krn selama saya bekerja anak2 hanya dijagain pembantu dan pembantu jaman sekarang terlalu banyak cengkoneknya dan anak2 saya jg pernah dijahatin sama pembantu. Sampai sekarang masih ada rasa penyesalan krn saya bekerja dan saya ga tau diapain aja anak2 saya. Secara ekonomi, dengan kondisi ekonomi Indonesia yg seperti, walaupun agak sulit, tapi saya tetap bersyukur krn anak2 bisa mengerti dan tidak menuntut hal2 yg bersifat materialistis dan buat saya pribadi jg jadi lebih bisa menahan nafsu utk belanja. Jd saya berbelanja hny berdasarkan kebutuhan dan pada akhirnya secara sadar kita bisa melakukan penghematan dan menabung dan selalu bersyukur dengan rezeki yg saya terima krn suami wirausaha yg pendapatannya tidak tetap.

    Zaman sekarang berat sekali menjadi org tua krn banyak hal yg bisa merusak anak2 kita. Saya termasuk ibu yg paranoid terhadap kejadian2 yg terjadi pada anak2 baik anak kecil, remaja maupun yg sdh kuliah. Apalagi pada saat anak2 memasuki usia baligh. Dengan adanya kondisi seperti ini, saya bisa menjelaskan secara langsung, memberikan nasihat secara langsung, baik dari sisi agama maupun dari sisi sosial dan apa2 yg hrs dilakukan anak agar bisa terhindar dari pergaulan2 yg negatif dan dilakukan secara berulang-ulang.

    Saya pribadi sangat salut kepada ibu2 bekerja yg bisa membagi waktu dan mendidik anak2nya dengan baik.

    Salam hangat.

  12. Jd inget foto ujian anak sd. Ditampilkan foto seorang wanita sedang menggendong anak kecil. Pertanyaannya : gambar diatas menunjukan kasih sayang seorang….

    Jawabannya berupa pilihan ganda, kl ga salah pilihannya adlh A.ibu B.ayah C.pembantu
    Dan si anak memilih C.pembantu. Hal ini pernah dialami kakak sy. Anaknya nangis, dia gendong ttp ga mau diem. Tp bgitu pengasuhnya yg gendong, lsng diem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s