Semalam Gadis Itu Meledak

Semalam tadi, sehelai rasa nelangsa menelusup ke jantungnya tanpa bisa ditahan. Tiba-tiba saja. Mengitarinya seperti tali layangan putus membelit kabel listrik atau antena di atap rumah. Lalu terjadilah. Gadis itu meledak.

Ledakannya bukan seperti yang kau bayangkan. Sebab sejak kecil gadis itu punya jenis kemarahan yang kering. Kau tak akan menemukannya membentak, melempar piring, atau berguling-guling di lantai. Kau hanya akan mendapati muka yang dingin dan diam yang panjang.

Tapi malam ini berbeda. Ayah dan ibunya tak ada di rumah. Jadi dia putuskan untuk menangis saja. Menangis sesukanya, di mana saja, sambil melakukan apa saja.

Dia menangis sambil makan sup kacang merah. Sesekali dijauhkannya wajahnya dari piring dan mengelap hidung. Semata-mata agar ingus tak tercampur dengan makanannya. Tapi air matanya dibiarkan saja mengalir jatuh ke piring. Tak ada yang berbahaya dengan air mata, paling hanya akan menambah asin pada dendeng lapis yang sedang dimakannya.

Dia menangis sambil mencuci piring. Sesekali terisak. Sengaja isakan itu tak ditahannya, karena toh tak akan ada yang mendengar. Tetangga juga tak akan dengar karena suara isaknya tertimpa kericikan air yang mengalir dari keran.

Dia menangis sambil berjongkok di kamar mandi. Perutnya mulas. Dan di kamar mandi dia bebas menangis seperti halnya dia bebas menyanyi dengan suara sumbang dan tetap merasa seperti seorang diva.

Pokoknya dia menangis sampai puas. Meski heran juga bagaimana bisa dia menangis sebanyak itu, seolah air matanya tak bisa berhenti mengalir. Dia tetap menangis meski otaknya mempertanyakan tangisannya sendiri.

Iya, sebenarnya ada apa sampai dia harus menangis seperti itu, seolah-olah dia adalah orang paling malang sedunia. Tapi gadis itu sedang malas berpikir. Dia hanya menangis saja sampai puas. Biar, anggap saja ini memang sudah jadwalnya menangis.

Eh, ngomong-ngomong tentang jadwal, gadis itu teringat sesuatu. Segera dia mengecek kalender yang menempel di dinding kamarnya. Dan sesegera itu pulalah dia merasa konyol. Ternyata memang benar, ini sudah jadwalnya. Gadis itu mengelap mata dan hidungnya dengan sapu tangan ayahnya -karena tissue sudah dianggap tak ramah lingkungan-, sembari merutuk pelan.

“Hormon sialan.”

– S –
*ketika kalender dan hormon bersekongkol*

2 thoughts on “Semalam Gadis Itu Meledak

  1. Aku pernah nangis ga berhenti begitu, bener-bener bingung dapat kekuatan dari mana menghasilkan air mata sebanyak itu.
    Lucu ya kak Nan. *Kalo diinget-inget pas lagi ga nangis jadi lucu lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s